You Were Never Meant for Every Circle: A Letter to Your 5-Year-Old Self

Judul Artikel : Does self-regulation mediate the relation between parent–child relationships and peer acceptance during early childhood?
Penulis : Jessica N. Lucas-Nihei, Alycia M. Hund, dan Matthew S. Hesson-McInnis
Tahun Terbit : 2025
Jurnal : Journal of Experimental Child Psychology
Diulas oleh Nindya Ardelia Sari
"Everyone deserves a standing ovation at least once in their life."
Salah satu kutipan terkenal dari film Wonder (2017) tersebut terasa sangat dekat dengan realita, di mana setiap manusia memiliki kebutuhan emosional untuk merasa diterima dan dihargai. Menariknya, kebutuhan tersebut tidak tiba-tiba muncul, tetapi sudah mulai terbentuk sejak masa kanak-kanak. Salah satu fenomena yang dapat diamati adalah interaksi anak-anak dengan teman sebayanya yang kemudian akan membentuk penerimaan oleh teman sebaya atau peer acceptance. Lantas, apa faktor yang memengaruhi bagaimana seorang anak diterima di lingkungannya?
Mendefinisikan Peer Acceptance
Peer Acceptance mengacu pada sejauh mana seseorang disukai oleh anggota kelompok teman sebaya (peer group) mereka (Ladd & Sechler, 2013). Seorang anak dapat dikatakan “well-accepted” apabila kerap dipilih sebagai teman bermain dan disukai oleh banyak teman sebayanya. Peer Acceptance merupakan aspek yang sangat penting dalam perkembangan sosial anak-anak usia dini karena masa kanak-kanak merupakan tahapan awal muncul dan berkembangnya social competence (Booth-LaForce & Kerns, 2009).
Semua Berawal dari Rumah
Salah satu faktor yang paling krusial dalam perkembangan anak adalah hubungan antara anak dengan orang tuanya. Hubungan orang tua–anak tersebut didasarkan pada dua aspek yaitu kedekatan (closeness) dan konflik (conflict). Kedekatan orang tua–anak ditandai dengan adanya kehangatan, afeksi, dan komunikasi yang terbuka, sedangkan konflik mengacu pada hubungan orang tua–anak yang ditandai dengan ketidakharmonisan dan hal-hal negatif. Hal ini berkaitan dengan social competence anak karena hubungan yang sehat dan harmonis akan mendukung tumbuh kembang yang sehat, termasuk bagaimana anak menjalin hubungan dengan orang lain. Sebaliknya, hubungan yang kurang harmonis sering kali berkaitan dengan perilaku bermasalah pada anak.
Menurut teori kelekatan (attachment theory), hubungan antara anak dengan orang tua memengaruhi kemampuan mereka untuk membangun hubungan dengan orang lain di masa depan. Hubungan orang tua-anak membentuk persepsi mengenai bagaimana anak memandang orang tua, diri mereka sendiri, dan hubungan mereka. Bagi anak-anak, secure attachment (ditandai dengan perasaan aman saat bersama orang tua) menjadi prediktor bagi harga diri dan social competence mereka. Sebuah meta-analisis oleh Groh et al. (2014) menemukan korelasi positif yang kuat antara attachment orang tua–anak dan social competence anak dengan teman sebaya, di mana anak-anak dengan secure attachment menunjukkan tingkat kompetensi yang lebih baik dalam berinteraksi dengan teman sebaya.
Belajar Mengendalikan Diri Sejak Usia Dini
Faktor lainnya yang dinilai berpengaruh terhadap peer acceptance anak adalah pengendalian diri atau self-regulation. Self-regulation merupakan kemampuan seseorang untuk mengendalikan, menahan, dan merencanakan perilaku, emosi, serta pikirannya untuk mencapai tujuan (Ponitz et al., 2008). Self-regulation meningkat secara pesat pada masa kanak-kanak awal, umumnya pada usia di atas lima tahun. Kemampuan self-regulation mencakup berbagai konsep, seperti delay of gratification, inhibitory control, serta effortful control.
Studi terdahulu memperoleh temuan bahwa anak dengan self-regulation yang baik cenderung menunjukkan perilaku sosial yang positif, seperti aktif berinteraksi dan bermain bersama teman sebaya. Hal ini disebabkan kemampuan mereka untuk mengekspresikan emosi negatif dengan lebih baik dan terkendali sehingga meningkatkan peer acceptance.
