Your Friends’ Face Card Might Be Hurting Your GPA
- KANOPI FEB UI
- 3 days ago
- 10 min read

Judul Artikel: Beautiful inside and out: Peer characteristics and academic performance
Penulis: Effrosyni Adamopoulou, Ezgi Kaya
Tahun terbit: 2024
Jurnal: Journal of Economic Behavior and Organization
Diulas oleh Abyana Zahida
Pretty Privilege: Siapa Menarik, Dia Dapat?
“Penampilan itu menguntungkan, selalu hanya gadis cantik saja yang kan dipilih menjadi nomor satu” merupakan potongan lirik dari lagu JKT48 yang dirilis pada tahun 2013. Lirik ini terasa dekat dengan realitas sehari-hari. Mereka yang dianggap menarik sering kali mendapatkan keuntungan lebih, mulai dari perhatian sosial hingga peluang yang lebih besar di pasar tenaga kerja. Fenomena yang dikenal sebagai pretty privilege ini bukan lagi hal baru dan banyak orang sudah menyadarinya.
Namun, bagaimana jika keuntungan tersebut tidak hanya muncul ketika seseorang memasuki dunia kerja, tetapi juga sudah mulai bekerja jauh lebih awal, bahkan sejak masa sekolah? Pertanyaannya tidak lagi sekadar apakah seseorang berpenampilan menarik, tetapi juga bagaimana lingkungan di sekitarnya. Apa yang terjadi ketika seseorang berada di antara teman-teman yang dianggap lebih menarik darinya?
Penelitian oleh Adamopoulou dan Kaya (2024) mencoba menjawab pertanyaan ini dengan melihat bagaimana daya tarik, baik milik individu maupun teman sebayanya, dapat memengaruhi pencapaian akademik di sekolah.
Beauty Premium dan Ruang Kelas: Apa yang Perlu Kita Ketahui?
Pembahasan mengenai pretty privilege atau beauty premium di dunia kerja telah banyak berkembang dalam berbagai diskusi ekonomi. Sejak studi awal oleh Hamermesh dan Biddle, banyak penelitian menemukan bahwa penampilan fisik dapat memberikan keuntungan nyata, mulai dari upah yang lebih tinggi hingga peluang kerja yang lebih besar. Bahkan, pengaruhnya tidak hanya terbatas pada pasar tenaga kerja, tetapi juga meluas ke berbagai aspek kehidupan lain seperti kebahagiaan, perilaku berisiko, hingga keputusan sosial.
Namun, ada satu bagian yang relatif masih jarang disentuh, yaitu bagaimana pengaruh tersebut mulai terbentuk jauh sebelum seseorang masuk ke dunia kerja. Jika penampilan memang memberikan keuntungan, apakah efek itu sudah mulai bekerja sejak masa sekolah? Lebih jauh lagi, apakah yang berpengaruh hanya penampilan diri sendiri atau justru juga lingkungan di sekitar, khususnya teman sebaya?
Di sinilah penelitian oleh Adamopoulou dan Kaya mengambil posisi yang berbeda. Penelitian ini melihat dua aspek utama: daya tarik fisik (physical attractiveness) dan daya tarik kepribadian (personality attractiveness). Selama ini, banyak penelitian yang hanya berfokus pada salah satu aspek, padahal keduanya bisa saling berhubungan. Selain itu, mereka juga tidak berhenti pada individu, tetapi memperluas analisis ke tingkat lingkungan sosial dengan melihat bagaimana komposisi teman sebaya dalam satu angkatan dapat memengaruhi hasil akademik.
Kontribusi utama penelitian ini terletak pada cara mereka menghubungkan tiga hal yang sebelumnya sering dipisahkan: beauty premium, peer effects, dan pembentukan human capital. Dengan menggunakan data longitudinal dan memanfaatkan variasi antarangkatan dalam satu sekolah, mereka mampu mendekati hubungan kausal antara daya tarik dan prestasi akademik. Hal ini sekaligus mengisi celah dalam literatur yang selama ini lebih banyak membahas efek penampilan pada orang dewasa, atau hanya melihat individu tanpa mempertimbangkan pengaruh lingkungan sosialnya.
Dengan kata lain, penelitian ini menggeser fokus dari sekadar “Apakah penampilan menguntungkan?” menjadi pertanyaan yang lebih dalam: kapan keuntungan itu mulai muncul, dan bagaimana lingkungan sosial ikut membentuknya sejak dini.
