You Shouldn't Be Longing for Him/Her

Judul Artikel : Love, longing and obsession: Features, correlates, comorbidities, and real-time cognitive-affective dynamics of limerence
Penulis : Chloe Evans, Et al.
Tahun Terbit : 2026
Jurnal : Acta Psychologica
Diulas : Raihan Jihad K
Saya ingin memulai ulasan ini dengan kutipan dari buku Song of Solomon yang ditulis oleh Toni Morrison:
"You wanna fly, you got to give up the sh*t that weighs you down."
Ya, setiap orang pasti memiliki seseorang yang sangat berarti bagi mereka, baik itu orang tua, anak, pasangan, saudaran, maupun teman yang dapat menjadi alasan maupun dorongan dalam menjalani keseharian. Akan tetapi, bagaimana jika perasaan tersebut tertuju pada seseorang yang tidak memberikan kembali perasaan tersebut atau bahkan tidak dianggap dan justru menjadi beban?
Berbahayanya Limerence untuk mereka yang di sekitar
Kondisi ini dapat dideskripsikan dengan satu kata yaitu Limerence. Limerence sendiri memiliki arti kerinduan dan cinta yang obsesif, intrusif, dan memakan banyak energi untuk orang lain yang biasanya tidak menyadari status mereka. Hal ini berbeda dengan perasaan cinta konvensional yang berbalas, limerence tidak berbalas tetapi target perasaan limerence atau limerence object (LO) tidak menyadari status mereka. Perilaku limerence sendiri dapat berkorelasi dengan pemantauan media sosial seperti stalking hingga berfantasi secara berlebihan.
Parahanya, ketika limerence berada pada titik ekstrim, limerence dapat menyebabkan perilaku bermasalah serius seperti ,penguntit dan terjadinya kekerasan. Masalah utama dari limerence tersebut adalah tidak adanya timbal balik dari LO yang menyebabkan mereka yang terobsesi (LI) menjadi bergantung pada ilusi timbal balik melalui fantasi dan imajinasi yang fana. Kondisi ini menjadi bahan bakar bagi tindakan obsesi yang terus menerus. Oleh karena itu, penelitian ini membahas 2 topik penelitian yaitu bagaimana dinamika psikologis sehari-hari LO secara real time dan identifikasi karakteristik terjadinya kondisi limerence yang ada.
Is your friend undergoing limerence is mentally disordered?
Penelitian pertama yang dilakukan Evans berfokus pada studi kuantitatif yang fokus memetakan karakteristik dan mengukur tingkat keterikatan limerence dengan kondisi gangguan mental lainnya. Sample sebanyak 1647 peserta studi ini diambil melalui beberapa platform yang berbeda: 71% sample diambil dari platform online, 21% dari University of Sussex, dan sisanya diambil dari platform rekrutmen untuk penelitian akademik. Untuk mengungkap karakteristik tersebut penulis menggunakan beberapa pertanyaan kuesioner dibawah:
Status Limerence: Pada bagian ini partisipan mengkategorikan diri mereka sendiri kedalam 4 kelompok. Dari kelompok tersebut diambil 2 kelompok limerence dengan dampak negatif yaitu currently impairing limerence (CIL) dan previously impairing limerence (PIL).
Karakteristik Limerence: Pada bagian ini kelompok CIL dan PIL akan ditanya tentang riwayat hidup dan pola perilaku atau interaksi penderita limerence.
Skala Gejala Limerence: Skala dan pertanyaan yang digunakan mirip dengan pertanyaan skala pengukuran penyakit Obsessive-Compulsive Disorder (OCD). Skala ini berfungsi untuk mengetahui seberapa sulit penderita limerence untuk mengontrol dirinya sendiri.
Pengalaman Masa Kecil: Untuk menilai apakah intensitas trauma masa kecil menjadi faktor pemicu kondisi limerence, Peneliti menggunakan dummy question dalam menanyakan pengalaman tragis di masa lalu.
Attachment Styles: Kuesioner ini menanyakan bagaimana para peserta merespon hubungan mereka yang dinilai dengan skala likert untuk mengetahui apakah limerence didorong oleh anxious attachment style.
Keyakinan Obsesif Kompulsif: Pertanyaan dengan skala likert untuk mengukur 3 proses kognitif dan hubungannya sebagai bahan bakar kognitif seperti pada OCD.
Pengukuran Gangguan Jiwa (Komorbiditas Klinis): Dengan menggunakan skala medis psikologis, peneliti dapat mengetahui apakah pengidap limerence memenuhi kriteria diagnosis gangguan jiwa.
So… What do we do about it?
Dalam penelitian ini terdapat berbagai pendekatan statistik yang digunakan pada masing-masing pertanyaan berbeda. Uji statistik yang dilakukan antara lain:
Mulai dari identifikasi karakteristik
Anova satu arah antara variabel independen dengan variabel dependen yang dilanjut dengan perbandingan terkoreksi Bonferroni dan uji chi square
Uji korelasi bivariat maupun multiple linear regression.
The Final Verdict
Berdasarkan hasil temuan penelitian tersebut ditemukan bahwa kondisi mencintai seseorang tanpa balasan ini sering kali muncul ketika menginjak usia 17 tahun dan memiliki durasi mulai dari 18 bulan hingga yang terpanjang 6 tahun. Median dari responden yang ada menunjukkan bahwa setidaknya mereka pernah mengalami 4 kali kondisi limerence sepanjang hidupnya. Target perasaan ini pun tersebar secara merata, ada yang berasal dari sekedar teman, rekan kerja, seseorang yang disukai di masa lampau bahkan sekedar berkenalan, dimana sebesar 77% masih hingga saat ini, aktif berkomunikasi dengan objek limerence. Sangat disayangkan masih banyak terdapat orang yang terjebak dalam suatu hubungan padahal tidak mendapatkan timbal balik sama sekali.
Pengaruh Trauma Masa Kecil dan Attachment Issue