Di sisi lain, anak dengan self-regulation yang lebih rendah cenderung mengalami kesulitan dalam berinteraksi sosial, seperti tidak mematuhi aturan dan berperilaku agresif sehingga cenderung tidak diminati oleh teman sebayanya. Hal ini menyebabkan terbatasnya kesempatan anak untuk membangun social competence. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa self-regulation yang baik memiliki peran signifikan dalam membangun hubungan sosial yang positif pada anak.
Lalu, Apa Hubungan antara Ketiga Variabel?
Perilaku pengasuhan yang positif, seperti menetapkan batasan dan memberikan pembelajaran pada anak, berkaitan erat dengan self-regulation anak. Terlebih, anak-anak dari keluarga yang memiliki hubungan lebih erat cenderung melakukan interaksi yang harmonis dengan teman sebaya dan menjadi teman bermain yang lebih disukai. Sebaliknya, anak-anak dari keluarga yang sering mengalami interaksi negatif dan konflik cenderung terlibat dalam interaksi yang bermusuhan dengan teman sebaya dan kurang diminati sebagai teman bermain (Hay et al., 2009). Penelitian terdahulu menemukan bahwa karakteristik hubungan orang tua–anak merupakan prediktor kuat bagi peer acceptance anak. Hubungan orang tua–anak juga berkaitan dengan self-regulation anak dan self–regulation anak berkaitan dengan peer acceptance anak.
Mengingat bahwa hubungan orang tua–anak dapat memprediksi peer acceptance baik secara langsung maupun tidak langsung, Jessica N. Lucas-Nihei, Alycia M. Hund, dan Matthew S. Hesson-McInnis mencoba menguji self-regulation pada anak usia preschool sebagai kemungkinan mediator antara kedua variabel tersebut.
Bagaimana Penelitian Ini Membuktikannya?
Penelitian ini menguji dua hipotesis utama dengan dua research question:
RQ1: Apakah self-regulation anak usia dini memediasi hubungan antara kualitas hubungan orang tua-anak (closeness dan conflict) dan peer acceptance?
RQ2: Apakah terdapat perbedaan usia yang perlu dipertimbangkan terkait self-regulation anak dalam model mediasi yang diusulkan?
H1: Model mediasi yang diusulkan akan menunjukkan kesesuaian yang baik (good fit), di mana kualitas hubungan orang tua-anak memprediksi self-regulation anak, yang pada akhirnya memprediksi peer acceptance anak
H2: Anak-anak preschool yang lebih tua akan menunjukkan self-regulation yang lebih kuat, sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan peningkatan perkembangan yang signifikan dalam self-regulation sepanjang masa kanak-kanak awal.
Sebanyak 134 anak berusia 48–71 bulan direkrut dari 42 kelas yang berasal dari 21 program preschool setempat di wilayah Midwest, Amerika Serikat. Selain itu, sebanyak 134 orang tua/wali serta 37 wali kelas dari anak-anak peserta penelitian turut berpartisipasi dalam penelitian.
Saat Bermain Menjadi Alat Ukur Penelitian
Dalam penelitian tersebut, para peneliti menggunakan empat jenis tugas atau "mini games" untuk mengukur kemampuan self-regulation anak secara langsung dengan melihat seberapa baik anak bisa berpikir sebelum bertindak dan mengikuti aturan yang ditetapkan.
Bear/Dragon
Permainan ini menguji kemampuan anak untuk menahan diri terhadap perintah tertentu. Peneliti menggunakan dua boneka tangan, yaitu beruang dan naga. Anak diinstruksikan untuk mengikuti perintah boneka beruang (misalnya, "sentuh telingamu"), tetapi harus mengabaikan perintah boneka naga. Skor diberikan berdasarkan seberapa baik anak bisa diam saat naga memberi perintah. Skor tertinggi (3) diberikan jika anak benar-benar diam, sedangkan skor terendah (0) diberikan jika anak mengikuti perintah naga sepenuhnya.
Head–Toes–Knees–Shoulder
Permainan ini mengukur kontrol perilaku dan memori kerja anak. Awalnya, anak diminta melakukan perintah sederhana: "sentuh kepala" dan "sentuh jari kaki". Namun, setelah itu aturannya diubah menjadi berlawanan: anak harus menyentuh kepala saat peneliti bilang "jari kaki", dan menyentuh jari kaki saat peneliti bilang "kepala". Di tingkat yang lebih sulit, instruksi lutut dan bahu ditambahkan dengan aturan serupa. Anak mendapatkan poin penuh (2) jika langsung benar, poin setengah (1) jika melakukan koreksi mandiri, dan 0 jika salah.
