Halusinasi yang Bernama Kebenaran
- KANOPI FEB UI
- May 8
- 8 min read

Yang Mutlak Benar Adalah Secara Mutlak Salah
“Ilmu pengetahuan memang harus bisa dibuktikan salah, bila tidak ia berubah jadi dogma.” Sebuah kutipan yang dilontarkan oleh Chatib Basri tentang ilmu pengetahuan. Kutipan ini pun seolah menjadi pengingat yang relevan bagi kita terutama di tengah arus informasi yang kencang. Seringkali, terutama saat melihat kebijakan ekonomi baru yang viral, kebenaran atau kesalahan kebijakan tersebut dianggap mutlak dan tidak ada justifikasi bagi sisi seberangnya. Padahal, ilmu pengetahuan sendiri bukanlah sesuatu yang hitam atau putih. Ilmu adalah hal abstrak yang diciptakan oleh manusia untuk menjelaskan fenomena yang terjadi di sekitarnya, bukan suatu pembuktian nyata tentang apa yang akan terjadi di kemudian hari.
Sesuai dengan yang dikatakan oleh Chatib Basri sebelumnya, pada hakikatnya ilmu itu harus ada pandangan yang bisa membantah isinya. Namun, apakah hal itu sudah sepenuhnya diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari kita? Beberapa mungkin masih menganggap bahwa “kebenaran mutlak” itu ada dan segala bantahan yang ada itu tidak bisa digunakan dalam berpendapat. Kalau kita bedah lagi, bahkan 1 + 1 = 2 itu meskipun secara matematis benar, angka tersebut sebenarnya hanyalah konsep yang dikembangkan oleh manusia dan masih memiliki kemungkinan untuk salah. Contohnya kita anggap 1 gelas air putih ditambah 1 gelas air putih sama dengan 2 gelas air putih. Padahal, bisa saja distribusi air itu berbeda sehingga hasil akhirnya belum tentu 2 gelas air putih, melainkan bisa saja menjadi 300 ml air putih atau semacamnya.
Jika kita kembali pada kondisi orang-orang sekarang, masih banyak orang yang tidak menerima argumen lawan dan beranggapan semua bisa dijelaskan hanya melalui ilmu pengetahuan. Mengambil contoh dari atas, beberapa orang yang mencoba untuk membuka pikiran mereka yang percaya akan kebenaran mutlak kerap dicap sebagai “Buzzer” atau “SDM rendah”. Opini mereka bisa saja sudah menyertai sumber dan semacamnya, tetapi emblem “pembodohan” acapkali tetap dilontarkan. Bukan karena mereka tidak memiliki dasar argumen, melainkan karena pemahaman mereka berbeda dengan lawan bicara mereka.
Dengan cap-cap yang dikeluarkan ini, bisa jadi awal baru untuk mematikan pemikiran kritis dari manusia karena pemikiran-pemikiran terbaik tidak muncul dari persetujuan kolektif satu umat manusia mengenai yang benar dan salah. Tanpa adanya sisi koin yang lain, manusia tidak akan bisa mencapai titik sekarang, titik ilmu pengetahuan sudah berkembang dengan sangat pesat. Hal ini pun menimbulkan suatu pertanyaan menarik, apakah memang ada suatu hal yang bisa disebut sebagai “kebenaran absolut” dan jika tidak, mengapa manusia masih percaya bahwa konsep itu benar adanya?
Saat Peta Membuatmu Tersesat
Banyak manusia beranggapan bahwa ilmu pengetahuan seperti sebuah permainan puzzle yang harus diselesaikan satu per satu. Satu bagian ditaruh dengan benar, tinggal menunggu bagian lain untuk diselesaikan dan begitu kelanjutannya. Padahal jika kita ingin membuat suatu perandaian, permainan monopoli lah yang lebih cocok untuk menggambarkan pengetahuan. Permainan yang tidak hanya memiliki satu langkah tepat dan memiliki banyak kemungkinan dengan ketidakpastian yang prominen.
Ini sejalan dengan salah satu hal yang dikritisi Alfred Korzybski (1933), seorang filsuf amerika, tentang kepercayaan berlebihan terhadap ilmu pengetahuan. Ia bahkan menyebut hal ini sebagai map-territory fallacy atau jika diartikan secara harfiah berarti “kekeliruan peta-teritori”. Saat itu, dia menyatakan bahwa jika orang-orang sudah memiliki peta, mereka sering salah mengartikan bahwa area yang ada di depan mereka sepenuhnya tercatat oleh peta yang mereka miliki di tangan mereka.