Lalu, Bagaimana Penelitian Dilakukan?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, peneliti menggunakan data dari survei National Longitudinal Survey of Adolescent Health (Add Health), sebuah studi longitudinal yang mengikuti remaja di Amerika Serikat dari masa sekolah hingga beberapa tahun setelahnya. Studi tersebut dilakukan dalam enam gelombang, tetapi dua gelombang data, yakni gelombang pertama dan ketiga, menjadi kunci pada penelitian ini. Pada gelombang pertama yang dilakukan pada tahun 1994–1995, responden yang masih berusia sekitar 11 hingga 19 tahun diwawancarai secara langsung di rumah. Pada tahap ini, pewawancara juga memberikan penilaian terhadap daya tarik responden, baik dari sisi fisik maupun kepribadian. Sementara itu, gelombang ketiga yang dilakukan sekitar enam hingga tujuh tahun kemudian digunakan untuk mengamati hasil akademik, ketika responden sudah memasuki usia dewasa muda dan sebagian besar telah menyelesaikan pendidikan menengah.
Struktur seperti ini memungkinkan peneliti untuk menghubungkan karakteristik individu di masa remaja dengan hasil yang muncul di kemudian hari. Karena daya tarik diukur lebih awal dan prestasi diamati setelahnya, kemungkinan bahwa hasil akademik memengaruhi penilaian daya tarik dapat diminimalkan.
Pengukuran daya tarik dalam data ini dilakukan melalui penilaian langsung oleh pewawancara setelah wawancara selesai. Mereka diminta menilai seberapa menarik responden secara fisik dan dari sisi kepribadian menggunakan skala 1 sampai 5 dari sangat tidak menarik hingga sangat menarik. Berdasarkan penilaian tersebut, individu kemudian dikategorikan sebagai “menarik” apabila berada di atas rata-rata (4 atau 5). Meskipun bersifat subjektif, pendekatan ini justru mencerminkan bagaimana individu dinilai dalam interaksi sosial sehari-hari.
Untuk mengukur prestasi akademik, peneliti menggunakan tiga indikator utama yang seluruhnya diambil dari gelombang ketiga. Pertama adalah nilai rata-rata sekolah atau GPA yang diperoleh dari data transkrip resmi. Kedua adalah kemungkinan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, ditentukan berdasarkan status pendidikan responden setelah lulus sekolah menengah. Ketiga adalah skor Add Health Picture Vocabulary Test atau AHPVT, yaitu tes kosakata berbasis komputer. Tes ini sering digunakan sebagai indikator kemampuan verbal dan kognitif, sehingga dapat memberikan gambaran tambahan mengenai kemampuan akademik individu di luar nilai sekolah.
Selain karakteristik individu, peneliti juga membangun ukuran lingkungan sosial dengan melihat komposisi siswa dalam satu sekolah dan angkatan. Dari sini dihitung proporsi teman sebaya yang dianggap menarik, baik secara fisik maupun kepribadian, sehingga analisis tidak hanya berfokus pada individu, tetapi juga pada lingkungan di sekitarnya.
Tabel 1. Statistik Deskriptif Data yang Digunakan

Tabel 1 menyajikan gambaran umum data yang digunakan. Panel A menampilkan seluruh sampel utama yang digunakan dalam penelitian, sementara Panel B merupakan subset yang hanya mencakup responden dengan data GPA dari transkrip. Secara umum, terlihat bahwa siswa perempuan memiliki nilai dan peluang melanjutkan ke perguruan tinggi yang lebih tinggi, sementara siswa laki-laki sedikit unggul pada skor tes. Menariknya, sampel pada Panel B cenderung menunjukkan performa yang lebih baik, yang mengindikasikan bahwa data GPA tidak tersedia secara acak dan lebih banyak mencakup siswa dengan capaian akademik yang relatif lebih tinggi.
Menghubungkan daya tarik dengan pencapaian akademik bukanlah hal yang sederhana karena banyak faktor lain yang dapat memengaruhi keduanya. Untuk mengatasi hal ini, peneliti memanfaatkan struktur data Add Health yang mencakup beberapa angkatan dalam satu sekolah. Karena keluarga cenderung memilih sekolah, bukan komposisi angkatan, perbedaan proporsi siswa yang dianggap menarik antarangkatan dapat diperlakukan sebagai variasi yang mendekati acak. Pendekatan ini juga diuji dan tidak ditemukan bukti kuat adanya pemilahan siswa berdasarkan daya tarik. Dengan demikian, perbandingan antarangkatan dalam sekolah yang sama dapat digunakan untuk mendekati hubungan kausal, tanpa dipengaruhi oleh kecenderungan individu untuk memilih lingkungan yang serupa.