Day–Night Stroop
Permainan ini menguji kontrol hambatan (inhibitory control) terhadap impuls visual. Peneliti menunjukkan dua kartu: satu bergambar bulan dan satu bergambar matahari. Anak diminta untuk mengatakan "siang" saat melihat kartu bulan, dan mengatakan "malam" saat melihat kartu matahari. Hal ini cukup menantang karena secara alami anak ingin menyebutkan apa yang mereka lihat, di mana bulan terasosiasi dengan malam dan matahari dengan siang. Skor dihitung dari jumlah jawaban benar dari total 16 percobaan yang dilakukan.
Dinky Toys
Permainan ini berfokus pada kemampuan anak untuk menunda kepuasan (delay of gratification) dan mengontrol gerakan fisik. Peneliti meletakkan sebuah kotak transparan berisi mainan menarik, seperti stiker dan mobil-mobilan, di depan anak. Anak diminta untuk memilih mainan yang diinginkan hanya dengan kata-kata tanpa boleh menyentuh atau menunjuk mainan tersebut, sambil tetap meletakkan tangan di pangkuan. Skor diberikan pada skala 0 hingga 5. Skor sempurna (5) didapat jika anak tetap tenang dengan tangan di lutut, sementara skor terendah (0) diberikan jika anak langsung mengambil mainannya.
Melengkapi Gambaran Lewat Penilaian Guru dan Orang Tua
Selain melalui empat permainan (mini games) yang dilakukan langsung dengan anak, penelitian ini juga menggunakan laporan dari guru dan orang tua untuk mendapatkan gambaran yang lebih menyeluruh tentang self-regulation dan kualitas hubungan anak.
Pengujian Self-regulation
Guru menilai kemampuan kontrol diri anak di lingkungan sekolah menggunakan kuesioner Children’s Behavior Questionnaire–Very Short Form (CBQ-VSF). Guru diminta menilai 12 item yang berkaitan dengan dimensi Effortful Control anak, contohnya perilaku seperti, "Anak mendekati tempat-tempat yang sudah dilarang dengan sangat perlahan dan hati-hati". Guru memberikan skor dari 1 (sangat tidak benar) hingga 7 (sangat benar). Semakin tinggi nilainya, berarti anak memiliki kontrol diri yang lebih kuat dalam mengikuti aturan kelas.
Pengujian Closeness dan Conflict
Peneliti menggunakan dua jenis kuesioner untuk mengukur seberapa dekat atau seberapa sering terjadi konflik antara orang tua dan anak:
Child–Parent Relationship Scale–Short Form (CPRS-SF) mengukur persepsi orang tua terhadap kedua aspek hubungan. Closeness terdiri dari 8 pertanyaan tentang kehangatan dan komunikasi terbuka, contohnya: "Saya membangun hubungan yang hangat dan harmonis dengan anak saya". Sementara itu, Conflict terdiri dari 7 pertanyaan tentang perselisihan, contohnya: "Saya dan anak saya selalu berselisih satu sama lain". Orang tua menjawab menggunakan skala 1 (sangat tidak sesuai) sampai 5 (sangat sesuai).
Parenting Relationship Questionnaire (BASC-3 PRQ-P) merupakan alat pengukur tambahan untuk memperkuat data mengenai perasaan orang tua terhadap anak mereka dengan subskala Attachment yang menilai seberapa dekat perasaan orang tua (misalnya: "Anak saya menikmati menghabiskan waktu bersama saya") dan subskala Relational Frustration yang menilai tingkat kesulitan yang dialami orang tua (misalnya: "Saya merasa mengasuh anak lebih sulit dari yang seharusnya") dengan menggunakan skala frekuensi 1 (tidak pernah) sampai 4 (hampir selalu).
Pengujian Peer Acceptance
Untuk mengetahui apakah anak tersebut disukai di sekolah, guru mengisi Pictorial Scale of Perceived Competence and Social Acceptance dengan menilai 6 item spesifik, contohnya: "Anak ini sering diajak bermain oleh teman lainnya". Guru memberikan penilaian dari 1 (tidak terlalu benar) hingga 4 (sangat benar).