Dalam kenyataannya, peta itu hanya deskripsi kasar teritori yang ada. Contohnya, perbedaan skala peta atau detail-detail tempat yang tercatat di dalamnya bisa saja menimbulkan perbedaan yang sangat berkemungkinan menyesatkan kita. Secara konsep, memang peta itulah yang bisa menjadi gambaran kasar suatu area, tetapi itu bukanlah cerminan riil dari apa yang kita hadapi saat kita mengubah pandangan kita ke dunia nyata.
Friedrich Hayek (1945), seorang ekonom, pun dalam papernya yang berjudul The Use of Knowledge in Society ikut membuka suara terhadap apa yang ia anggap sebagai kekeliruan ini terutama dalam konteks ekonomi. Dengan kemajuan ilmu ekonomi kala itu yang sudah mulai menggunakan model dan kuantifikasi matematika, banyak orang mulai menganggap keabsahan dari ilmu ekonomi itu mutlak dan berpikir bahwa masa depan bisa 100% diprediksi lewat model-model ekonomi yang ada. Padahal, model-model itu tidaklah sempurna dan bahkan angka yang muncul itu bisa dibilang hanya menjadi prediksi sementara tentang apa yang akan terjadi di kemudian hari, bukan masa depan yang akan terjadi secara utuh.
Memang, model-model ini membantu dalam memprediksi karena manusia sudah bermain dengan angka dan tidak hanya menebak-nebak. Tapi kalau kita lihat ulang, seluruh permainan angka ini tidak sepenuhnya sejalan dengan apa yang terjadi di kehidupan sehari-hari. Karena dalam ekonomi sendiri banyak sekali faktor eksternal yang bisa mengubah hasil akhir dari perhitungan-perhitungan ini, seperti contohnya saja rasionalitas manusia yang terbatas dan memiliki beberapa sekat natural untuk bisa menjadi sepenuhnya rasional (Simon, 1957).
Ilmu Hanyalah Sebuah Dongeng Anak-anak
Jika tadi ilmu dianggap seperti peta, Rubinstein (2006) mengandaikan model-model dalam dunia ekonomi bagaikan suatu fabel. Pada halaman akhir jurnalnya yang berjudul Dilemmas of an economic theorist, ia menuliskan hal berikut: "Economic models are no more than fables. They are not intended to be a description of reality, but rather a way to explore the logic of human interaction. The danger begins when we start believing that these fables are a manual for running the world”. Maksudnya, model-model dalam dunia ekonomi bukanlah deskripsi dari realita, melainkan hanya untuk mengeksplorasi logika dari interaksi manusia.
Coba bayangkan suatu fabel terkenal, kalau kita cermati apakah fabel itu kebanyakan muncul untuk menunjukkan bahwa binatang dapat berbicara? Tentu tidak. Sangat tidak masuk akal jika itu terjadi dan skenario tersebut menentang segala logika manusia. Kebanyakan fabel ditulis untuk memberikan suatu pelajaran berharga bagi mereka yang membacanya, bukan pedoman hidup untuk manusia. Dengan pemikiran tersebut, hal ini juga berlaku sama dalam memahami pengetahuan ekonomi.
Dalam ekonomi sendiri, kita sering diajari asumsi ceteris paribus, sebuah asumsi yang menyatakan segala hal lain selain yang disebutkan berlaku sama atau tidak berubah. Istilah tersebut saja sebenarnya cukup untuk mengerti bahwa keilmuan ekonomi tidaklah sempurna. Banyak hal yang masih memerlukan asumsi agar teorinya bergerak sementara manusia tidak akan selalu berperilaku sesuai dengan asumsi kita.
Mari kita ambil salah satu contoh model ekonomi, contoh dasar dalam mikro ekonomi yakni dinamika Demand dan Supply dalam suatu pasar. Contohnya, kita diajari kalau para konsumen mengalami kenaikan pendapatan dan barang yang dimaksud adalah barang normal, kurva permintaan agar bergeser ke kanan secara natural. Namun pada realitanya, hal ini tidak selalu terjadi sekalipun itu barang normal. Bisa saja orang memilih untuk menabung atau menggunakan pendapatan ekstra mereka untuk berinvestasi jangka panjang. Ini karena faktor yang mempengaruhi keputusan manusia sangat banyak terutama dari dalam internal mereka masing-masing bahkan hingga kebudayaan dan nilai-nilai yang dianut manusia pun juga menjadi faktor perbedaan pengambilan keputusan ekonomi mereka dalam kesehariannya (Sen, 2002)
Pendapat ini turut didukung oleh Hidalgo (2015) yang mengatakan bahwa informasi yang ada tidak bisa langsung diterjemahkan menjadi cara berperilaku dalam dunia (know hows). Inilah yang menjadi perbedaan mencolok dari ilmu dan kenyataan, bahwa ilmu pada dasarnya adalah sebuah alat untuk mempelajari kenyataan dan kenyataan tidak akan selalu mengikuti pengetahuan yang telah dipaparkan sebelumnya. Seperti sebuah fabel yang menggambarkan interaksi hewan-hewan di hutan, model-model pengetahuan yang diciptakan berfungsi sebagai “dongeng” yang bisa diceritakan dan dipetik pelajarannya.
