Does the Logo Scream Louder than the Attention It Gets? : Mengulik Strategi Visual Brand Fashion Luxury vs Fast Fashion di Instagram
- KANOPI FEB UI
- Jan 16
- 12 min read

Judul Artikel : Visual strategies of luxury and fast fashion brands on Instagram and their effects on user engagement
Penulis : Jinyoung Jinnie Yoo
Tahun Terbit : 2023
Jurnal : Journal of Retailing and Consumer Services
Diulas oleh Mazya Alfi Shabrina Aminova dan Nindya Ardelia Sari
Bagi banyak orang, pakaian bukan sekadar kain yang melekat pada tubuh, melainkan juga bentuk ekspresi identitas, aspirasi, bahkan indikator status sosial. Hal ini menjadikan preferensi fashion sangat subjektif, mulai dari luxury brand yang menawarkan kualitas dibalut dengan eksklusivitas, hingga fast fashion yang menjangkau seluruh kalangan dengan produk bervariasi. Belum lagi, faktor lainnya seperti ikatan emosional terhadap merek atau strategi marketing yang memikat turut memengaruhi keputusan konsumen dalam membeli produk fashion. Terlebih, media sosial, khususnya Instagram, berperan besar dalam menaikkan brand awareness dan memperluas jangkauan pasar. Lantas, manakah yang lebih baik bagi citra sebuah merek fashion di Instagram, tampil mencolok dengan logo atau tampil kalem dengan identitas visual yang terselubung?
Brand Luxury vs Fast Fashion
Preferensi konsumen terhadap luxury brand dan merek fast fashion salah satunya didasari oleh motif penggunaan merek tersebut. Bagi konsumen produk fashion luxury, motif penggunaan pakaian adalah sebagai simbol kekuatan dan status sosial (Mrad et al., 2020). Di sisi lain, motif konsumen memilih produk fast fashion seringkali berkaitan dengan banyaknya variasi yang ditawarkan sehingga konsumen terus tertarik untuk membeli koleksi terbaru tiap musimnya. Fast fashion juga kerap membuat produk dengan desain yang mirip luxury brand, namun dengan harga yang jauh lebih rendah.
Jadi, Apa Tujuan dari Penelitian Ini?
Menelusuri penggunaan nama merek dan logo dalam konten gambar di Instagram
Mengeksplor penggunaan teks dan hashtag sebagai pelengkap konten gambar
Membandingkan konten gambar dari luxury brand dan fast fashion di Instagram terkait dengan variabel yang telah disebutkan sebelumnya
Menganalisis reaksi pengguna Instagram terhadap berbagai gambar berdasarkan variabel yang telah disebutkan sebelumnya
Luxury Brand di Media Sosial
Luxury brand dikenal dengan produk yang eksklusif, berkualitas tinggi, bahkan kerap kali dibuat khusus bagi pelanggannya. Beberapa ciri tersebut menunjukkan adanya kontradiksi antara luxury brand yang dianggap tidak untuk semua orang dan sosial media yang cenderung interaktif dan bisa menjangkau seluruh kalangan (Desai, 2016; Yoo and Choi, 2022). Namun, banyak konsumen luxury brand berpendapat bahwa Instagram merupakan platform yang memungkinkan untuk berbagi pengalaman penggunaan produk dan berinteraksi antarsesama konsumen luxury brand. Hal ini juga berimplikasi pada minat membeli produk yang semakin tinggi. Sementara itu, dari sisi merek, media sosial dimanfaatkan untuk membangun serta memperkuat citra merek dan berkomunikasi dengan para konsumen.
Fast Fashion Brand di Media Sosial
Brand fast fashion identik dengan produksi massal yang mengakibatkan konsumen cepat bosan dengan model pakaian yang itu-itu saja dan hampir tidak memiliki keunikan (Kim, 2018). Merespons tantangan tersebut, merek fast fashion mengatur strategi dengan mempersingkat waktu pemajangan produk dan mengganti koleksi pada setiap musim, umumnya 3–4 bulan sekali. Oleh karena itu, merek fast fashion memanfaatkan sosial media untuk mengiklankan produk, memperluas jangkauan pasar dengan promosi melalui selebriti dan publik figur, hingga mengumumkan berbagai penawaran menarik seperti potongan harga, voucher, dan lain sebagainya. Di sisi lain, konsumen merek fast fashion menjadikan sosial media sarana untuk mengunggah gaya berpakaian terbaru melalui konten outfit harian atau outfit of the day.
