top of page

Di Balik Padatnya Commuter: Peran Kota, Akses, dan Persepsi dalam Menggerakkan Penumpang Commuter

Sumber: Dokumen Pribadi
Sumber: Dokumen Pribadi

Judul Artikel: Urban environmental factors influencing commuter line ridership in the Jakarta Metropolitan Area, Indonesia

Penulis           : Devina Widya Putri, Sugie Lee

Tahun Terbit  : 2025

Jurnal             :  Journal of Transport Geography

Diulas oleh     : Raihan Jihad Kariastanto dan Claudia Joy Sabiruddin



Kota, Mobilitas, dan Masalah yang Tak Selesai di Jakarta

Transportasi umum berbasis rel menjadi tulang punggung mobilitas di berbagai metropolitan dunia. Di berbagai kota besar seperti Tokyo dengan populasi 37 juta jiwa  mencatat sekitar 4 miliar penumpang pada tahun 2019, Shanghai (populasi 27 juta) 2,8 miliar penumpang pada tahun 2020 dengan 403 stasiun, dan New York melayani jumlah penumpang hampir 1,8 miliar pada tahun 2022 dengan 424 stasiun. Jumlah perjalanan yang sangat besar ini menunjukkan betapa pentingnya sistem kereta bawah tanah bagi pergerakan masyarakat di kota-kota besar. 

Di Indonesia, khususnya di Jabodetabek, tantangan penyediaan transportasi masih tinggi meskipun wilayah ini menjadi pusat utama negara. Sekitar 3,3 juta orang commuting setiap hari di Jabodetabek, akan tetapi hanya 28% yang memilih menggunakan transportasi umum (Badan Pusat Statistik Indonesia, 2019). Hal ini menjadikan Jakarta sebagai kota dengan kemacetan terburuk ke-29 di dunia (Tempo, 2023). Di antara jenis transportasi yang ada, jalur komuter adalah yang paling banyak digunakan (45% pengguna transportasi umum) dengan melayani wilayah yang sangat luas dengan jumlah penduduk 31 juta jiwa, akan tetapi  hanya didukung 79 stasiun dengan total 153 juta penumpang pada 2020, jauh lebih rendah dibandingkan kota metropolitan lain (Badan Pusat Statistik Indonesia, 2019). Oleh karena itu, saat ini daerah Jabodetabek mulai mengembangkan mass rapid transit (MRT) dan light rapid transit (LRT) untuk menjangkau area yang belum terlayani, sehingga pemahaman terhadap permintaan layanan dan cara meningkatkan jumlah penumpang kereta menjadi sangat penting. 

Interaksi penggunaan lahan dan transportasi saling mempengaruhi (Rodrigue, 2020) dan integrasinya penting untuk menciptakan kota berkelanjutan yang tidak bergantung pada kendaraan pribadi (Suzuki et. al., 2013). Studi sebelumnya di negara maju, seperti di Xi’an (Du et. al., 2022), Madrid (Calvo et. al., 2019), dan Houston (Lanza et. al., 2020) menunjukkan hubungan antara penggunaan lahan, aksesibilitas, dan karakteristik stasiun dengan jumlah penumpang, meskipun umumnya dalam studi di negara maju, area sekitar stasiun (area tangkapan) diasumsikan berbasis jarak berjalan kaki. Akan tetapi, negara berkembang memiliki kondisi berbeda, seperti pertumbuhan yang pesat, kemiskinan, kepadatan, dan infrastruktur terbatas yang mempengaruhi mobilitas (Cervero, 2013). Di Jabodetabek, perumahan informal (perkampungan)  dan moda yang tidak terintegrasi membuat jaringan antar-moda sangat menentukan jumlah penumpang. Oleh karena itu, artikel ini menilai pengaruh area tangkapan stasiun terhadap jumlah penumpang jalur komuter di Jabodetabek. 