Figure 1.
Berdasarkan hasil statistik uji Anova terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok tentang jumlah trauma masa kecil, dimana kelompok yang menderita limerence yang menyebabkan perilaku negatif. Bisa dilihat pada grafik 1 bahwa nyaris pada semua kategori PIL dan CIL menempati urutan pertama dalam trauma masa lalu yang buruk. Hal ini juga terjadi pada tingkat dimensi ketertarikan seseorang dimana para penderita CIL dan PIL berdasarkan uji Anova memiliki tingkat avoidant dan kepercayaan diri yang jauh lebih rendah ketimbang 2 kategori lainnya.
Analisis Gangguan Kejiwaan

Figure 2.
Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa mean dari skor uji tes skala medis psikologis menunjukkan bahwa responden yang sedang mengalami CIL memiliki skor tertinggi pada keempat uji gangguan psikologis, mulai dari ketakutan, depresi, melamun dan rasa putus asa. Temuan pada grafik juga diperkuat dengan validasi dari uji Anova (P<0,001) pada keempat indikator tersebut. Para responden dengan CIL juga memiliki rata-rata diagnosis sebesar 3 dari 4 gangguan dan 42% mengidap keempat gangguan tersebut. walaupun, sifat dari tes psikologis tersebut susah untuk divalidasi dikarenakan sifat survei secara self diagnosis
Ketika seluruh variabel yang diukur dimasukkan dalam fungsi regresi ternyata model tersebut signifikan (p<0,001) dan dapat menjelaskan 25% variasi skor Limerence (R^2=0,25). Berdasarkan hasil regresi pada diagram 3 dapat dilihat bahwa rasa anxiety dan mengigau di siang hari menjadi salah satu indikator yang paling berkorelasi dengan adanya limerence.

Figure 3.
How do people with limerence act on a day to day basis?
Pada penelitian ke-2 ini, peneliti menggunakan metode Experience-Sampling Methodology dimana 51 sukarelawan yang sedang berada dalam fase limerence mengganggu (CIL) diberikan pertanyaan selama 7 hari dimana setiap harinya para responden akan diberikan 8 survei teks harian. Tautan survei tersebut dikirim secara acak dari jam 9 pagi hingga 10 malam. Hal ini digunakan untuk mengetahui “Apa yang sebenarnya terjadi di kepala orang yang sedang limerence, dari menit ke menit, saat mereka menjalani hari-hari biasa?” Dalam kuesioner terdapat 4 inti butir pertanyaan yang coba diketahui:
Apakah responden sedang memikirkan seseorang yang mereka sukai (LO) (ya/tidak).
Apa isi konten pikiran orang tersebut? (longing, daydreaming, hallucinating, etc.)
MDES (Multi-Dimensional Experience Sampling): 16 pertanyaan tentang karakteristik pikiran mereka itu sendiri.
Suasana hati yang saat ini dirasakan responden.
Result
Hasil dari penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa responden ketika diberikan pesan terdapat kemungkinan 50% bahwa mereka sedang memikirkan LO. Sebagai perbandingan tingkat melamun pada orang umum berada disekitar 30-50% sehingga angka tersebut masih normal terjadi.