Instagram dan Perannya dalam Pemasaran Produk, Seberapa Pentingkah?
Instagram dinobatkan sebagai media sosial paling berpengaruh di dunia (Djafarova dan Bowes, 2021). Instagram memiliki lebih dari dua miliar pengguna dengan mayoritas pengguna berusia 18–34 tahun dan 90 persen di antaranya mengikuti setidaknya satu akun merek (Embeded Social, 2023). Hal ini menjadikan Instagram platform yang cocok bagi merek untuk melakukan promosi dengan mengunggah konten, baik berupa foto, video reels, bahkan melakukan siaran langsung. Selain sebagai ajang untuk promosi produk, Instagram juga kerap dimanfaatkan oleh merek untuk memperkuat brand image melalui unggahan konten yang dapat dicirikan dengan tema atau palet warna tertentu sebagai ciri khas dari merek tersebut. Tak hanya itu, banyaknya konsumen yang memberikan kritik, saran, dan berbagi pengalaman penggunaan produk melalui akun Instagram menjadikan aplikasi ini turut berfungsi sebagai sarana komunikasi antara sesama konsumen maupun antara konsumen dengan merek.
Konten Visual dari Luxury dan Fast Fashion Brand
Nama Merek dan Logo
Identitas merek adalah pendorong utama performa pemasaran di industri fashion (Amatulli et al., 2021). Namun, pengguna Instagram cenderung terganggu oleh konten yang terlalu promosi dan komersial (Evans et al., 2017; Yoo and Choi, 2022). Untuk meminimalisir gangguan, pemasar beralih ke iklan yang lebih samar dengan keunggulan merek (brand prominence) yang rendah. Brand prominence mengacu pada sejauh mana tanda pembeda merek mudah dikenali (Aw et al., 2021; Han et al., 2010).Â
Reaksi Negatif terhadap Nama Merek dan Logo yang Menonjol
Studi menunjukkan bahwa iklan yang secara langsung menampilkan nama dan logo merek secara menonjol tidak selalu memicu reaksi positif dari pengguna media sosial (Çukul, 2015; Manovich, 2016).
Pengecualian: Luxury BrandÂ
Luxury brand seringkali dibeli untuk memproyeksikan status sosial. Konsumen menginginkan nama dan logo merek ditampilkan secara mencolok untuk mengekspresikan identitas dan status mereka (Amatulli et al., 2021). Oleh karena itu, luxury brand sering menonjolkan nama dan logo meskipun ada permintaan yang meningkat untuk strategi yang lebih "tenang" (Aw et al., 2021; Shao et al., 2019). Sementara itu, untuk fast fashion brand, visual konten di Instagram mungkin lebih penting untuk menampilkan desain dan gaya terbaru serta informasi promosi yang menarik, daripada sekadar menekankan penanda merek yang menonjol.
RQ 1–1. Seberapa sering nama merek dan logo muncul dalam gambar di Instagram?
RQ 1–2. Ketika muncul, seberapa besar ukuran nama merek dan logo?
RQ 1–3. Bagaimana pengaruh penggunaan nama merek dan logo terhadap user engagement?
RQ 1–4. Adakah perbedaan luxury brand dan fast fashion brand dalam penggunaan nama merek dan logo serta apa dampaknya terhadap user engagement?Â
Embedded Text
Instagram terus berkembang dengan fitur-fitur baru yang membedakannya dari platform media sosial lain dan membentuk standar estetikanya sendiri (Manovich, 2016; Yoo dan Choi, 2022). Pengguna Instagram menghargai konten visual di platform tersebut dan melihatnya sebagai karya seni (Lee et al., 2015). Baik luxury brand maupun fast fashion harus mempertimbangkan untuk menggabungkan strategi visual yang sesuai dengan estetika Instagram dalam postingan gambar mereka agar memiliki peluang lebih tinggi untuk dilihat dan menarik keterlibatan (engagement). Konsumen cenderung kurang tertarik dengan konten visual Instagram apabila konten tersebut mengandung informasi promosi yang secara langsung mengiklankan atau menjual produk (Çukul, 2015; Manovich, 2016). Oleh karena itu, penggunaan teks yang tertanam di dalam gambar (embedded text) berpotensi dianggap mengganggu oleh pengguna.