Di Jabodetabek, pengembangan kawasan berbasis transportasi masih lemah dan banyak permukiman informal berkembang tanpa perencanaan. Hal ini membuat warga lebih bergantung pada kendaraan pribadi dan angkutan informal (angkot, bajaj, ojek pangkalan). Akibatnya, penumpang harus menempuh jarak jauh untuk mencapai stasiun, yaitu rata-rata 4,2 km dari rumah dan 3,7 km dari tempat kerja (Saffan & Rizki, 2018). Penelitian tentang persepsi penggunaan terhadap transportasi umum masih terbatas (Delbosc & Currie, 2012; Shin, 2023a), meskipun setelah pandemi mulai bermunculan studi studi mengenai persepsi penggunaan transportasi umum  (Kim dkk., 2021; Kapatsila et. al., 2022). Namun, studi-studi tersebut belum memasukkan faktor lingkungan sekitar. Oleh karena itu, penelitian ini menggabungkan variabel persepsi, kondisi stasiun, dan lingkungan sekitar untuk memahami penggunaan angkutan umum di jalur komuter Jabodetabek dan mendukung perencanaan transportasi ke depan.


Apa faktor lingkungan kota yang membentuk naik-turunnya jumlah penumpang commuter line di Jakarta?

Artikel ini mencoba menjawabnya melalui pendekatan yang cukup komprehensif, yakni dengan menggabungkan data penggunaan lahan, fungsi stasiun, akses antar moda, hingga persepsi pengguna yang diambil dari rating dan review Google Maps. Tujuan dari artikel ini adalah untuk mengetahui bagaimana pendekatan - pendekatan tersebut dapat mempengaruhi jumlah penumpang atau yang biasa disebut ridership.


Untuk  mengetahui pengaruh faktor lingkungan kota terhadap jumlah penumpang commuter, diperlukan metodologi yang tepat. Penelitian ini menggunakan metode regresi Lasso untuk melihat hubungan antara persepsi, lingkungan sekitar, dan dengan jumlah pengguna commuter.


Apa Pendekatan yang Digunakan ?


  1. Bagaimana jaringan antar moda dan kondisi lingkungan mempengaruhi ridership ? Area yang dicakup pada penelitian ini berada di sekitar Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Tangerang Selatan, dan Bekasi). 11,1% penduduk dari 29,3 juta penduduk Jabodetabek menggunakan commuter line dibandingkan  dengan transportasi lain seperti MRT, LRT, Transjakarta, dan mikro trans yang belum mencakup seluruh daerah Jabodetabek sehingga menjadikan commuter line sebagai transportasi vital. Akan tetapi, commuter line hanya memiliki 5 jalur dan 79 Stasiun yang menyebabkan rendahnya cakupan commuter line dibandingkan dengan luasnya Jabodetabek, hal ini terefleksi dari jarak first miles (perjalanan awal) and last miles trip (perjalanan akhir) 

  2. Layanan Transportasi Penunjang

Layanan transportasi online yang menjadi pilihan utama masyarakat, merupakan ciri khas di negara Asia tenggara yang tidak dapat dipisahkan seiring perkembangan teknologi. Perubahan ini mendapat respon yang beragam dari positif seperti munculnya pick up point di sekitar commuter line dan negatif dengan munculnya perebutan penumpang yang dapat dirasakan di sekitar kawasan commuter line. Oleh karena itu, penting untuk mempertimbangkan faktor seperti lahan parkir dan pickup point transportasi online. Tak hanya transportasi online, moda transportasi lain seperti Transjakarta dan Jaklingko juga dapat menjadi penunjang bagi para pengguna commuter untuk mencapai stasiun tujuan.


  • Kondisi Pemukiman Sekitar

Indonesia memiliki jenis kawasan yang unik dan berbeda, yaitu perumahan dan kampung. Perumahan merujuk pada kawasan yang dibangun pengembang dengan kecenderungan ditinggali masyarakat ekonomi menengah keatas. Sementara itu, kampung adalah lingkungan dibangun swadaya oleh masyarakat dengan lingkungan yang beragam dari yang tertata hingga tidak tertata, akan tetapi kampung dengan kepadatan tinggi dan kurang tertata cenderung dihuni masyarakat berpendapatan rendah. Penelitian sebelumnya menggabungkan pemukiman sebagai 1 variabel, padahal setiap pemukiman punya karakteristik berbeda.