Dalam analisis ini, peneliti menggunakan model regresi yang menghubungkan prestasi akademik dengan daya tarik individu serta komposisi teman sebaya dalam satu angkatan:

Dengan:
Xicsj : vektor variabel kontrol (usia, ras, tingkat pendidikan ibu, jumlah saudara kandung, pendapatan rumah tangga, dsb.)
𝜂c: efek tetap angkatan
𝜅s: efek tetap sekolah
𝜇j: efek tetap pewawancara
uicsj: error
Dalam model tersebut, setiap observasi ditulis dengan indeks i, c, s, j yang dapat dibaca sebagai hasil akademik dari individu i yang berada dalam angkatan c di sekolah s dan dinilai oleh pewawancara j. Dengan cara ini, analisis tidak hanya melihat individu, tetapi juga konteks lingkungan dan penilaian yang melekat pada data. Model ini memasukkan dua komponen utama, yaitu daya tarik individu, baik fisik maupun kepribadian, serta komposisi teman sebaya dalam satu angkatan. Dengan demikian, peneliti dapat membedakan antara efek dari “menjadi menarik” dan efek dari “berada di lingkungan yang lebih menarik”. Selain itu, berbagai karakteristik individu dan keluarga seperti usia, ras, pendidikan ibu, pendapatan rumah tangga, dan kondisi keluarga juga dikontrol agar hasilnya tidak sekadar mencerminkan latar belakang sosial ekonomi.
Untuk memastikan pengukuran lingkungan tidak bias, proporsi teman sebaya yang menarik dihitung tanpa memasukkan individu itu sendiri ke dalam kelompoknya. Model ini juga mengontrol perbedaan antarsekolah, angkatan, dan pewawancara, sehingga perbandingan yang dilakukan benar-benar berfokus pada siswa dalam konteks yang setara. Dengan pendekatan ini, hubungan yang dihasilkan dapat lebih dipercaya sebagai dampak dari lingkungan sosial, bukan sekadar perbedaan karakteristik individu.
Daya Tarik dan Performa Akademik: Bagaimana Hubungannya?
Hasil awal menunjukkan bahwa daya tarik individu memang berperan dalam pencapaian akademik, tetapi efeknya tidak seragam antara laki-laki dan perempuan. Pada siswa laki-laki, daya tarik fisik maupun kepribadian sama-sama memberikan dampak positif. Secara kuantitatif, menjadi menarik secara fisik meningkatkan GPA sekitar 6,9 (0,17/2,44) persen relatif terhadap rata-rata, serta meningkatkan peluang melanjutkan ke perguruan tinggi sebesar sekitar 6 poin persentase. Sementara itu, daya tarik kepribadian juga menunjukkan pengaruh yang konsisten, dengan peningkatan GPA sekitar 4,9 (0,12/2,44) persen untuk laki-laki dan 5,8 (0,16/2,77) persen untuk perempuan, serta meningkatkan peluang kuliah bagi keduanya sekitar 8 poin persentase.
Tabel 2. Dampak Pada Hasil Akademik

Namun, pola ini tidak sepenuhnya berlaku bagi siswa perempuan. Untuk kelompok ini, daya tarik fisik tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap performa akademik, sementara daya tarik kepribadian tetap berperan positif di semua indikator. Temuan ini sejalan dengan literatur sebelumnya yang menunjukkan bahwa keuntungan dari penampilan fisik dalam konteks pendidikan cenderung lebih lemah atau bahkan tidak signifikan bagi perempuan.
Ketika perhatian dialihkan ke lingkungan sosial, hasilnya menjadi lebih kontras. Bagi siswa laki-laki, proporsi teman sebaya yang menarik secara fisik justru memiliki dampak negatif pada seluruh ukuran prestasi akademik, mulai dari GPA, skor AHPVT, hingga peluang melanjutkan ke perguruan tinggi. Secara besaran, peningkatan proporsi teman sebaya yang menarik sebesar 10 poin persentase dapat menurunkan peluang kuliah sekitar 3 poin persentase. Sebaliknya, pada siswa perempuan, efek ini umumnya tidak signifikan, dengan pengecualian kecil pada peluang melanjutkan pendidikan yang jauh lebih lemah dibandingkan dengan laki-laki. Menariknya, daya tarik kepribadian teman sebaya tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan bagi kedua kelompok, yang mengindikasikan bahwa efek lingkungan lebih banyak didorong oleh aspek fisik dibandingkan dengan kepribadian.
Untuk memastikan bahwa hasil ini tidak dipengaruhi oleh interaksi antara daya tarik fisik dan kepribadian, peneliti kemudian mengestimasi model dengan memisahkan kedua komponen tersebut.