RQ 2–1. Seberapa sering teks muncul dalam gambar di Instagram?Â
RQ 2–2. Ketika muncul, seberapa sering teks tersebut merupakan pesan promosi?Â
RQ 2–3. Bagaimana pengaruh penggunaan teks terhadap user engagement?Â
RQ 2–4. Adakah perbedaan luxury brand dan fast fashion brand dalam penggunaan teks serta apa dampaknya terhadap user engagement?Â
Hashtag
Hashtag (tagar)  adalah fitur penting di media sosial yang digunakan untuk mengekspresikan perasaan, opini (Kim dan Phua, 2020), atau mengomunikasikan ide, termasuk pesan iklan. Fungsi yang lebih penting dari hashtag adalah menyediakan cara sederhana bagi konsumen untuk berinteraksi dengan merek. Pengguna dapat mencari postingan topik tertentu hanya dengan mengklik hashtag yang terhubung (Kim dan Phua, 2020).
Bagi fast fashion brand, hashtag berfungsi sebagai alat pemasaran penting untuk menjaga kontak erat dengan konsumen (Chae et al., 2015). Mereka juga dapat mempromosikan e-WOM (electronic Word-of-Mouth) yang efektif dengan memicu minat dan partisipasi konsumen melalui hashtag (Shin et al., 2018).
Untuk luxury brand, hashtag yang menggunakan nama merek cenderung mengundang respons positif karena nama atau logo luxury brand membangkitkan identitas merek dan makna simbolis yang signifikan (Kim dan Phua, 2020; Park et al., 2021).
RQ 3–1. Seberapa sering tagar muncul dalam gambar di Instagram?
RQ 3–2. Bagaimana pengaruh penggunaan tagar terhadap user engagement?
RQ 3–3. Apakah terdapat pola penggunaan tagar pada luxury brand dan fast fashion brand?Â
User Engagement
Secara umum, konsep engagement mengacu pada kondisi psikologis di mana individu bersedia memiliki pengalaman interaktif dengan objek yang menjadi fokus, seperti perusahaan atau merek (Brodie et al., 2011, 2013). Pengukuran engagement di media sosial berkaitan dengan interaksi pengguna, tingkat keterlibatan diukur berdasarkan jenis-jenis interaksi pengguna seperti likes, comments, dan shares (del RocÃo Bonilla Quijada et al., 2021). Namun, studi berfokus pada jumlah likes sebagai indikator karena memungkinkan pengguna menunjukkan kesenangan atau dukungan terhadap konten tanpa harus meninggalkan komentar (Li dan Xie, 2020).
Data yang Dikumpulkan
Penelitian ini menggunakan data berupa gambar dari unggahan akun Instagram resmi dari tiga luxury brand dan tiga fast fashion brand yang dipilih berdasarkan jumlah pengikut terbanyak pada akun Instagram (per tahun 2023). Tiga merek dari kategori luxury mencakup Chanel, Gucci, dan Louis Vuitton, sementara dari fast fashion brand adalah Zara, H&M, Forever21. Pengumpulan data dilakukan menggunakan Python-based Instagram Crawler yang mengunduh seluruh konten dan metadata Instagram akun-akun tersebut, namun unggahan yang digunakan hanya berupa foto tanpa menggunakan unggahan video pendek atau reels. Peneliti berhasil mengumpulkan 20.086 foto, 8.070 dari unggahan akun luxury brand dan 10.016 dari akun fast fashion.Â
Kemudian, dilakukan data processing pada foto-foto tersebut dengan menggunakan tools seperti LOGOGRAB dan Amazonrekognition. LOGOGRAB digunakan untuk menganalisa ketersediaan logo di dalam foto dan juga menganalisa ukuran logo tersebut. Amazonrekognition digunakan untuk menganalisa foto dan objek yang terdapat di dalam foto, seperti teks. Selain itu, metadata diobservasi dengan metadata handler yang dapat menganalisis engagement dari unggahan tersebut seperti jumlah komen dan suka.Â

Gambar 1. Proses pengambilan data
Berikut ini adalah daftar variabel yang terdapat pada dataset:
Tabel 1. Daftar variabel dan deskripsi konten visual
Kategori | Variabel | Deskripsi |
Teks | Penggunaan | menggunakan teks atau tidak |
Isi | teks berisi pesan promosi atau tidak | |
Nama merek | Penggunaan | menggunakan nama merek dengan jelas atau tidak |
Ukuran | persentase ukuran nama merek pada gambar | |
Logo | Penggunaan | menggunakan logo atau tidak |
Ukuran | persentase ukuran logo pada gambar | |
Tagar | Penggunaan | menggunakan tagar atau tidak |
Bentuk | bentuk tagar: tagar saja, tagar dan caption, caption saja, tidak ada | |
Isi | tagar berisi pesan promosi atau tidak |
Selain itu, peneliti juga mengumpulkan data dari penggunaan hashtag atau tagar pada unggahan foto-foto tersebut. Jumlah keseluruhan tagar adalah 39.208 dengan 20.259 dari akun luxury brand dan 18.949 dari akun fast fashion brand. Kemudian, peneliti melakukan data cleaning dengan menghapus tagar yang tidak berbahasa inggris menggunakan alat Spacy.id ini dilakukan agar tidak terjadi language bias. Peneliti juga menghapus karakter seperti emoji dan simbol serta hanya mengumpulkan tagar dari keseluruhan caption.