Catatan. p < .01, *p < .001
Figure 4.
Pada Grafik deskriptif diatas hasil perbandingan suasana hati partisipan dengan multilevel mode, dapat dilihat bahwa responden justru lebih bahagia dan tenang ketika tidak memikirkan orang yang diinginkan. Kebalikannya, justru ketika responden memikirkan LO mereka cenderung cemas, sedih, dan merasa kesepian. Hal ini menunjukkan bahwa seseorang yang seharusnya membawa kebahagiaan justru membawa kesedihan bagi kita.
Analyzing what people with limerence thinking
16 pertanyaan MDES harian tadi kemudian diringkas menjadi beberapa kelompok yang bermakna dengan metode principal components analysis (PCA). Hasilnya MDES tersebut terbagi menjadi 5 komponen pemikiran dengan variasi berbeda dapat dijelaskan masing-masing komponen muncul pada momen MDES ditanyakan, yaitu:
Komponen 1, Fantasi intrusif-mengganggu (19,69%): pikiran yang muncul begitu saja, sulit dikendalikan, penuh khayalan, dan mengalihkan dari aktivitas. Ini komponen terbesar dan paling relevan dengan limerence.
Komponen 2, Pemikiran berorientasi tujuan masa depan (17,16%): pikiran soal masa depan, tujuan, dan diri sendiri.
Komponen 3 , Pikiran repetitif negatif (8,38%): pikiran negatif yang berulang, kurang detail, kurang menyerap perhatian.
Komponen 4, Verbalisasi sosial (6,87%): pikiran soal orang lain, berbentuk kata-kata (verbal, bukan gambar), dan tidak repetitif.
Komponen 5, Ruminasi negatif (6,36%): memikirkan sesuat atau seseorang secara terus menerus.

Figure 5.
Menggunakan pembagian ini penulis dapat membandingkan efek berfikir ketika subjek memikirkan Lo maupun tidak dan efeknya terhadap ke-5 pemikiran hasil PCA tersebut. Seperti pada diagram grafik dibawah ini

p < .05, **p < .001.
Figure 7
Dari hasil python thought space yang diubah dalam bentuk Z score, kita dapat melihat efek dari ketika penderita limerence berpikir tentang LO dan tidak. Dari grafik diatas Fantasi intuisi sangat berbeda jauh antara ketika memikirkan LO dan tidak. Tak hanya intuisi fantasi, pemikiran negatif lain seperti ruminitif negatif, verbalisasi sosial, pikiran negatif yang berulang. Hal ini menunjukkan sekali lagi, bahwa rasa cinta atau obsesi yang berlebihan justru memberikan dampak negatif bagi diri sendiri.
Refleksi Penulis
Menyimpan perasaan diam-diam pada seseorang adalah pengalaman yang hampir semua orang pernah rasakan. Ada kehangatan tersendiri ketika kita membayangkan percakapan yang belum terjadi, merancang skenario pertemuan di kepala, atau membaca ulang satu balasan pesan singkat berkali-kali. Namun, ketika bayangan itu tumbuh lebih besar daripada kenyataannya, dan kita mulai hidup dari fantasi alih-alih dari hubungan yang benar-benar ada, di situlah masalah mulai muncul. Ibarat seseorang yang tersesat di laut dan kehausan, lalu meminum air laut di sekelilingnya. Tegukan pertama terasa melegakan, seolah dahaganya terobati. Namun semakin banyak ia minum, semakin garam itu menarik cairan dari tubuhnya sendiri, dan semakin besar pula rasa hausnya. Ia bukan sedang menyembuhkan dahaga, melainkan sedang memperdalamnya dengan cara yang terasa seperti penyembuhan. Begitu pula fantasi dalam limerence: ia menghadirkan ilusi timbal balik yang sejenak menenangkan, tetapi justru menjadi bahan bakar yang memperbesar obsesi itu sendiri. Hal ini tercermin jelas pada hasil penelitian yang telah diulas, di mana melamun secara maladaptif menjadi prediktor terkuat keparahan limerence, dan momen-momen ketika responden sedang memikirkan LO justru diiringi rasa cemas, sedih, dan kesepian yang lebih tinggi, bukan kebahagiaan.
Pada akhirnya, kutipan Toni Morrison di awal ulasan ini menemukan maknanya: untuk bisa terbang, seseorang memang harus melepaskan hal-hal yang membebaninya. Termasuk, mungkin, seseorang yang selama ini hanya hidup di dalam kepala kita sendiri.
Artikel Asli
Evans, C., Panton, S. O., Strawson, W. H., Floyd, E., Kellett, S., & Poerio, G. L. (2026). Love, longing and obsession: Features, correlates, comorbidities, and real-time cognitive-affective dynamics of limerence. Acta Psychologica, 267, Article 107043. https://doi.org/10.1016/j.actpsy.2026.107043



Comments