Homo Economicus Has Feelings Too

Judul artikel: Associations Between Cognitive Appraisals and Emotions: A Meta-Analytic Review
Penulis: Gerard C. Yeo and Desmond C. Ong
Tahun terbit: 2024
Jurnal: Psychological Bulletin (SJR 8.496, H-Index 396)
Diulas oleh Mazya Alfi Shabrina Aminova
“I just finally know what I have to do. And I know in my heart that it’s right.”
-Tony Stark, Iron Man.
Tony Stark adalah seorang jenius. Ia juga sangat emosional. Sepanjang MCU, banyak keputusan Tony yang dipengaruhi oleh rasa takut, rasa bersalah, cinta, dan keterikatannya pada orang-orang yang ia sayangi. Namun, menjadi emosional tidak membuatnya menjadi kurang cerdas. Jika seorang jenius seperti Tony Stark dapat menjadi sangat cerdas sekaligus sangat emosional, mengapa kita masih sering menganggap emosi sebagai lawan dari rasionalitas?
Sebuah studi yang dilakukan oleh Yeo dan Ong mencoba untuk mengungkap darimana emosi berasal dan bagaimana proses berpikir di balik rasa yang dihasilkan oleh otak. Penelitian ini mengumpulkan ribuan studi lalu menghitung ulang semua datanya menjadi satu analisis statistik raksasa.
Dari Mana Emosi Berasal?
Selama puluhan tahun, para psikolog berdebat tentang dari mana emosi berasal. Salah satu teori yang paling populer berasal dari seorang ilmuwan psikologi amerika, Richard Lazarus, bernama Cognitive Appraisal Theory. Secara sederhana, Lazarus (1991) berargumen bahwa emosi bukan suatu reaksi otomatis terhadap suatu kejadian, melainkan sebuah hasil dari bagaimana otak menilai dan menginterpretasikan kejadian tersebut.
Masalahnya, selama 6 dekade, ratusan penelitian membahas soal ini dengan istilah dan metode yang berbeda. Oleh karena itu, penulis telah mengumpulkan 309 studi dari 6.050 laporan yang telah disaring ketat mengikuti standar PRISMA. Hasilnya adalah peta lengkap yang menunjukkan 47 cara berbeda orang menilai situasi (appraisal), dan bagaimana kombinasi penilaian itu memunculkan 63 emosi dan keadaan afektif yang berbeda. Beberapa contoh appraisal ditunjukkan dalam tabel 1.

Tabel 1. Dimensi appraisal yang ditemukan dalam analisis
Bagaimana Peneliti Mencari dan Menyeleksi Paper
Peneliti mencari studi di dua database, yaitu APA PsycInfo dan ProQuest Theses and Dissertations. Dua database tersebut merupakan database khusus untuk penelitian psikologi dan ilmu perilaku. PsycInfo merupakan database pengindeksan dan abstrak untuk literatur psikologi dan behavioral sciences. ProQuest merupakan database yang mengumpulkan berbagai jenis sumber akademik, termasuk tesis dan disertasi sehingga ia juga digunakan agar penelitian yang belum tentu diterbitkan dalam jurnal tetap bisa ditemukan.
Kata kunci yang digunakan adalah:
"apprais*" AND "emotion*"
Tanda * digunakan supaya pencarian bisa menangkap berbagai bentuk kata seperti appraisal - appraise, sehingga kemungkinan penelitian yang relevan terlewat menjadi lebih kecil. Peneliti tidak membatasi tahun publikasi karena penelitian ini merupakan meta-analisis pertama yang secara khusus memetakan hubungan appraisal dan emosi secara luas.
Pencarian dilakukan empat kali, yaitu pada Mei 2021, Januari 2023, September 2023, dan Januari 2024. Penelitian paling baru yang berhasil masuk dalam pencarian berasal dari Desember 2023.
Gambaran Umum Literatur yang Digunakan
Dari total 6.050 laporan potensial yang ditemukan melalui pencarian database, proses skrining bertahap akhirnya menyisakan 251 laporan yang berisi 309 studi independen, mencakup 2.634 effect size untuk menguji 853 hubungan appraisal–emosi spesifik. Sebagian besar laporan ini (76,5%, atau 192 laporan) dipublikasikan di jurnal, sedangkan sisanya (59 laporan) adalah disertasi yang belum dipublikasikan. Laporan tertua dalam sampel berasal dari tahun 1987, dan yang terbaru dari 2023. Menariknya, volume publikasi di bidang ini menunjukkan tren yang terus meningkat: dari hanya 8 laporan dalam kurun 1987–1995, jumlahnya naik jadi sekitar 4,6 laporan/tahun (1996–2000), lalu terus meningkat hingga mencapai 14,3 laporan/tahun pada periode 2021–2023. Peneliti menafsirkan tren ini sebagai tanda minat yang terus tumbuh terhadap penelitian empiris appraisal selama dua setengah dekade terakhir.
