You Didn’t Date Them… But Why Does It Feel Like a Real Breakup?
- KANOPI FEB UI
- 5 minutes ago
- 8 min read

"Meskipun terlambat, selamat atas pernikahanmu, Na Hee Do."
Para pecinta K-Drama, terlebih penggemar serial 2521 tentunya sudah tidak asing dengan kutipan legendaris tersebut. Kalimat tersebut dilontarkan Baek Yi Jin pada adegan akhir di mana keduanya telah melanjutkan hidup masing-masing dan memutuskan untuk menerima kenyataan bahwa mereka harus berpisah, meskipun keduanya masih saling mencintai. Seperti kisah Baek Yi Jin dan Na Hee Do, dalam hidup kita sering kali dihadapkan dengan situasi yang mengharuskan kita untuk berpisah dengan mereka yang dicintai dan sudah menjadi bagian besar dari hidup kita, mulai dari pasangan, keluarga, sahabat, hingga hewan peliharaan. Namun, apa jadinya jika kita harus berpisah dengan karakter fiksi favorit yang bahkan tidak dapat kita temui di dunia nyata?
Ketika Hubungan Emosional Terjalin Melalui Layar Kaca
Di samping hubungan sosial yang melibatkan sesama manusia, seseorang juga dapat menjalin ikatan emosional satu arah terhadap karakter media. Hubungan ini dikenal dengan istilah Parasocial Relationship (PSR) dengan karakteristik yang menyerupai hubungan interpersonal di dunia nyata, seperti adanya keintiman dan rasa simpati. PSR umumnya terjadi antara fans dengan artis idola, ataupun antara penonton dengan karakter dalam film dan serial yang ditontonnya. Penonton sering kali merasa mengenal karakter tersebut secara pribadi sehingga PSR yang terjalin dapat bertahan lama, bahkan lebih dari periode tayang film atau serial tersebut. PSR juga umumnya memberikan dampak positif bagi kesejahteraan psikologis penonton, seperti meningkatkan rasa memiliki dan harga diri (Gleich, 1996).
Sama seperti hubungan sosial, PSR juga dapat berakhir. Fenomena tersebut dikenal dengan istilah Parasocial Breakup (PSB). Penelitian terdahulu oleh Cohen (2004) membagi PSB ke dalam 2 jenis: definite PSB dan temporary PSB. Definite PSB (perpisahan pasti) merupakan perpisahan antara penonton dengan karakter media yang bersifat final, umumnya disebabkan oleh berakhirnya pertunjukan, karakter diceritakan meninggal dunia, ataupun karakter dihapus dari cerita. Dalam situasi ini, penonton sudah tidak lagi berkesempatan untuk menonton episode terbaru atau melihat karakter tersebut dalam cerita. Sementara itu, temporary PSB (perpisahan sementara) merupakan kondisi ketika tidak ada episode baru yang dirilis dalam jangka waktu tertentu, namun penonton tahu bahwa karakter atau serial tersebut akan kembali ditayangkan. Fenomena ini kerap terjadi pada serial dengan jadwal tayang musiman. Berdasarkan kedua jenis PSB tersebut, ditemukan bahwa reaksi emosional penonton ketika berpisah dengan karakter media hampir sama dengan reaksi emosional ketika berpisah dengan teman di dunia nyata.
Antara Parasocial Relationship dan Loneliness
Selain karena berakhirnya tayangan, parasocial breakup juga dapat terjadi ketika penonton memutuskan berhenti menonton tayangan. Salah satu penyebabnya adalah ketika aktor terlibat dalam isu skandal atau terbukti melakukan pelanggaran. Alasan lainnya adalah ketika penonton mengalami pertumbuhan pribadi (personal growth), umumnya terjadi ketika anak-anak mengalami masa transisi menuju remaja dan dewasa awal sehingga mulai meninggalkan tontonan kartun favoritnya. Berdasarkan kedua fenomena tersebut, ditemukan bahwa penonton yang memiliki PSR lebih kuat dengan tayangan atau aktor cenderung mengalami kesedihan/stres akibat perpisahan (breakup distress) yang lebih parah ketika dihadapkan dengan perpisahan (Hu, 2016).
Di sisi lain, penelitian terdahulu kerap kali mengasumsikan bahwa orang yang kesepian cenderung menjadikan PSR sebagai pengganti hubungan sosial mereka (Rosengren & Windahl, 1971; Rubin et al., 1985). Rasa kesepian (loneliness) mungkin tidak secara langsung memengaruhi PSR penonton, tetapi dapat berkontribusi terhadap distress yang dialami akibat PSB. Studi oleh Eyal dan Cohen (2006) menunjukkan bahwa penonton yang kesepian cenderung lebih menderita akibat PSB, terlepas dari kekuatan PSR mereka.
Adanya Unsur Ketidakpastian dalam Perpisahan
Jika dalam definite dan temporary PSB penonton sudah mengetahui kelanjutan nasib karakter atau serial yang ditonton, penelitian yang dilakukan oleh Lather and Moyer-Gusé (2011) secara tidak langsung memperkenalkan jenis PSB yang baru, yakni uncertain PSB. Uncertain PSB (perpisahan tidak pasti) memiliki kemiripan dengan temporary PSB, namun yang membedakannya adalah pada uncertain PSB, penonton tidak mengetahui apakah episode terbaru akan diproduksi atau tidak.
Seiring perkembangan teknologi, platform streaming online semakin digandrungi penonton. Fenomena ini diikuti dengan menjamurnya serial musiman yang secara tidak langsung diiringi dengan meningkatnya fenomena uncertain PSB. Ketika episode terakhir suatu musim ditayangkan, seringkali tidak jelas apakah musim baru akan diproduksi. Hal ini terjadi karena perusahaan atau platform yang memproduksi serial tersebut merespons minat penonton terhadap tayangan. Apabila serial sangat diminati oleh penonton dan demand penonton untuk musim berikutnya meningkat, maka besar kemungkinan bahwa rumah produksi akan segera menggarap cerita untuk musim berikutnya.
Dengan semakin meningkatnya uncertain PSB, lantas bagaimana pengaruh dari ketiga jenis PSB terhadap tingkat breakup distress yang dialami penonton? Apakah hal tersebut juga berkaitan dengan kekuatan PSR atau loneliness? Michelle Möri mencoba menjawab pertanyaan tersebut melalui penelitian yang berjudul Farewell on screen: Uncertainty in parasocial relationships and breakups with fictional media characters
Apa yang Ingin Diteliti dan Bagaimana Mekanismenya?
Penelitian ini menguji tiga hipotesis utama untuk memahami dinamika perpisahan tersebut dengan dua research question:
RQ1: Bagaimana PSR, breakup distress, dan hubungan antara keduanya berbeda untuk ketiga jenis perpisahan (temporary, uncertain, dan definite)?
RQ2: Aktivitas apa saja yang dilakukan penonton untuk mengatasi breakup distress tersebut?
H1: Kekuatan PSR awal secara positif memprediksi tingkat breakup distress.
H2: Rasa kesepian (loneliness) memperkuat hubungan antara PSR dan breakup distress.
H3: Kekuatan PSR penonton sebelum perpisahan meningkatkan breakup distress, yang melemahkan PSR seiring berjalannya waktu.
Studi Pertama
Studi ini berfokus pada RQ1, yaitu melihat bagaimana jenis PSB memengaruhi PSR dan breakup distress, serta menguji H1 bahwa kekuatan PSR awal secara positif memprediksi tingkat breakup distress dan H2 bahwa loneliness memperkuat hubungan antara PSR dan stres perpisahan. Survei online dilakukan dengan sampel independen untuk tiga serial yang dipilih berdasarkan popularitas, genre yang berbeda, keberadaan setidaknya satu musim, dan tanggal rilis musim baru antara Desember 2021 dan Juni 2022. Berdasarkan kriteria ini, pilihannya adalah Emily in Paris (musim kedua, Desember 2021), Bridgerton (musim kedua, Maret 2022), dan Peaky Blinders (musim keenam, Juni 2022).