Temuan Penelitian
Temuan awal penelitian mengidentifikasi rata-rata anak berusia 56,18 bulan (sekitar 4 tahun 8 bulan), dengan rentang usia dari 48 hingga 71 bulan. Peer acceptance memiliki nilai rata-rata 2,88 dari skala 1 sampai 4. Angka ini menunjukkan bahwa secara umum anak-anak dalam sampel ini cukup diterima dengan baik oleh teman-temannya.
Karena banyak anak berasal dari kelas yang sama dengan guru yang sama, peneliti khawatir penilaian guru menjadi bias (misalnya guru tertentu cenderung memberi nilai bagus ke semua muridnya). Oleh karena itu, digunakan Intraclass Correlations (ICC) dan hasilnya menunjukkan pengaruh variansi guru sangat rendah yakni hanya berkisar antara 2,5% hingga 4,7%.
Temuan penting lainnya adalah terdapat hubungan positif yang signifikan antara usia dan self-regulation anak, di mana semakin tua usia anak, kemampuan mereka mengontrol diri semakin kuat. Selain itu, ditemukan pula bahwa anak yang dekat dengan orang tuanya cenderung lebih disukai teman-temannya. Anak dengan kontrol diri yang baik juga cenderung lebih disukai. Di samping itu, hubungan closeness & conflict bersifat negatif kuat. Artinya, jika hubungan orang tua–anak sangat dekat maka tingkat konfliknya cenderung rendah, dan sebaliknya.
Tabel 1. Matriks korelasi dan statistik deskriptif untuk variabel individual dan komposit
Setelah memastikan data yang diperoleh cukup reliabel dan konsisten, peneliti melakukan uji hipotesis menggunakan metode statistik Structural Equation Modeling (SEM) dengan pendekatan path analysis yang kemudian memperoleh hasil sebagai berikut:

Gambar 1. Representasi statistik dari Model 1
Model 1 (Tanpa Mempertimbangkan Usia)
Model ini menguji ide dasar bahwa kualitas hubungan orang tua–anak (closeness dan conflict) akan memengaruhi self-regulation anak, yang kemudian akan memengaruhi seberapa baik anak diterima oleh teman-temannya. Hasilnya, model ini dianggap memiliki kecocokan statistik (good statistical fit).
Ditemukan adanya hubungan negatif yang signifikan antara closeness dan conflict. Selain itu, terdapat pengaruh langsung yang signifikan dari closeness terhadap peer acceptance dan pengaruh langsung yang signifikan dari self-regulation terhadap peer acceptance. Namun, self-regulation tidak dapat dikatakan sebagai mediator antara closeness dan peer acceptance.
Kesimpulan dari temuan ini adalah bahwa hipotesis tentang mediasi (H1) tidak terbukti. Data justru menunjukkan bahwa closeness dan self-regulation anak masing-masing memiliki pengaruh langsung dalam memprediksi peer acceptance, bukan melalui jalur mediasi.

Gambar 2. Representasi statistik dari Model 2
Model 2 (Mempertimbangkan Usia)
Pada Model 2, peneliti menambahkan usia anak (dalam bulan) sebagai faktor yang memprediksi self-regulation. Hasilnya, model ini menunjukkan kecocokan yang sangat baik dengan data bahwa usia memprediksi self-regulation secara signifikan. Ini membuktikan bahwa anak yang lebih tua memiliki kemampuan kontrol diri yang lebih kuat.
Selain itu, ditemukan hubungan negatif antara usia dan conflict yang berarti konflik dengan orang tua cenderung menurun seiring bertambahnya usia anak, sedangkan pengaruh langsung dari closeness dan self-regulation terhadap peer acceptance tetap konsisten seperti pada Model 1.
Dengan demikian, temuan ini membuktikan H2 bahwa usia memang menjadi faktor penting dalam perkembangan self-regulation anak selama masa preschool.
Kesimpulan
Penelitian ini menunjukkan bahwa self-regulation bukanlah mediator antara hubungan orang tua–anak dan peer acceptance. Hubungan orang tua yang hangat tidak secara otomatis meningkatkan self-regulation anak, namun keduanya sama-sama penting secara terpisah untuk membentuk social competence anak. Di sisi lain, usia memiliki peran yang krusial dalam kemampuan self-regulation anak. Hal ini ditunjukkan dengan anak usia lima tahun yang cenderung memiliki kemampuan self-regulation yang lebih matang dibandingkan anak usia empat tahun.