Dari segi karakteristik sampel, mayoritas studi memakai sampel mahasiswa (59,9%), diikuti sampel komunitas (30,7%) dan sampel crowdsourced (9,4%). Konteks penelitian paling umum adalah pendidikan (20,7%), hubungan sosial (16,5%), dan peristiwa hidup umum (12,6%), sementara pekerjaan dan kesehatan juga cukup banyak diteliti. Hanya sebagian kecil studi (10,7%) yang benar-benar memanipulasi appraisal secara eksperimental, mayoritas besar bersifat kohubunganonal, di mana partisipan mengingat atau melaporkan pengalaman emosional mereka secara alami.
Tahap Screening
Proses seleksi laporan dalam penelitian ini memiliki dua tahap. Pada tahap pertama, peneliti menyaring abstrak dari total 6.050 laporan yang dikumpulkan dari dua database tersebut (5.096 dari PsycInfo + 954 dari ProQuest), sjumlah 4.419 laporan dikeluarkan karena tidak relevan dengan appraisal-emosi. Kemudian pada tahap kedua, peneliti melakukan penyaringan full-text dari seluruh 1.631 laporan yang telah lolos skrining abstrak(termasuk 18 laporan non-Inggris yang diterjemahkan pakai Google Translate; 3 di antaranya akhirnya masuk). Hasilnya, beberapa laporan yang juga dikeluarkan:
132 karena bukan studi empiris
677 karena kurang ukuran yang sesuai
420 karena statistik tidak cukup untuk menghitung effect size
6 karena sampel yang tumpang tindih (overlapping samples) — kalau ada, yang dipakai adalah yang sampelnya lebih besar
97 karena sampel klinis
48 karena hanya mengukur stres, bukan emosi spesifik
Setelah melalui seluruh proses penyaringan yang ketat ini, hasil akhirnya adalah 251 laporan yang mencakup 309 studi dengan sampel independen, menghasilkan total 2.634 effect size dari 609.628 partisipan secara keseluruhan, yang bersama-sama memberikan bukti empiris untuk 853 hubungan appraisal–emosi spesifik yang mencakup 47 dimensi appraisal dan 63 jenis emosi. Effect size adalah angka yang digunakan untuk menunjukkan seberapa besar atau seberapa kuat hubungan/efek yang ditemukan dalam suatu penelitian.
Proses Pengumpulan Data
Penulis pertama membaca setiap penelitian lalu mencatat dan mengelompokkan informasi yang dibutuhkan peneliti dengan aturan yang sudah ditentukan, proses ini disebut coding. Untuk mengecek reliabilitas antar peneliti (karena penelitian melibatkan lebih dari satu orang), seorang asisten peneliti (lulusan Psikologi) secara independen mengkode 30% subset acak dari batch pertama (77 laporan dari 2021). Kemudian untuk mengukur seberapa besar kesepakatan antar coder, mereka menggunakan Intraclass Correlation Coefficient (ICC), hasilnya berkisar .94–1.0. Artinya tingkat kesepakatannya sangat tinggi. Perbedaan sisanya lalu diselesaikan lewat diskusi.
Kriteria Kelayakan (Eligibility Criteria)
Kriteria pertama berkaitan dengan siapa yang menjadi partisipan penelitian. Studi dengan sampel klinis dikeluarkan, misalnya penelitian yang hanya melibatkan orang dengan penyakit fisik kronis, gangguan mental, atau disabilitas perkembangan saraf. Alasannya, penelitian ini ingin menggambarkan hubungan appraisal–emosi pada populasi umum, bukan pada kelompok dengan kondisi klinis tertentu.
Selain partisipannya, peneliti juga menetapkan aturan mengenai apa yang harus diukur dalam setiap penelitian. Studi yang dimasukkan harus memenuhi beberapa syarat berikut:
Harus menggunakan alat ukur appraisal dan emosi yang sudah memiliki bukti validitas dan reliabilitas yang baik serta sesuai dengan konsep appraisal dalam teori yang digunakan.