  1. Pengumpulan data

  2. Lingkungan Sekitar

Dalam studi ini membedakan 6 tipe permukiman dan lahan komersial, dan bagaimana pengaruhnya pada jumlah penumpang pada hari kerja dan akhir pekan. Klasifikasi ini didasarkan berdasarkan data dari peta penggunaan Badan Pertanahan Nasional yang kemudian diklasifikasikan dalam 6 tipe pemukiman di seluruh 79 stasiun. Untuk jarak pada studi ini diambil dengan radius 1500 meter berbeda dengan studi terdahulu yang menggunakan jarak berjalan (400-800 meter) dikarenakan masyarakat cenderung menggunakan kendaraan untuk mencapai stasiun. Jarak yang digunakan dalam penelitian ini adalah 1500 meter, dikarenakan berdasarkan percobaan pada tabel 1. Pada tabel 1, dapat dilihat bahwa 1500 meter merupakan jarak ideal dimana nilai margin of error berada pada titik terendah dan nilai kecocokan (R²) yang tinggi menunjukkan kualitas dari bagaimana radius jarak menggambarkan variasi lingkungan dan jumlah penumpang pada commuter line paling baik. 

    


Tabel  1: Model Fit Catchment Area

  • Jaringan Antar Moda/Ride Hailing

Studi ini memasukkan variabel integrasi stasiun dengan halte Bus Rapid Transit atau halte Transjakarta, ketersediaan parkir motor dan mobil, serta titik jemput ride hailing (titik penjemputan) karena sebagian besar pengguna tidak datang ke stasiun dengan berjalan kaki (Saffan & Rizki, 2018). Fasilitas seperti parkir yang memadai atau titik jemput resmi menjadikan perjalanan first mile/last mile lebih nyaman sehingga mendorong lebih banyak orang memakai commuter line. Selain itu, tingginya penggunaan ride hailing di Jabodetabek membuat titik jemput yang tertata penting agar akses ke stasiun lebih lancar dan tidak memicu konflik di sekitar area stasiun. Tak hanya itu, stasiun yang terdapat BRT, lokasi transit maupun sebagai pemberhentian terakhir dapat menjadi faktor masyarakat untuk menggunakan kereta commuter. Dengan demikian, variabel ini membantu melihat bagaimana kemudahan berpindah moda transportasi dapat meningkatkan jumlah pengguna commuter line. 

  • Persepsi Masyarakat

Persepsi masyarakat terhadap stasiun commuter line diukur menggunakan rating bintang dan ulasan Google Maps tahun 2022. Setiap stasiun memiliki ratusan ulasan yang berisi komentar mengenai kenyamanan, kebersihan, keamanan, fasilitas, dan pengalaman pengguna. Data ini kemudian diolah dengan analisis sentimen menggunakan TextBlob, yaitu metode berbasis pemrosesan bahasa alami yang memberi nilai polaritas dari –1 (sangat negatif) sampai +1 (sangat positif). Untuk mengecek akurasi, peneliti memeriksa 211 ulasan secara manual (10% sampel) dan 94,31% hasil TextBlob cocok dengan penilaian manusia. Karena akurasinya tinggi, rata-rata nilai sentimen tiap stasiun dianggap valid dan digunakan sebagai variabel persepsi untuk menunjukkan seberapa positif atau negatif pandangan masyarakat terhadap stasiun.

  1. Pendekatan Analisis dengan Regresi Lasso

Penelitian ini menggunakan Regresi Lasso dimana menunjukkan kinerja yang akurat dalam memprediksi pengaruh variabel-variabel terhadap jumlah penumpang commuter line. Regresi Lasso dipilih karena memiliki MRE dan MAE  (kemungkinan kesalahan data) yang lebih kecil ketika diterapkan pada sampel data yang ada.

Tabel 2

Perbandingan kinerja model antara regresi OLS dan Lasso

Tabel tersebut memperlihatkan kalau metode Lasso Regression lebih efisien dari pada metode OLS terlihat dari MRE dan MAE yang lebih kecil dibandingkan metode OLS. Hal ini dikarenakan faktor banyaknya jumlah sampel yang sedikit menyebabkan regresi lasso dapat lebih baik dalam menjelaskan hubungan variabel yang ada dengan jumlah ridership.


Temuan Penelitian

  1. Relasi Variabel dengan Jumlah Penumpang Kereta Commuter.

Berdasarkan hasil Lasso Regression pada tabel 3 terdapat beberapa variabel yang memiliki pengaruh yang berbeda pada hari kerja dan akhir pekan. Dalam hal ini, terdapat pengaruh yang berbeda dari berbagai jenis permukiman. Seperti kawasan permukiman kampung tidak terorganisir berkepadatan tinggi memiliki dampak positif terbesar pada jumlah penumpang, sementara kawasan perumahan berkepadatan rendah memiliki dampak negatif. Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan preferensi yang jelas antara rumah tangga berpenghasilan tinggi dan rendah terhadap penggunaan commuter line.