Diskusi dan Pandangan Penulis
Pada dasarnya, setiap manusia memiliki kebutuhan untuk diterima, dihargai, dan merasa menjadi bagian dari suatu kelompok. Kebutuhan tersebut tidak tiba-tiba muncul ketika seseorang memasuki usia remaja atau dewasa, tetapi telah tumbuh sejak masa kanak-kanak. Seorang anak yang merasa diterima akan lebih percaya diri dalam mengekspresikan diri dan berani membangun relasi dengan orang lain. Sebaliknya, pengalaman terus-menerus merasa ditolak atau tidak dihargai dapat meninggalkan luka dan memengaruhi cara seseorang memandang dirinya maupun berinteraksi dengan lingkungan sosialnya hingga di kemudian hari.
Anak-anak sering diibaratkan seperti spons yang mampu menyerap hampir segala hal yang mereka lihat di sekitarnya. Sebelum menyerap apa yang diajarkan di sekolah, mereka terlebih dahulu belajar dari apa yang dicontohkan lingkungan rumahnya. Ungkapan "Children see, children do." menggambarkan bahwa perilaku, cara berkomunikasi, cara menyelesaikan konflik, hingga cara menunjukkan kasih sayang yang diperlihatkan oleh orang tua akan menjadi referensi awal bagi anak dalam memahami hubungan antarmanusia.
Membangun hubungan yang positif dengan anak juga merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan mereka. Kasih sayang, perhatian, komunikasi yang terbuka, dan rasa aman yang diberikan sejak dini akan menjadi bekal ketika anak mulai memasuki lingkungan sosial yang lebih luas. Apabila ditinjau dari perspektif ekonomi, pandangan ini selaras dengan teori human capital yang dikemukakan oleh Gary Becker. Selama ini, investasi human capital identik dengan pendidikan formal, pelatihan, atau kesehatan. Padahal, apabila dilihat dari perspektif yang lebih luas, investasi tersebut juga dapat mencakup pembentukan karakter, keterampilan sosial, serta kemampuan emosional sejak usia dini. Individu yang mampu bekerja sama, berkomunikasi secara efektif, membangun kepercayaan, serta beradaptasi dalam lingkungan sosial merupakan modal yang berharga untuk meningkatkan produktivitas dan berkontribusi secara lebih efektif di dunia kerja maupun dalam kehidupan bermasyarakat di masa depan.
Di samping itu, seiring bertambahnya usia, mungkin kita mulai menyadari bahwa cara kita memandang diri sendiri dan membangun relasi sering kali dipengaruhi oleh pengalaman pengasuhan dan interaksi sosial di masa kecil. Oleh karena itu, wajar apabila seseorang membawa luka atau ketakutan akan penolakan. Namun, kita juga dapat melihat pengalaman tersebut dari sudut pandang yang lebih bijaksana bahwa penerimaan sosial bukanlah sesuatu yang dapat dipaksakan. Tidak ada seorang pun yang dapat disukai oleh semua orang. Pengalaman, lingkungan, serta nilai yang kita pegang akan membentuk lingkaran sosial yang berbeda-beda. Pada akhirnya, hubungan yang bertahan bukanlah hubungan yang sempurna dan diterima oleh semua orang, melainkan hubungan yang dibangun atas dasar kecocokan, rasa saling menghargai, dan kepercayaan.
Pandangan tersebut juga sejalan dengan konsep matching dalam ekonomi tenaga kerja yang menjelaskan bahwa hasil terbaik tidak selalu diperoleh ketika seseorang diterima di semua tempat, tetapi ketika terdapat kecocokan (good match) antara karakteristik individu dan lingkungannya. Artinya, keberhasilan seseorang tidak ditentukan oleh seberapa banyak orang yang menyukainya, tetapi oleh kemampuannya membangun hubungan yang sehat dengan orang-orang yang tepat.
Kita tidak bisa mengubah bagaimana masa kecil kita terbentuk, tetapi kita selalu memiliki kesempatan untuk memilih bagaimana pengalaman tersebut dapat membentuk cara kita memandang diri sendiri, menjalin hubungan dengan orang lain, dan menerima bahwa menjadi diri sendiri jauh lebih penting daripada berusaha untuk disukai oleh semua orang.
Artikel Asli
Lucas-Nihei, J. N., Hund, A. M., & Hesson-McInnis, M. S. (2025). Does self-regulation mediate the relation between parent–child relationships and peer acceptance during early childhood?. Journal of Experimental Child Psychology, 251, 106134. https://doi.org/10.1016/j.jecp.2024.106134



Comments