Alat ukur yang dibuat sendiri oleh peneliti (self-constructed) tetap boleh digunakan selama memiliki kualitas pengukuran yang baik dan benar-benar mengukur aspek appraisal yang sesuai dengan teori.
Penelitian harus mengukur state, yaitu penilaian atau emosi yang muncul dalam situasi tertentu, bukan trait, yaitu kecenderungan seseorang yang relatif menetap. Hal ini penting karena penelitian ingin mengetahui bagaimana cara seseorang menilai suatu situasi berkaitan dengan emosi yang muncul dalam situasi tersebut.
Studi eksperimen juga dapat dimasukkan sebagai pelengkap. Namun, penelitian yang memanipulasi appraisal hanya dimasukkan jika manipulasi tersebut memang sesuai dengan konsep appraisal dalam teori.
Selain syarat-syarat tersebut, ada beberapa alasan tambahan yang membuat suatu penelitian harus dikeluarkan:
Tidak memiliki data empiris, misalnya hanya berupa review atau pembahasan teori.
Menggunakan sampel yang sama atau saling tumpang tindih dengan laporan lain. Hal ini penting karena meta-analisis mengasumsikan bahwa data yang digunakan berasal dari sampel yang independen.
Hanya meneliti stres, bukan emosi yang spesifik.
Tidak memberikan informasi statistik yang cukup untuk menghitung effect size dan variansnya.
Dengan kriteria tersebut, peneliti berusaha memastikan bahwa penelitian yang akhirnya masuk ke dalam meta-analisis memang relevan, dapat dibandingkan, dan menyediakan data yang cukup untuk dianalisis. Setelah menentukan penelitian mana yang layak digunakan, langkah berikutnya adalah menyamakan pengertian tentang apa yang dianggap sebagai emosi. Ini penting karena istilah "emosi" sendiri dapat memiliki cakupan yang berbeda-beda antarpenelitian.
Coding untuk Emosi
Peneliti sengaja menggunakan definisi emosi yang cukup luas. Jadi, mereka tidak hanya memasukkan emosi yang umum seperti marah, takut, sedih, atau bahagia, tetapi juga memasukkan kondisi perasaan seperti boredom, interest, dan challenge. Mereka bahkan memasukkan beberapa kondisi seperti empathy, sympathy, dan apathy, meskipun secara tradisional istilah-istilah tersebut tidak selalu dikategorikan sebagai emosi.
Namun, ada beberapa hal yang tetap dikeluarkan. Stres tidak dimasukkan, karena penelitian ini ingin berfokus pada emosi yang lebih spesifik. Ukuran emosi yang menggambarkan kecenderungan seseorang secara umum (trait) juga tidak digunakan. Selain itu, penelitian yang menggabungkan beberapa emosi atau kondisi perasaan menjadi satu skor juga dikeluarkan karena peneliti ingin mengetahui hubungan dengan emosi yang spesifik, bukan gabungan beberapa emosi sekaligus.
Coding untuk Dimensi Appraisal
Appraisal didefinisikan sebagai cara seseorang menilai atau memaknai suatu situasi atau kejadian. Definisinya dibuat cukup luas karena beberapa teori memiliki pandangan yang berbeda mengenai apa saja yang termasuk appraisal. Misalnya, atribusi kausal dianggap sebagai appraisal oleh beberapa teori, tetapi tidak oleh teori lainnya. Dalam penelitian ini, konsep-konsep tersebut tetap dimasukkan selama memiliki dasar teori yang relevan.
Dengan begitu, peneliti sudah menentukan apa yang dimaksud dengan appraisal dan emosi. Selanjutnya, mereka dapat melihat bagaimana keduanya berhubungan dan apakah hubungan tersebut sudah pernah diprediksi oleh teori sebelumnya.
Coding Prediksi Hubungan Appraisal–Emosi
Untuk setiap hubungan appraisal–emosi yang mereka temukan datanya, mereka menelusuri kembali literatur teori appraisal untuk mengecek apakah hubungan itu pernah diprediksi sebelumnya, dan ke arah mana (positif/negatif). Kalau hubungan itu tidak diprediksi teori besar tapi ada di studi lain, mereka juga cek referensi studi tersebut.