Selain itu, koneksi antar jenis transportasi memainkan peran penting, terutama fasilitas parkir motor dan titik ride-hailing yang secara positif meningkatkan jumlah penumpang. Hal ini menekankan pentingnya motor dan ride hailing sebagai moda first-and-last-mile untuk mengakses stasiun, mengingat jarak tempuh yang jauh di Jabodetabek dan keterbatasan jaringan. Di sisi lain, integrasi stasiun dengan Bus Rapid Transit (BRT) justru berdampak negatif. Hal ini dapat terjadi karena perbedaan sistem tarif di Jabodetabek. Pengguna harus membayar penuh setiap kali pindah moda, sehingga mereka cenderung memilih BRT sebagai pengganti (substitute) daripada pelengkap (complementary) dari commuter line. Terakhir, persepsi pengguna juga sangat penting, baik peringkat stasiun maupun sentimen ulasan (ulasan positif) di Google Maps berkolaborasi positif dengan jumlah penumpang commuter line. Hal ini menunjukkan bahwa kepuasan fungsional yang rinci, termasuk kenyamanan dan aspek keamanan stasiun, sangat mempengaruhi keputusan pengguna untuk menggunakan layanan tersebut. Temuan ini menekankan bahwa pengembangan angkutan umum di Jabodetabek  harus mempertimbangkan keterjangkauan perumahan, memfasilitasi perjalanan first and last miles trip, dan meningkatkan desain serta fasilitas stasiun untuk menjamin kenyamanan dan keamanan pengguna. 

Contohnya dapat dilihat pada perbandingan antara stasiun Nambo dan Stasiun Bogor pada gambar 2 yang merupakan stasiun akhir pada jalurnya masing-masing. Namun, Stasiun Bogor merupakan stasiun dengan jumlah penumpang tertinggi, berbanding terbalik dengan Stasiun Nambo. Hal ini disebabkan perbedaan lingkungan dan fasilitas penunjang. Pada Stasiun Bogor terlihat bahwa lingkungan stasiun dikelilingi oleh hunian padat penduduk, akses ke jalan utama dan dilengkapi lahan parkir yang luas. Di lain sisi, Stasiun Nambo memiliki akses yang sempit, keterbatasan lahan parkir, dan dikelilingi lahan pertanian.




     Tabel 3

                              Koefisien regresi Lasso dari variabel prediktor



Gambar 1. perbandingan lingkungan dan fasilitas Stasiun Bogor dan Nambo


KESIMPULAN: 

Penelitian ini berhasil menjawab hipotesis mengenai faktor-faktor yang  mempengaruhi jumlah penumpang commuter line di Jabodetabek. Melalui analisis lingkungan sekitar, ride hailing, dan persepsi masyarakat, hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiganya terbukti memiliki peran signifikan dan beragam terhadap tingkat penggunaan. Temuan-temuan tersebut juga konsisten dengan hipotesis awal peneliti, bahwa kondisi sekitar stasiun, akses menuju stasiun, serta persepsi pengguna berkontribusi langsung pada besarnya jumlah penumpang. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya memvalidasi hipotesis, tetapi juga memberikan dasar empiris yang kuat untuk memahami pola permintaan commuter line dan arah perbaikan transportasi di Jabodetabek.


Pandangan Penulis 

  1. Relevansi urban:

Penggunaan Commuter Line mencerminkan ritme hidup kota besar dimana mobilitas tinggi menjadi kebutuhan untuk mengejar pekerjaan dan aktivitas harian.

  1. Tantangan struktural:

Banyak stasiun belum ditunjang akses pejalan kaki yang baik, ruang publik yang aman, dan konektivitas moda yang memadai, sehingga menurunkan minat penggunaan.kereta.

  1. Persepsi & pengalaman pengguna:

Kondisi lingkungan sekitar stasiun membentuk pengalaman perjalanan. Ulasan negatif banyak muncul akibat fasilitas buruk dan area stasiun yang kurang nyaman.

  1. Paradoks mobilitas:

Kereta adalah solusi tercepat untuk mengurangi macet, tetapi kualitas lingkungan kota justru membatasi potensi peningkatan penggunaannya.

  1. Pertanyaan reflektif:

Sampai kapan mobilitas Jabodetabek bergantung pada adaptasi individu, sementara masalah struktural kota belum terselesaikan?


 
 
 
bottom of page