top of page

Satu Orang Bahagia, Semua Berkata “When Yah”


Judul Artikel : “Approach or Avoid? The Dualistic Effects of Envy on Social Media Users’ Behavioral Intention”

Penulis : Tien Wang, Xuan Tai Mai, Trung Dam-Huy Thai

Tahun Terbit : 2021

Jurnal : International Journal of Information Management

Pengulas Muhammad Aldo


Satu Cerita, Beribu Tanggapan 

Membuka media sosial lalu scroll beranda sudah menjadi kebiasaan kecil yang hampir kita lakukan setiap hari. Ketika kita membuka TikTok, sering muncul postingan pasangan yang terlihat begitu cocok, momen kecil yang terasa hangat, atau kisah hubungan yang membuat orang tanpa sadar tersenyum sendiri saat melihatnya. Beberapa detik kemudian, ketika melihat kolom komentar, hampir selalu ada satu kalimat yang muncul: “when yah?”. Komentar tersebut ditulis sambil tertawa dan diiringi dengan nada bercanda yang sedikit pasrah. Dua kata tersebut rasanya seperti mengatakan, “cerita seperti ini bagus sekali… tapi kapan ya hidup saya merasakan hal yang sama?”


Ketika Kebahagiaan Orang Lain Masuk ke Beranda Kita

Menariknya, ungkapan “when yah?” tidak hanya muncul ketika orang melihat cerita tentang hubungan romantis. Hal yang sama sering terjadi ketika seseorang melihat berbagai bentuk kebahagiaan lain di media sosial. Foto wisuda, perjalanan liburan, pekerjaan baru, atau bahkan kehidupan yang terlihat lebih mapan sering memunculkan reaksi yang serupa. Orang mungkin ikut merasa senang melihat kebahagiaan orang lain, tetapi pada saat yang sama mereka juga mulai membandingkan kehidupan tersebut dengan kehidupan mereka sendiri. Tanpa disadari, muncul pertanyaan sederhana di dalam pikiran: kapan giliran saya?


Mengapa Kita Membandingkan Hidup dengan Orang Lain? 

Dalam ilmu sosial, kecenderungan ini dikenal sebagai social comparison, yaitu kecenderungan manusia untuk menilai dirinya dengan membandingkan dirinya dengan orang lain. Media sosial memperkuat proses ini karena kehidupan orang lain terlihat begitu dekat dan muncul hampir setiap saat di layar kita. Berangkat dari fenomena tersebut, penelitian berjudul Approach or Avoid? The Dualistic Effects of Envy on Social Media Users’ Behavioral Intention mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi ketika seseorang melihat kebahagiaan orang lain di media sosial. Apakah perasaan yang muncul membuat seseorang semakin aktif menggunakan media sosial atau justru membuatnya merasa lelah dan ingin menjauh dari platform tersebut?


Sejumlah penelitian sebelumnya telah mencoba memahami bagaimana media sosial memengaruhi emosi penggunanya. Beberapa studi menemukan bahwa penggunaan media sosial sering memicu proses social comparison karena pengguna terus-menerus terpapar pada kehidupan orang lain yang terlihat lebih berhasil atau lebih bahagia (Vogel et al., 2014). Selain itu, penelitian lain menunjukkan bahwa paparan terhadap unggahan semacam ini dapat memunculkan perasaan iri (envy), terutama ketika pengguna melihat pencapaian atau kebahagiaan orang lain yang dibagikan di platform media sosial (Krasnova et al., 2013). Perasaan tersebut dalam beberapa kasus bahkan dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis pengguna karena mereka merasa kehidupannya tidak sebaik yang terlihat di layar. Akan tetapi, penelitian lain menunjukkan bahwa iri tidak selalu menghasilkan dampak yang sepenuhnya negatif. Van de Ven et al. (2009) menemukan bahwa iri dapat muncul dalam bentuk yang berbeda, di mana sebagian bentuk iri justru dapat memotivasi seseorang untuk memperbaiki dirinya. Penelitian pada paper ini mencoba melihat lebih jauh bagaimana dua jenis iri yang berbeda tersebut terbentuk dalam media sosial. Paper ini  juga melihat bagaimana masing-masing emosi tersebut memengaruhi perilaku pengguna terhadap media sosial dan terhadap merek yang muncul di dalamnya.


Bagaimana Mekanisme Penelitian ini?