Hasil pengecekan dikategorikan ke 5 tipe:
Predicted and Supported – arah & signifikansi hasil meta-analitik konsisten dengan prediksi
Predicted and Not Significant – diprediksi, tapi hasil meta-analitik tidak signifikan
Predicted and Opposite – hasil signifikan tapi arahnya berlawanan dari prediksi
No Prediction and Significant – hubungan "baru ditemukan" (belum pernah diprediksi, tapi signifikan)
No Prediction and Not Significant – tidak diprediksi dan memang tidak signifikan

Hasil Penelitian
Bagian inti dari meta-analisis ini adalah menguji apakah hubungan appraisal–emosi yang sudah diprediksi teori sebelumnya benar-benar didukung data. Mereka menggunakan metode pearson correlation (yang hasilnya dinotasikan dengan r dalam rentang -1 sampai +1), untuk melihat apakah dua variabel memiliki hubungan dan seberapa kuat hubungan tersebut. Semakin jauh nilai r dari 0, semakin kuat hubungan linear antar keduanya.
Analisis menunjukkan hasil yang cukup meyakinkan: 75% dari hubungan yang sebelumnya diusulkan teori appraisal terbukti signifikan secara empiris, dengan besaran effect size rata-rata masuk kategori sedang-hingga-besar (rata-rata |r| = 0,329). Beberapa contoh hubungan yang sering diteliti dan terbukti kuat konsisten dengan teori antara lain: accountability-other dengan kemarahan (r = 0,37), certainty dengan kecemasan (r = -0,30), threat dengan ketakutan (r = 0,47), goal conduciveness dengan kegembiraan/joy (r = 0,56), accountability-self dengan kebanggaan (r = 0,39), dan loss dengan kesedihan (r = 0,42). Bahkan untuk emosi yang lebih jarang diteliti pun, prediksi teori tetap terkonfirmasi, misalnya pleasantness dengan afeksi (r = 0,57) dan accountability-other dengan rasa syukur (r = 0,26).
Namun, tidak semua prediksi teori terbukti benar. Beberapa hubungan yang diprediksi ternyata tidak signifikan secara statistik, contohnya certainty dengan kemarahan (r = -0,16), control-other dengan kemarahan (r = -0,01), dan effort dengan cinta (r = -0,07). Lebih menarik lagi, ada tiga hubungan yang hasilnya justru berlawanan arah dari yang diprediksi teori, semuanya berkaitan dengan harapan (hope): goal conduciveness (r = 0,32), certainty (r = 0,27), dan expectedness (r = 0,15), yang seharusnya menurut sebagian teori berhubungan negatif, tapi ternyata justru positif.
Selain menguji prediksi lama, meta-analisis ini juga menemukan banyak hubungan appraisal–emosi yang belum pernah diprediksi teori manapun sebelumnya, namun ternyata signifikan secara statistik, mereka menyebutnya hubungan yang "ditemukan" (discovered). Contohnya difficulty dengan kemarahan (r = 0,24), positive future expectancy dengan kecemasan (r = -0,18), dan control-self dengan harapan (r = 0,39). Effect size rata-rata untuk hubungan-hubungan baru ini (0,272) memang secara statistik signifikan lebih kecil dibanding hubungan yang sudah diprediksi teori (0,329), tapi peneliti menekankan bahwa besarannya tetap tidak kecil, sehingga layak jadi bahan penelitian di masa depan.
In conclusion, setiap dari 63 emosi yang diteliti diberi "profil appraisal" masing-masing, yang membedakan appraisal dengan hubungan kuat (|r| ≥ 0,25) versus lemah (|r| < 0,25). Sebagai contoh, kemarahan berhubungan kuat dengan 23 appraisal berbeda dari lebih dari 300 effect size, termasuk menyalahkan orang lain, menilai situasi tidak menyenangkan dan tidak sesuai tujuan, serta merasakan ketidakadilan dan kerugian. Peneliti menegaskan bahwa profil ini sebaiknya dibaca sebagai daftar appraisal yang berasosiasi dengan emosi tersebut dalam berbagai konteks yang diteliti, bukan daftar appraisal yang mutlak diperlukan (necessary) atau cukup (sufficient) untuk memunculkan emosi itu di semua situasi.
Pemetaan Effect Size

Figure 3 menampilkan heatmap yang memetakan berapa banyak effect size tersedia untuk tiap kombinasi appraisal–emosi. Visualisasi ini bukan menunjukkan signifikansi, melainkan memperlihatkan pola: appraisal seperti pleasantness dan accountability-other sudah diteliti hampir di semua emosi dan emosi seperti kemarahan dan kesedihan sudah diteliti bersama banyak sekali appraisal. Sebaliknya, ada banyak "kekosongan" (gaps), misalnya appraisal seperti attainability, desire for object, liking, dan closeness selama ini hanya diteliti dalam konteks iri hati (envy) dan kekaguman (admiration), padahal secara logis appraisal-appraisal ini juga relevan untuk emosi yang berdekatan seperti cemburu (jealousy), namun belum pernah diteliti di sana. Kekosongan semacam ini menurut peneliti bisa jadi referensi untuk penelitian appraisal ke depannya.