Metode Penelitian
Dari dataset yang dikumpulkan peneliti, dilakukan serangkaian analisis untuk memahami bagaimana elemen visual digunakan oleh luxury brand dan fast fashion, serta bagaimana elemen tersebut memengaruhi jumlah likes. Pertama, peneliti menghitung frekuensi kemunculan tiap elemen visual (nama merek, logo, teks, dan tagar) untuk melihat pola penggunaan dasar. Perbedaan pola ini kemudian diuji menggunakan Chi-Square untuk memastikan apakah distribusinya berbeda secara signifikan antara kedua kategori merek.
Selanjutnya, untuk menganalisis bagaimana elemen visual memengaruhi engagement, peneliti menggunakan Two-Way ANOVA. Dalam analisis ini, terdapat dua faktor: kategori merek (luxury vs fast fashion) dan keberadaan elemen visual (ada vs tidak ada). ANOVA digunakan untuk melihat apakah kedua faktor tersebut menghasilkan perbedaan signifikan dalam jumlah likes, serta apakah ada interaksi antar keduanya. Nilai F-value yang besar menunjukkan bahwa perbedaan antar kelompok lebih dominan daripada variasi di dalam kelompok, sehingga perbedaannya signifikan.Â
Selain itu, peneliti juga menggunakan multiple regression untuk menguji apakah ukuran logo dan brand name memiliki pengaruh signifikan terhadap engagement ketika dianalisis bersama variabel kontrol lainnya. Regresi ini membantu menunjukkan apakah elemen-elemen visual tersebut memiliki efek positif atau negatif terhadap jumlah likes ketika faktor lain sudah diperhitungkan. Terakhir, dengan membandingkan rata-rata likes pada tiap kondisi (misalnya luxury + logo vs fast fashion + logo), peneliti mengidentifikasi pola pengaruh yang berbeda untuk kedua jenis merek.
Ringkasan Temuan: Apa yang Sebenarnya Disukai Audiens?
Penggunaan Nama Merek
Dari seluruh foto yang telah dikumpulkan, hanya sedikit yang mencantumkan nama merek secara jelas, yaitu 5.6%. Berdasarkan hasil uji Chi-Square, luxury brand lebih banyak mencantumkan nama brand mereka dalam foto unggahan dibanding fast fashion brand. Kemudian, peneliti melakukan uji ANOVA dua arah untuk dua kategori variabel, kelompok variabel pertama berisi kategori merek (luxury brand vs fast fashion brand) dan kelompok kedua berisi penggunaan nama merek (ada vs tidak ada), dengan menggunakan variabel dependen jumlah likes yang menunjukkan seberapa tinggi engagement postingan tersebut.
Hasilnya, penggunaan nama merek memiliki pengaruh yang berbeda pada kedua kategori merek. Untuk luxury brand, mencantumkan nama brand berpengaruh positif pada jumlah likes, ini ditunjukkan dengan peningkatan rata-rata jumlah likes. Sementara pada fast fashion brand, penggunaan nama merek justru menurunkan rata-rata jumlah likes pada unggahan mereka.
Selain itu, ukuran nama merek hanya menutupi 2.64% dari keseluruhan gambar dan berdasarkan hasil analisis multiple-regression, tidak terdapat pengaruh signifikan dari kategori merek dan ukuran nama merek.