Gambar 1 Model Penelitian


Secara khusus, penelitian ini membedakan dua jenis iri yang dapat muncul dalam proses perbandingan sosial, yakni :

  1. Benign  Envy

Iri yang bersifat memotivasi. Ketika seseorang melihat keberhasilan atau kebahagiaan orang lain, ia terdorong untuk memperbaiki dirinya agar dapat mencapai hal yang serupa.


  1. Malicious Envy

Iri yang bersifat lebih negatif. Contohnya, seseorang merasa tidak nyaman terhadap keberhasilan orang lain dan perasaan tersebut justru menimbulkan frustrasi atau ketidakpuasan terhadap dirinya sendiri.


Untuk memahami bagaimana emosi tersebut terbentuk, peneliti kemudian menyusun sebuah model konseptual yang menggambarkan hubungan antar variabel dalam penelitian. Model ini berangkat dari dua kondisi awal yang sering muncul ketika seseorang melihat unggahan di media sosial, yaitu:

  1. Tie Strength (kedekatan hubungan)

Apakah unggahan tersebut berasal dari teman dekat atau hanya kenalan biasa.


  1. Focus of Attention (fokus perhatian)

Apakah seseorang lebih memikirkan dirinya sendiri ketika melihat unggahan tersebut atau lebih fokus pada orang yang mengunggahnya.


Kedua faktor tersebut kemudian diperkirakan memicu beberapa reaksi emosional pada pengguna media sosial, yaitu:

  1. Pleasure → rasa senang ketika melihat kebahagiaan orang lain

  2. Benign Envy → iri yang memotivasi

  3. Malicious Envy → iri yang bersifat negatif


Selanjutnya, emosi yang muncul tersebut diperkirakan akan memengaruhi perilaku pengguna terhadap media sosial, yang diukur melalui beberapa variabel berikut:


  1. Brand Attitude → sikap pengguna terhadap merek yang muncul dalam unggahan

  2. Exhaustion → rasa lelah menggunakan media sosial

  3. Discontinuance Intention → keinginan untuk mengurangi atau berhenti menggunakan media sosial


Melalui model ini, penelitian mencoba menunjukkan bahwa apa yang dilihat seseorang di media sosial juga dapat memengaruhi bagaimana seseorang berinteraksi dengan media sosial itu sendiri. Kemudian untuk menguji model yang telah dijelaskan sebelumnya, peneliti melakukan penelitian dalam dua tahap, yaitu pre-test dan eksperimen utama. Pendekatan dua tahap ini digunakan untuk memastikan bahwa skenario yang digunakan dalam penelitian benar-benar mampu merepresentasikan situasi yang sering terjadi di media sosial.


Pada tahap pertama penelitian, peneliti terlebih dahulu melakukan pre-test untuk memahami bagaimana proses perbandingan sosial terjadi di media sosial. Tahap ini dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur terhadap sembilan responden dengan durasi sekitar 15–20 menit untuk setiap wawancara. Tujuan utama tahap ini adalah menggali bagaimana pengguna media sosial benar-benar mengalami perbandingan sosial dalam kehidupan sehari-hari. Dalam wawancara tersebut, peneliti menanyakan kebiasaan penggunaan media sosial, situasi apa saja yang membuat responden membandingkan diri dengan orang lain, serta emosi apa yang muncul setelah melihat unggahan orang lain.


Adapun, hasil pre-test menunjukkan bahwa semua responden mengakui pernah membandingkan diri dengan orang lain di media sosial. Sebagian besar responden menyatakan bahwa perbandingan tersebut sering terjadi ketika melihat unggahan dari teman dekat dalam bentuk foto atau foto dengan caption singkat. Beberapa topik yang paling sering memicu perbandingan antara lain perjalanan liburan, hubungan romantis, dan gaya hidup. Dari sisi emosi, sekitar 44% responden melaporkan perasaan positif, sementara 44% lainnya melaporkan perasaan negatif, dan sisanya bersifat netral. Temuan awal ini memberikan indikasi bahwa media sosial memang memicu berbagai reaksi emosional, termasuk rasa iri maupun rasa senang.