Untuk setiap serial, survei dilakukan sebanyak dua kali. Survei pertama berlangsung 8–6 minggu sebelum musim baru dirilis. Peserta yang telah menonton musim sebelumnya dari serial tersebut direkrut melalui sistem snowballing dan melalui akun penggemar di media sosial. Survei pertama ini menilai PSR peserta dengan karakter media yang dipilih (Emily, Lady Whistledown, dan Thomas Shelby), tingkat breakup distress, loneliness, dan sosiodemografi mereka. Survei tersebut bertujuan mengobservasi temporary PSB distress karena peserta telah menonton musim sebelumnya dan mengetahui bahwa episode berikutnya akan segera dirilis. Enam minggu berikutnya setelah musim terbaru dirilis, peserta yang telah menontonnya dapat berpartisipasi dalam survei kedua dengan variabel penilaian yang sama seperti pada survei pertama. Survei kedua ini bertujuan mengobservasi uncertain PSB distress untuk penonton serial Emily in Paris dan Bridgerton karena setelah perilisan musim tersebut, tidak diketahui apakah musim berikutnya akan diproduksi. Pengumpulan data dihentikan ketika produser mengumumkan musim berikutnya. Sementara itu, pada penonton Peaky Blinders, definite PSB distress diamati karena sudah terkonfirmasi bahwa tayangan tersebut merupakan menjadi musim terakhir.