Tabel 3. Dampak pada Hasil Akademik dengan Memisahkan Daya Tarik Fisik dan Kepribadian

Hasilnya menunjukkan bahwa pola utama tetap konsisten. Ketika hanya daya tarik fisik yang dimasukkan, pengaruh positif terhadap GPA dan peluang kuliah bagi siswa laki-laki tetap signifikan. Untuk siswa perempuan, daya tarik fisik menjadi signifikan dalam beberapa spesifikasi, tetapi dengan besaran yang lebih kecil dibandingkan dengan laki-laki. Di sisi lain, daya tarik kepribadian tetap menunjukkan pengaruh positif yang stabil bagi kedua kelompok di seluruh ukuran hasil.
Yang paling penting, efek negatif dari proporsi teman sebaya yang menarik secara fisik pada siswa laki-laki tetap muncul dengan besaran yang relatif serupa. Hal ini menunjukkan bahwa temuan utama tidak didorong oleh tumpang tindih antara dua jenis daya tarik tersebut. Dengan kata lain, baik ketika kedua jenis daya tarik dianalisis bersama maupun secara terpisah, hasilnya tetap mengarah pada kesimpulan yang sama: lingkungan sosial, khususnya dalam hal penampilan fisik, memiliki peran yang signifikan dalam membentuk pencapaian akademik, terutama bagi siswa laki-laki. Setelah melalui berbagai robustness test, fakta ini konsisten dan tetap signifikan.
Mengapa Lingkungan yang “Lebih Menarik” Bisa Merugikan?
Sebelumnya, hasil menunjukkan bahwa lingkungan sosial berperan dalam menurunkan performa akademik siswa laki-laki. Pertanyaan yang muncul setelahnya adalah mengapa hal tersebut bisa terjadi? Apakah mereka menjadi kurang percaya diri, kehilangan motivasi, atau justru mengalami tekanan psikologis tertentu?
Untuk menjawab hal ini, peneliti memanfaatkan informasi tambahan dalam survei Add Health yang memungkinkan mereka mengukur berbagai aspek psikologis dan perilaku siswa. Misalnya, kepercayaan diri diukur berdasarkan bagaimana responden menilai kemampuan dirinya dibandingkan dengan teman sebaya dalam kelompok usia yang sama. Aspirasi untuk melanjutkan ke perguruan tinggi diukur melalui pertanyaan mengenai seberapa besar keinginan mereka untuk berkuliah. Selain itu, responden juga diminta melaporkan seberapa sering mereka mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugas, seberapa sering mereka merasa tertekan atau sedih, serta apakah mereka merasa diperlakukan tidak adil oleh guru di sekolah. Dengan menggunakan indikator-indikator ini sebagai proxy, peneliti kemudian menguji beberapa kemungkinan mekanisme, mulai dari kepercayaan diri, aspirasi pendidikan, kesulitan akademik, kondisi emosional, hingga persepsi terhadap perlakuan guru.
Tabel 4. Mekanisme yang Mendasari

Hasilnya menunjukkan bahwa penjelasan yang paling kuat datang dari sisi kepercayaan diri. Pada siswa laki-laki, peningkatan proporsi teman sebaya yang menarik secara fisik secara signifikan menurunkan self-confidence, dengan koefisien sekitar −0.826. Ini merupakan satu-satunya mekanisme yang secara konsisten signifikan secara statistik. Menariknya, beberapa mekanisme lain yang mungkin terlihat intuitif justru tidak didukung oleh data. Tidak terdapat bukti bahwa siswa laki-laki menjadi lebih kesulitan mengerjakan tugas, lebih sering merasa depresi, atau merasa diperlakukan tidak adil oleh guru ketika berada di lingkungan dengan banyak teman yang menarik. Hal ini menunjukkan bahwa penurunan performa akademik bukan disebabkan oleh penurunan usaha atau kondisi psikologis yang ekstrem, melainkan lebih kepada perubahan dalam persepsi diri.
Selain itu, daya tarik kepribadian menunjukkan pola yang berbeda. Individu dengan kepribadian yang dianggap menarik justru memiliki tingkat kepercayaan diri dan aspirasi yang lebih tinggi. Hal ini bisa dilihat melalui koefisien positif dan signifikan. Namun, komposisi teman sebaya dari sisi kepribadian tidak menunjukkan pengaruh yang berarti, memperkuat temuan sebelumnya bahwa efek lingkungan lebih banyak didorong oleh aspek fisik dibandingkan dengan kepribadian.