Setelah memperoleh gambaran awal dari tahap pre-test, peneliti kemudian melakukan eksperimen survei untuk menguji hubungan antar variabel dalam model penelitian. Eksperimen ini menggunakan desain 2 × 2 factorial design, yakni  terdapat dua faktor utama yang dimanipulasi dalam penelitian. Faktor yang dimanipulasi adalah The Strength dan Focus of Attention yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya. Responden diminta membayangkan melihat seorang teman memposting foto selfie dengan iPhone baru lengkap dengan caption singkat dan emoji. Responden kemudian diminta membayangkan situasi tersebut sesuai dengan kondisi yang diberikan dalam skenario sebelum menjawab kuesioner penelitian. Adapun partisipan dalam eksperimen ini direkrut melalui Amazon Mechanical Turk. Total terdapat 144 responden yang digunakan dalam analisis akhir. Para responden kemudian dibagi secara acak ke dalam empat kondisi eksperimen yang berbeda sesuai dengan kombinasi desain 2 × 2 tersebut.


Setelah data dari eksperimen dikumpulkan, peneliti kemudian melakukan beberapa tahap analisis statistik untuk memastikan bahwa model penelitian yang digunakan dapat diuji secara valid. Tahap pertama yang dilakukan adalah manipulation check, yaitu pengujian untuk memastikan bahwa skenario yang diberikan kepada responden benar-benar berhasil menciptakan kondisi eksperimen yang diinginkan. Dalam penelitian ini, manipulation check digunakan untuk melihat apakah responden benar-benar merasakan perbedaan antara hubungan teman dekat dan kenalan biasa, serta apakah responden memahami perbedaan antara kondisi self-focused dan other-focused dalam skenario yang diberikan.


Setelah memastikan manipulasi eksperimen berhasil, peneliti kemudian menguji kualitas instrumen pengukuran yang digunakan dalam penelitian. Pada tahap ini, beberapa pengujian dilakukan untuk memastikan bahwa variabel yang diukur benar-benar valid dan reliabel. Pengujian yang dilakukan antara lain meliputi:

  1. Convergent validity

Digunakan untuk memastikan bahwa indikator yang digunakan benar-benar mengukur konstruk yang sama. Pengujian ini dilakukan menggunakan nilai Average Variance Extracted (AVE) dan Composite Reliability (CR).

  1. Reliability test.

Dilakukan dengan melihat nilai Cronbach’s Alpha, yang digunakan untuk mengukur konsistensi internal dari setiap variabel penelitian

  1. Discriminant validity

Digunakan untuk memastikan bahwa setiap variabel dalam model penelitian benar-benar berbeda satu sama lain. Pengujian ini dilakukan dengan membandingkan nilai akar kuadrat AVE dengan korelasi antar variabel


Selain itu, peneliti juga menguji kemungkinan terjadinya common method bias, yaitu bias yang dapat muncul karena seluruh data dikumpulkan melalui satu metode pengukuran yang sama. Untuk menguji hal ini, peneliti menggunakan Harman’s single-factor test serta analisis Variance Inflation Factor (VIF). Setelah seluruh pengujian kualitas data tersebut dilakukan, peneliti kemudian menganalisis hubungan antar variabel dalam model penelitian menggunakan dua teknik analisis utama. Pertama, peneliti menggunakan Multivariate Analysis of Variance (MANOVA) untuk melihat bagaimana faktor eksperimen (tie strength dan focus of attention) memengaruhi reaksi emosional pengguna. Kedua, peneliti menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) dengan pendekatan Partial Least Squares (PLS) untuk menguji hubungan antara emosi yang muncul dengan perilaku pengguna media sosial, seperti sikap terhadap merek, rasa lelah menggunakan media sosial, serta keinginan untuk mengurangi penggunaan media sosial





Bagaimana Hasil Penelitiannya?


Tabel 1 Hasil Pengujian Validitas dan Validitas


Tabel 1 menampilkan hasil pengujian reliabilitas dan validitas konstruk. Tabel ini pada dasarnya memastikan bahwa variabel yang digunakan dalam penelitian benar-benar diukur dengan baik oleh indikator yang digunakan. Dalam tabel tersebut ditampilkan beberapa ukuran statistik penting, seperti Cronbach’s Alpha, Composite Reliability (CR), dan Average Variance Extracted (AVE). Nilai Cronbach’s Alpha dan Composite Reliability untuk seluruh variabel berada di atas batas yang direkomendasikan (sekitar 0.7), yang menunjukkan bahwa indikator-indikator dalam setiap variabel memiliki konsistensi internal yang baik. Selain itu, nilai AVE untuk seluruh konstruk juga berada di atas batas minimum 0.5 yang menunjukkan bahwa indikator-indikator tersebut mampu menjelaskan variabel yang diukur secara memadai. 