Tabel 3. Hasil ANOVA pada likes


Gambar 2. Hasil ANOVA : Kategori merek x Penggunaan nama merekÂ
Penggunaan Logo
Untuk analisis penggunaan logo, dari seluruh foto hanya 5.4% (1.085 foto) yang menampilkan logo, 9.5% pada luxury brand dan 2.5% pada fast fashion. Uji chi-square membuktikan pola ini konsisten dan luxury brand lebih banyak menampilkan logo. Selain itu, hasil ANOVA (lihat Tabel 3) juga menemukan adanya perbedaan pengaruh antara kategori brand (luxury vs fast fashion) dan penggunaan logo (ada vs tidak ada). Jika dilihat dari nilai rata-rata, penggunaan logo pada luxury brand meningkatkan engagement. Sebaliknya, pada fast fashion, foto tanpa logo justru mendapat lebih banyak likes (lihat Gambar 3).
Dari segi ukuran logo, rata-rata logo hanya menempati sekitar 1.54% area foto. Hasil multiple regression (lihat Tabel 4) menunjukkan hubungan yang cukup signifikan antara kategori brand dan ukuran logo. Namun, setelah dilakukan analisis terpisah, ukuran logo ternyata tidak terlalu berpengaruh pada luxury brand, sedangkan pada fast fashion pengaruhnya justru cukup signifikan. Koefisien negatif menunjukkan bahwa semakin besar logo, semakin rendah jumlah likes.
Tabel 4. Hasil Analisis multiple-regression pada likesÂ


Gambar 4. Hasil ANOVA : Kategori merek x Penggunaan logo merek
Penggunaan Teks dalam Foto
Untuk penggunaan teks di dalam foto (bukan caption), sebanyak 52.3% dari seluruh foto mengandung teks. Uji chi-square menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara penggunaan teks dan kategori brand karena keduanya memiliki proporsi yang hampir sama (luxury = 52.6%, fast fashion = 52.2%). Namun, hasil ANOVA menunjukkan adanya perbedaan pengaruh terhadap jumlah likes. Nilai mean menunjukkan bahwa pada luxury brand, penggunaan teks terbukti meningkatkan likes, sedangkan pada fast fashion justru menurunkan likes.
Selain itu, dari seluruh foto yang mengandung teks, hanya 1.0% yang berisi teks promosi. Hasil ANOVA menunjukkan tidak ada interaksi signifikan antara kategori brand dan keberadaan teks promosi (lihat Tabel 3). Artinya, efek penggunaan teks berisi pesan promosi tidak berbeda antara luxury dan fast fashion. Keduanya sama-sama menunjukkan hubungan negatif, yang terlihat dari nilai mean pada luxury dan pada fast fashion.
Penggunaan Hashtag
Untuk penggunaan tagar, sebanyak 85.3% dari seluruh postingan menggunakan setidaknya satu tagar di caption. Uji chi-square menunjukkan bahwa luxury brand menggunakan tagar lebih sering dibanding fast fashion, (luxury = 98.3%, fast fashion = 76.6%). Hasil ANOVA juga menunjukkan interaksi signifikan antara kategori brand dan penggunaan tagar, artinya ada perbedaan pengaruh antara kedua kelompok variabel. Polanya konsisten, bahwa pada luxury brand, penggunaan tagar berkaitan dengan peningkatan jumlah likes, sementara pada fast fashion justru menurunkan likes.
Secara lebih rinci, sebagian besar caption menggunakan kombinasi tagar dan caption (97.8%), dan hanya 2.2% yang berisi tagar saja. ANOVA juga menemukan interaksi signifikan, yang menunjukkan bahwa efek format tagar berbeda antara kedua kategori brand. Pada luxury brand, unggahan dengan tagar dan caption memperoleh likes tertinggi, diikuti caption saja, dan unggahan tanpa keduanya. Sebaliknya, pada fast fashion, format caption saja menghasilkan likes tertinggi, diikuti tagar dan caption, kemudian tanpa keduanya, dan tagar saja.
Sebagai tambahan, analisis pola tagar menunjukkan bahwa format yang paling umum jauh adalah tagar dan caption, digunakan pada 97.8% (16.760) dari seluruh unggahan. Hasil ANOVA juga memperlihatkan pola interaksi yang menarik: pada luxury brand, unggahan dengan tagar saja justru menghasilkan likes paling tinggi, kemudian tagar + caption, caption saja, dan tanpa keduanya. Sebaliknya, pada fast fashion, pola terbaik adalah caption saja, disusul tagar dan caption, tanpa keduanya, dan tagar saja.