Pada siswa perempuan, pola yang sama tidak ditemukan. Proporsi teman sebaya yang menarik secara fisik tidak berpengaruh signifikan terhadap self-confidence maupun indikator lainnya. Hal ini kembali menegaskan bahwa mekanisme yang ditemukan bersifat spesifik pada siswa laki-laki.
Secara keseluruhan, hasil ini mengarah pada satu kesimpulan utama: penurunan performa akademik pada siswa laki-laki yang dikelilingi oleh teman sebaya yang lebih menarik tampaknya bekerja melalui penurunan kepercayaan diri, bukan melalui perubahan perilaku atau kondisi emosional yang lebih ekstrem.
Kesimpulan: Apa yang Bisa Kita Pelajari
Daya tarik tidak hanya berpengaruh di dunia kerja, tetapi sudah mulai membentuk hasil akademik sejak masa sekolah, dengan pengaruh yang tidak seragam antar individu. Daya tarik kepribadian secara konsisten berdampak positif bagi laki-laki dan perempuan, sementara daya tarik fisik terutama menguntungkan siswa laki-laki. Di sisi lain, lingkungan sosial juga memainkan peran penting. Bagi siswa laki-laki, berada di antara teman sebaya yang lebih menarik justru berkorelasi dengan penurunan performa akademik dan peluang melanjutkan pendidikan, yang terutama dijelaskan oleh turunnya kepercayaan diri, bukan oleh peningkatan perilaku negatif atau kesulitan akademik secara langsung. Temuan ini menunjukkan bahwa prestasi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu, tetapi juga oleh bagaimana individu memposisikan dirinya dalam lingkungan sosialnya. Selain itu, penelitian ini juga menyoroti dua hal penting, yaitu peran guru dalam memastikan proses penilaian yang lebih objektif serta pentingnya membangun kepercayaan diri siswa agar tidak mudah terpengaruh oleh perbandingan sosial. Secara lebih luas, hasil ini menegaskan bahwa proses pembentukan human capital tidak sepenuhnya netral, dan dapat dipengaruhi oleh faktor sosial yang sering kali tidak disadari.
Diskusi dari Pandangan Penulis
Penelitian ini menggunakan penilaian pewawancara dalam survei Add Health untuk mengukur daya tarik individu, baik secara fisik maupun kepribadian. Meskipun bersifat subjektif, pendekatan ini mencerminkan bagaimana individu dinilai dalam interaksi sosial sehari-hari. Dengan demikian, daya tarik tidak hanya menjadi karakteristik personal, tetapi juga bagian dari bagaimana seseorang dipersepsikan oleh lingkungannya.
Temuan Adamopoulou dan Kaya menunjukkan bahwa daya tarik memiliki implikasi nyata terhadap pencapaian akademik dan pembentukan human capital. Hal ini membuka pertanyaan lebih lanjut mengenai apakah daya tarik dapat dipandang sebagai suatu bentuk endowment atau bahkan “modal sosial” yang memberikan keunggulan sejak awal.
Namun, hasil penelitian juga menunjukkan sisi lain. Bagi siswa laki-laki, berada di lingkungan dengan banyak teman yang lebih menarik justru berkorelasi dengan penurunan performa akademik, yang terutama dijelaskan oleh turunnya kepercayaan diri. Oleh karena itu, implikasi yang dapat ditarik tidak hanya terkait dengan daya tarik itu sendiri, tetapi juga pentingnya membangun kepercayaan diri dan lingkungan yang lebih suportif agar proses pembentukan human capital tidak terlalu dipengaruhi oleh perbandingan sosial.
Di sisi lain, temuan ini juga membuka ruang diskusi mengenai apa yang sebenarnya tercakup dalam “daya tarik”. Penilaian tersebut kemungkinan tidak hanya mencerminkan penampilan fisik, tetapi juga aspek lain seperti kepercayaan diri, kemampuan berkomunikasi, dan karakter sosial. Sehingga, efek yang diamati bisa merupakan hasil dari kombinasi antara persepsi sosial dan kemampuan interpersonal individu.
Selain itu, penurunan kepercayaan diri yang ditemukan menunjukkan adanya dinamika yang bersifat berulang. Lingkungan yang membuat individu merasa tertinggal dapat menurunkan kepercayaan diri, yang kemudian berdampak pada performa, dan pada akhirnya memperkuat persepsi diri yang negatif. Hal ini menunjukkan bahwa proses pembentukan human capital tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi awal, tetapi juga oleh interaksi berkelanjutan antara individu dan lingkungannya.



Comments