Hasil Studi I menunjukkan bahwa semakin kuat ikatan penonton dengan karakter, semakin besar rasa sedih yang dirasakan saat musim berakhir. Temuan ini membuktikan H1 bahwa kekuatan PSR sebelum terjadinya perpisahan memiliki pengaruh positif terhadap tingkat breakup distress. Sementara itu, loneliness terbukti meningkatkan breakup distress (Tabel 1), tetapi dampak signifikan hanya ditemukan pada temporary PSB. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa penonton yang merasa kesepian di dunia nyata akan lebih menderita saat harus menunggu musim baru yang sudah pasti sehingga H2 terbukti sebagian.
RQ1 dijawab pada Tabel 2, di mana ditemukan bahwa jenis PSB tidak signifikan memengaruhi tingkat PSR. Breakup distress yang dialami penonton juga umumnya sama antara temporary dan uncertain PSB, namun definite PSB menghasilkan tingkat kesedihan yang lebih tinggi secara signifikan.
Ketika periode survei kedua dilakukan, serial Emily in Paris dan Bridgerton mengumumkan bahwa musim berikutnya akan segera diproduksi. Hal ini menyebabkan proses pengambilan data terpaksa dihentikan karena PSB yang terjadi sudah termasuk dalam kategori temporary sehingga sudah tidak valid untuk menganalisis uncertain PSB. Akibatnya, ukuran sampel yang diperoleh sangat terbatas dan proporsi sampel cenderung tidak seimbang.
Studi Kedua
Untuk mengatasi keterbatasan di studi pertama, studi kedua dilakukan menggunakan desain yang sama dengan Studi I, tetapi dengan sampel dependen sehingga perkembangan PSR dan breakup distress individu dari waktu ke waktu dapat dianalisis. Hipotesis dan research question yang sama diuji dan diperluas. H3 mengasumsikan bahwa kekuatan PSR penonton sebelum perpisahan meningkatkan PSB distress, yang melemahkan PSR seiring berjalannya waktu. Dengan mengadaptasi perilaku konsumsi media saat ini, RQ2 menganalisis perilaku penonton ketika menghadapi PSB dan bagaimana perbedaannya untuk ketiga jenis PSB.

Pada Studi II, tiga serial dipilih: Emily in Paris (musim ke-3, Desember 2023) untuk menganalisis temporary PSB, Shadow and Bone (musim ke-2, Maret 2023) untuk uncertain PSB, dan Never Have I Ever (musim ke-4 dan terakhir, Juni 2023) untuk menganalisis definite PSB. Setelah musim baru dirilis, partisipasi dalam survei kedua hanya diperuntukkan bagi peserta sampel pertama yang telah menonton seluruh episode musim terbaru. Survei kedua berjalan selama enam minggu setelah perilisan musim baru.

Berdasarkan Tabel 3, diperoleh kesimpulan bahwa kekuatan PSR secara konsisten berpengaruh positif terhadap breakup distress, di mana semakin kuat kedekatan dengan karakter, semakin tinggi tingkat kesedihan yang dirasakan, terutama pada definite PSB. Sementara itu, variabel loneliness tidak menunjukkan pengaruh signifikan baik secara langsung maupun sebagai moderator dalam hubungan tersebut. Dengan demikian, breakup distress yang dialami penonton lebih dipengaruhi oleh kedekatan emosional dengan karakter daripada tingkat kesepian individu sehingga H1 terbukti dan H2 tidak terbukti.