Adapun lebih lanjut, Tabel 1 juga  menampilkan korelasi antar variabel serta nilai akar kuadrat dari AVE pada diagonal tabel. Dalam pengujian discriminant validity, nilai akar kuadrat AVE harus lebih besar dibandingkan korelasi antar konstruk lainnya. Hasil yang ditampilkan dalam tabel menunjukkan bahwa kondisi tersebut terpenuhi untuk semua variabel. Artinya, setiap variabel dalam model penelitian benar-benar merepresentasikan konsep yang berbeda dan tidak saling tumpang tindih secara konseptual. Secara keseluruhan, hasil pada Tabel 1 menunjukkan bahwa model pengukuran yang digunakan dalam penelitian ini valid dan reliabel. Hal ini menunjukkan bahwa analisis hubungan antar variabel dapat dilakukan dengan tingkat kepercayaan yang cukup tinggi.


Setelah memastikan bahwa konstruk penelitian memiliki validitas dan reliabilitas yang memadai sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 1, peneliti kemudian menguji apakah kondisi eksperimen benar-benar memengaruhi emosi responden. Untuk tujuan ini, peneliti menggunakan Multivariate Analysis of Variance (MANOVA) untuk melihat pengaruh dua variabel eksperimen, yaitu tie strength dan focus of attention, terhadap tiga emosi utama (benign envy, malicious envy, dan pleasure). Hasil MANOVA menunjukkan bahwa tie strength memiliki pengaruh yang signifikan terhadap ketiga emosi tersebut, sedangkan focus of attention tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan.


Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa unggahan yang berasal dari teman dekat menghasilkan tingkat emosi yang lebih tinggi dibandingkan unggahan dari kenalan biasa. Untuk benign envy, perbedaan ini signifikan di mana nilai rata-rata pada kondisi weak tie sebesar 3.566, sedangkan pada kondisi strong tie sebesar 4.285. Hal serupa juga ditemukan pada malicious envy di mana rata-rata pada weak tie sebesar 1.655 dan pada strong tie sebesar 2.011. Selain itu, unggahan dari teman dekat juga menghasilkan tingkat pleasure yang lebih tinggi dengan rata-rata 4.042 pada weak tie dan 4.425 pada strong tie. Temuan ini menunjukkan bahwa kedekatan hubungan dengan orang yang mengunggah konten memainkan peran penting dalam memicu reaksi emosional pengguna media sosial.


Tabel 2 Hasil Pengujian Hipotesis


Setelah melakukan uji MANOVA, peneliti kemudian menguji hipotesis penelitian menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) dengan pendekatan Partial Least Squares (PLS). Hasil pengujian ini disajikan dalam Tabel 2 yang menunjukkan hubungan antara emosi yang muncul dari perbandingan sosial dengan perilaku pengguna media sosial. Adapun hasil pada Tabel 2 menunjukkan bahwa benign envy memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap SNS exhaustion, tetapi tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap SNS discontinuance intention. Temuan ini menunjukkan bahwa ketika seseorang merasakan iri yang bersifat memotivasi, ia cenderung tetap menggunakan media sosial meskipun mungkin merasa sedikit lelah dengan aktivitas di dalamnya. Artinya, benign envy tidak mendorong pengguna untuk sepenuhnya meninggalkan media sosial.


Sebaliknya, malicious envy menunjukkan pengaruh yang lebih kuat terhadap perilaku menghindari media sosial. Variabel ini memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap SNS exhaustion maupun SNS discontinuance intention. Artinya, ketika iri yang muncul bersifat lebih negatif, pengguna tidak hanya merasa lelah menggunakan media sosial, tetapi juga lebih cenderung mengurangi atau bahkan menghentikan penggunaannya. Adapun,, emosi positif berupa pleasure menunjukkan pengaruh yang berbeda. Meskipun secara teori diharapkan dapat mengurangi kecenderungan pengguna untuk menjauh dari media sosial, hasil analisis menunjukkan bahwa pengaruh pleasure terhadap SNS exhaustion dan SNS discontinuance tidak signifikan secara statistik. Artinya, rasa senang ketika melihat unggahan orang lain tidak secara langsung menentukan apakah seseorang akan terus menggunakan atau justru menghindari media sosial.