Selain itu, isi tagar juga dianalisis. Pada luxury brand, 92.9% unggahan menggunakan tagar yang memuat nama brand, diikuti tagar terkait lini produk/koleksi (60.2%), tahun/bulan/tanggal (42.3%), selebriti (40%), dan momen khusus atau musim (35.4%). Sementara itu, fast fashion juga banyak menggunakan tagar nama brand (84.3%), tetapi berbeda dari luxury brand karena lebih menonjolkan tagar terkait look/style (26.6%) dan kategori produk (24.4%) sebagai pola yang paling sering muncul.
Kesimpulan
Hasil penelitian dapat disimpulkan dengan tiga poin berikut:
Dari keseluruhan foto, hanya sekitar 5% yang mencantumkan informasi brand (nama: 5.6%, logo: 5.4%). Informasi tersebut pun cukup kecil, tidak sampai 3% dari total keseluruhan proporsi gambar. Sementara, pengaruh keberadaan informasi tersebut berdampak positif pada luxury brand dan berdampak negatif pada fast fashion. Lebih lanjut lagi, ukuran nama merek berpengaruh negatif pada kedua kategori, sementara ukuran logo hanya berdampak negatif pada merek fast fashion, dan tidak memiliki efek signifikan pada luxury brand.
Terdapat sekitar 50% dari jumlah observasi mencantumkan teks di dalam fotonya. Penggunaan teks ini berpengaruh positif terhadap jumlah likes pada luxury brand dan berpengaruh negatif pada merek fast fashion. Meskipun mayoritas teks secara keseluruhan tidak memiliki pesan promosi, teks dengan pesan promosi ditemukan lebih banyak pada merek fast fashion daripada luxury brand.
Tagar merupakan elemen yang penting yang terdapat pada hampir semua postingan foto, yaitu lebih dari 92%. Tagar juga memiliki pengaruh yang positif terhadap jumlah likes pada kategori luxury brand dan berpengaruh negatif pada kategori fast fashion.
Diskusi dan Pandangan Penulis
Penelitian ini berhasil menunjukkan perbedaan yang jelas antara cara audiens merespons konten luxury brand dan fast fashion di Instagram. Peneliti memperluas konsep brand prominence dengan melihat bagaimana kejelasan identitas merek, seperti logo, nama brand, atau teks, berpengaruh pada engagement untuk dua jenis merek yang sangat berbeda ini.
Dari sisi praktis, penelitian ini menekankan bahwa tidak semua elemen visual cocok dipakai di semua merek. Identitas merek yang terlalu mencolok bisa menurunkan engagement, khususnya untuk fast fashion. Bahkan untuk luxury brand sekalipun, penambahan elemen brand perlu dilakukan secara halus agar tetap terlihat elegan. Selain itu, penggunaan teks di dalam gambar sebaiknya hanya digunakan jika benar-benar diperlukan, misalnya untuk memberi informasi tentang gaya atau desain. Teks promosi yang terlalu eksplisit justru bisa mengurangi minat pengguna. Secara keseluruhan, penelitian ini membantu pemasar memahami bahwa strategi visual harus disesuaikan dengan karakter dan ekspektasi audiens masing-masing jenis merek, bukan diterapkan secara seragam.
Berbagai temuan dari studi ini mendukung realita yang kerap ditemukan di kalangan konsumen Gen Z di Indonesia. Studi yang dilakukan Rahmadianti, Wesnina, dan Zahra (2023) menunjukkan preferensi konsumen terhadap merek dengan brand image yang eksklusif dan high-quality. Secara umum, preferensi terhadap produk luxury brand sebagian besar didasari pada motif penggunaan produk sebagai indikator status sosial. Meskipun begitu, terdapat alasan lainnya seperti ikatan emosional terhadap brand, serta alasan lingkungan di mana fast fashion brand cenderung menumpuk limbah akibat masa pakai produk yang singkat (Zero Waste Indonesia, 2020).
Referensi
Rahmadianti, Y., Wesnina, W., & Zahra, E. L. (2023). Preferensi konsumen pada citra fashion. Pendidikan Tata Busana, Universitas Negeri Jakarta.
Yoo, Jinyoung Jinnie. (2023). Visual strategies of luxury and fast fashion brands on Instagram and their effects on user engagement. Journal of Retailing and Consumer Services.
Zero Waste Indonesia. (2020, 6 Januari). Mengenal fast fashion dan dampak yang ditimbulkan. Zero Waste Indonesia. Diakses dari https://zerowaste.id/zero-waste-lifestyle/mengenal-fast-fashion-dan-dampak-yang-ditimbulkan/Â