Di samping itu, ditemukan bahwa PSR sebelum perilisan musim terbaru secara konsisten berpengaruh positif terhadap breakup distress pada ketiga jenis PSB. Artinya, semakin kuat PSR, maka semakin tinggi breakup distress yang dialami. Selain itu, PSR awal juga secara langsung meningkatkan PSR setelah perpisahan, menunjukkan bahwa PSR bersifat berkelanjutan. Menariknya, breakup distress justru berperan positif terhadap PSR setelah perpisahan, yang berarti semakin besar kesedihan yang dirasakan, semakin kuat pula hubungan yang dirasakan terhadap karakter di kemudian hari. Temuan ini menunjukkan bahwa rasa sedih karena kehilangan tidak otomatis melemahkan atau menghapus PSR, tetapi justru memperkuat ikatan emosional dengan karakter tersebut seiring berjalannya waktu sehingga H3 terbukti sebagian.

RQ1 kembali dijawab melalui Tabel 5, di mana tidak terdapat perubahan signifikan dalam tingkat PSR pada temporary dan uncertain PSB, namun terjadi peningkatan signifikan pada definite PSB. Sementara itu, breakup distress hanya menurun secara signifikan pada temporary PSB, dan tetap stabil pada dua kondisi lainnya. Temuan ini mengindikasikan bahwa perpisahan yang bersifat final dapat memperkuat keterikatan emosional, sementara kondisi menunggu justru memicu distress yang lebih tinggi sebelum konten baru dirilis.

RQ2 juga turut dijawab melalui Tabel 6, di mana aktivitas yang paling umum dilakukan penonton setelah mengalami PSB adalah menonton serial lain. Sebaliknya, aktivitas rewatch episode lama menunjukkan persentase terendah, mengindikasikan bahwa pemulihan dari PSB lebih banyak dilakukan melalui distraksi media dibandingkan dengan mengulang tontonan lama.
Kesimpulan
Penelitian ini menunjukkan bahwa parasocial relationships (PSR) merupakan faktor utama penentu respons emosional penonton terhadap parasocial breakups (PSB), baik yang bersifat temporary, uncertain, maupun definite. Semakin kuat kedekatan penonton dengan karakter, semakin tinggi tingkat kesedihan (distress) yang dirasakan saat hubungan tersebut terputus sehingga hipotesis utama (H1) terbukti konsisten. Sebaliknya, faktor loneliness tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan sehingga tidak menjadi faktor kunci dalam menjelaskan distress. Temuan penting lainnya adalah bahwa breakup distress tidak melemahkan PSR, tetapi justru dapat memperkuat keterikatan emosional terhadap karakter seiring berjalannya waktu. Ketika menghadapi PSB, penonton cenderung mengatasinya dengan beralih menonton serial baru dibandingkan menonton ulang episode lama.
Diskusi dan Pandangan Penulis
Pada dasarnya, perpisahan, baik dengan karakter fiksi maupun dengan orang terdekat di dunia nyata, merupakan hal yang tidak dapat dihindari. Semakin erat dan harmonis hubungan yang terjalin maka semakin tinggi value dari hubungan tersebut dan semakin besar benefit yang diperoleh. Ketika perpisahan terjadi, kesedihan yang dirasakan tidak hanya disebabkan oleh hilangnya potential benefit, misalnya kehilangan tontonan pengisi waktu luang, tetapi juga perasaan tidak rela bahwa ikatan emosional berharga yang telah terjalin terpaksa harus dihentikan. Di sisi lain, kekuatan suatu hubungan tidak selalu menurun setelah perpisahan, bahkan cenderung meningkat karena adanya perasaan atau keterikatan emosional yang tertinggal dan tidak bisa dihapus begitu saja. Hal ini juga sejalan dengan realita yang kerap terjadi bahwa sesuatu akan dirasa jauh lebih berharga ketika keberadaannya sulit atau bahkan sudah tidak dapat ditemukan. Meski begitu, individu dituntut untuk terus melanjutkan kehidupan sehingga tak jarang pilihan yang diambil adalah dengan beralih ke aktivitas atau hubungan yang baru dengan memori masa lalu yang tetap tinggal sebagai pelajaran dan kenangan berharga. Dengan demikian, hubungan sosial dan reaksi terhadap perpisahan merupakan proses rasional sekaligus emosional individu, di mana pilihan-pilihan yang diambil bertujuan untuk memaksimalkan kesejahteraan dan menghindari hal-hal yang merugikan.
Artikel Asli
Möri, M. (2024). Farewell on screen: Uncertainty in parasocial relationships and breakups with fictional media characters. Poetics, 103, 101874. https://doi.org/10.1016/j.poetic.2024.101874



Comments