Beberapa Hal Penting
Datanya secara geografis banyak didapatkan dari barat, lebih detailnya: Amerika Utara menyumbang porsi terbesar (55,0%, sebagian besar dari Amerika Serikat), diikuti Eropa (26,5%, terbanyak dari Inggris dan Jerman), lalu Asia hanya 9,4% (terbanyak dari China/Hong Kong), dan sisanya tersebar di Australia, Timur Tengah, serta Afrika dalam jumlah kecil.
Peneliti sendiri mengingatkan bahwa istilah emosi dalam bahasa Inggris sehari-hari (anger, shame, dll) bisa jadi tidak sepenuhnya menangkap makna yang sama lintas budaya dan bahasa.
Appraisal theory dipakai luas di bidang terapan: dari CBT untuk kesehatan mental, desain agen virtual/AI (affective computing), pemasaran, manajemen konflik, sampai large language models yang belakangan dicoba untuk mendeteksi appraisal dari teks.
Opini Penulis
Secara historis, dari Plato sampai Descartes, terdapat anggapan lama bahwa akal (reason) dan emosi (passion) merupakan dua hal yang bertentangan. Seseorang dianggap bijak atau rasional apabila ia mampu mengedepankan akal dan tidak diperbudak oleh emosinya sendiri. Teori Appraisal menantang pemisahan kedua hal tersebut dari akarnya. Seperti kalimat pembuka dalam paper ini, “emotions are produced from our interpretation of what we experience.” Pernyataan ini bukan hanya menunjukkan bahwa emosi dipengaruhi oleh pikiran, tetapi juga bahwa emosi merupakan hasil dari proses interpretasi kognitif terhadap suatu situasi. Ketika seseorang marah, misalnya, hal tersebut bukan semata-mata karena emosinya mengalahkan kemampuan berpikir rasional, tetapi karena ia telah melakukan penilaian terhadap situasi tersebut.
Kesimpulan-kesimpulan tersebut merupakan proses appraisal, yaitu bentuk penilaian kognitif yang sering berlangsung dengan cepat dan tanpa disadari. Oleh karena itu, menjadi kurang tepat apabila akal dan emosi dipandang sebagai dua kekuatan yang selalu bertentangan, karena keduanya saling berhubungan melalui proses kognitif. Dalam perspektif ini, seseorang tidak menjadi bijak dengan menghilangkan emosi, melainkan dengan mampu mengelola cara ia menilai suatu situasi sehingga respons emosionalnya dapat dikendalikan.
Pemahaman tersebut kemudian menjadi relevan dalam ekonomi karena keputusan ekonomi juga tidak berlangsung dalam ruang yang sepenuhnya rasional dan bebas dari emosi. Ketika seseorang menghadapi inflasi, shrinkflation, risiko investasi, atau perubahan harga, ia tidak hanya memproses informasi secara objektif, tetapi juga melakukan appraisal mengenai apakah situasi tersebut menguntungkan, merugikan, adil, atau mengancam kepentingannya. Penilaian tersebut kemudian memengaruhi emosi dan pada akhirnya perilaku ekonomi, seperti keputusan untuk membeli, berinvestasi, atau mengubah strategi bisnis.
Dengan demikian, Appraisal Theory memberikan perspektif bahwa memasukkan emosi ke dalam analisis ekonomi tidak berarti meninggalkan rasionalitas. Justru, emosi dapat menjadi bagian dari proses kognitif yang membantu individu memahami kondisi yang dihadapi dan menentukan respons terhadapnya. Pada tingkat organisasi, proses yang sama juga dapat menjelaskan bagaimana manajer menilai krisis ekonomi dan kemudian menentukan respons strategis seperti investasi atau divestment. Dengan kata lain, Appraisal Theory memperluas pemahaman mengenai rasionalitas ekonomi: keputusan yang melibatkan emosi tidak selalu berarti keputusan yang irasional, karena emosi dan penilaian kognitif dapat menjadi bagian dari proses yang membentuk keputusan tersebut.



Comments