Terakhir, Table 2 juga menunjukkan hubungan antara emosi yang muncul dengan brand attitude yang digunakan dalam penelitian ini sebagai indikator perilaku approach. Hasil analisis menunjukkan bahwa benign envy dan pleasure memiliki pengaruh positif terhadap sikap terhadap merek, sedangkan malicious envy memiliki pengaruh negatif terhadap brand attitude. Temuan ini menunjukkan bahwa jenis iri yang berbeda dapat menghasilkan konsekuensi yang berbeda pula terhadap bagaimana seseorang memandang produk atau merek yang muncul dalam unggahan media sosial.


Kesimpulan 

Berdasarkan hasil penelitian di atas, dapat disimpulkan bahwa perbandingan sosial di media sosial memiliki pengaruh penting terhadap emosi dan perilaku penggunanya. Penelitian ini menunjukkan bahwa kedekatan hubungan sosial memainkan peran yang signifikan dalam memicu reaksi emosional ketika seseorang melihat unggahan orang lain. Unggahan dari teman dekat cenderung memunculkan tingkat benign envy, malicious envy, dan pleasure yang lebih tinggi dibandingkan unggahan dari kenalan biasa. Temuan ini menunjukkan bahwa hubungan sosial yang lebih dekat membuat proses perbandingan sosial di media sosial menjadi lebih kuat.


Lebih lanjut, penelitian ini juga menemukan bahwa dua jenis iri menghasilkan konsekuensi perilaku yang berbeda. Benign envy cenderung menghasilkan dampak yang lebih positif, seperti meningkatkan sikap terhadap merek dan tidak secara langsung mendorong pengguna meninggalkan media sosial. Sebaliknya, malicious envy justru meningkatkan rasa lelah menggunakan media sosial sekaligus mendorong pengguna untuk mengurangi atau menghentikan penggunaannya. Dengan demikian, emosi yang muncul dari perbandingan sosial di media sosial dapat mendorong pengguna untuk mendekat (approach) atau justru menjauh (avoid) dari media sosial.


Pandangan Penulis

Manusia dalam teori ekonomi seringkali digambarkan sebagai individu yang rasional dan selalu membuat keputusan secara logis untuk memaksimalkan kepuasannya. Padahal, kehidupan sehari-hari kita menunjukkan gambaran yang jauh lebih kompleks. Kita bukan mesin yang hanya memproses informasi secara dingin, melainkan makhluk yang memiliki emosi dan mudah tersentuh oleh apa yang terjadi di sekitar kita. Ketika melihat orang lain membagikan kebahagiaan di media sosial, entah itu hubungan yang terlihat harmonis, perjalanan ke tempat baru, atau pencapaian tertentu, reaksi yang muncul sering kali datang dari perasaan. Dari situlah muncul dorongan kecil untuk membandingkan diri dengan orang lain.


Dorongan tersebut juga menjelaskan mengapa dalam banyak kasus seseorang terdorong untuk mengikuti gaya hidup yang terlihat di sekitarnya, bahkan ketika kemampuan ekonominya sebenarnya tidak sebesar itu. Tidak sedikit orang yang akhirnya mengejar gaya hidup yang lebih mewah karena ingin terlihat setara dengan lingkungan sosialnya. Dalam ekonomi, perilaku seperti ini sering dikaitkan dengan konsumsi berbasis status, di mana barang dibeli hanya karena makna sosial yang melekat pada barang tersebut. Fenomena ini pula yang membuat banyak brand memainkan sisi emosional konsumen. Brand kemudian tidak hanya menjual produk, tetapi juga gambaran tentang kehidupan yang ingin dimiliki banyak orang. Contohnya seperti IPhone yang dianggap sebagai simbol status dan kekayaan.


Pada akhirnya, media sosial hanya memperbesar proses yang sebenarnya sudah lama ada dalam kehidupan manusia: kecenderungan untuk melihat, membandingkan, dan kemudian menilai diri sendiri melalui kehidupan orang lain. Kita mungkin tidak bisa mengontrol apa yang akan diposting orang lain di media sosial. Akan tetapi, kita masih memiliki satu hal yang sepenuhnya berada dalam kendali kita sendiri, yaitu bagaimana kita memilih untuk merespons apa yang kita lihat.


 
 
 

Comments

Rated 0 out of 5 stars.
No ratings yet

Add a rating
bottom of page