The Great Leap… Backwards?
Tanpa disadari, kepercayaan mutlak terhadap ilmu pengetahuan bisa berujung fatal di kehidupan tak peduli seberapa sempurna modelnya. Mari kita tarik garis ke belakang dan lihat keadaan China tahun 1959 hingga 1961. Saat itu, China baru saja merdeka dan bertransisi dari negara yang berideologi nasionalisme ke arah komunisme yang dipimpin oleh Mao Zedong. Pada awal tahun 1959, pemerintah China mengeluarkan kebijakan yang sekarang dikenal sebagai The Great Leap Forward atau lompatan besar ke depan. Pemerintah meresmikan keputusan ini dengan harapan bisa menerbangkan ekonomi China dengan cepat. Karena negara itu berbasis pada otoritarianisme, segala opini lain dibantah dan langkah tersebut dianggap sebagai kebenaran mutlak untuk melambungkan ekonomi China (Li & Yang, 2005). Namun, yang terjadi setelahnya tidak sesuai ekspektasi awal dan China terjatuh keras bahkan sebelum mereka bisa melompat.
Inti dari kebijakan The Great Leap Forward adalah diberlakukan sesuatu yang disebut sebagai backyard furnaces atau tungku di halaman rumah. Kebijakan ini ditetapkan searah dengan modelnya Lewis (1954) yang menjelaskan bahwa negara berkembang sangat amat mungkin meraih kemajuan karena masih banyak tenaga kerja yang berprofesi sebagai petani. Maksudnya, para petani ini bisa dialokasikan ulang ke beberapa sektor terutama industrial agar pertumbuhan ekonomi bisa terus terdorong. Oleh karenanya, tungku di halaman rumah ini bertujuan agar petani banyak bermanuver ke arah produsen besi dan baja agar di kemudian hari besi dan baja yang diproduksi bisa digunakan untuk keperluan industrialisasi.
Sayangnya, model tadi kurang mempertimbangkan keterampilan masing-masing pekerja sehingga berujung pada besi dan baja yang dihasilkan dari backyard furnaces ini kualitasnya rendah dan mengandung banyak kotoran. Oleh sebab itu, besi dan baja yang dibuat terbuang dalam jumlah besar dan industrialisasi pun tidak bisa terjadi sesuai ekspektasi pemerintah China kala itu. Selain itu, karena banyak petani beralih pekerjaan, produksi gandum yang saat itu menjadi sumber makanan utama China berkurang 15% hanya dalam satu tahun saja, 1958 dan 1959 (Li & Yang, 2005). Rakyat kelaparan dan banyak sekali nyawa yang hilang akibat kebijakan ini, bahkan angka kematian pada tahun-tahun tersebut diestimasikan mencapai lebih dari 45 juta jiwa (Dikköter, 2010) dalam kurun waktu 3 tahun tersebut.
Sebuah bencana yang disebabkan kepercayaan berlebihan terhadap ilmu pengetahuan, memang tidak selalu terdengar setiap hari, tetapi kasus China ini menjadi salah satu dari sekian bukti bahwa ilmu itu tidak sempurna. Memang kita bisa menggunakan ilmu sebagai acuan, tetapi yang perlu kita sadari adalah bahwa ilmu bukanlah panduan tentang cara kita mengatur dunia. Malahan, akan sangat berbahaya jika kita sepenuhnya bertumpu pada ilmu dan contoh di atas menjadi bukti empiris akan risiko itu.
Tidak Ada Hitam dan Putih, Hanya Gradasi Abu-abu
Pada akhirnya, kita harus sadar bahwa ilmu pengetahuan itu ada bukan hanya untuk dipelajari dan dipahami, melainkan juga untuk dicari kelemahannya agar umat manusia bisa berkembang lebih maju di masa depan. Oleh karena itu, kita harus menyadari bahwa hitam-putihnya pengetahuan itu absen pada praktiknya. Yang ada di dunia ini hanyalah gradasi abu-abu yang bisa lebih terang atau lebih gelap, dan dalam konteks inilah ilmu muncul untuk menjelaskan keabu-abuan fenomena dan menjelaskan bukan apa yang benar dan salah, tetapi yang condong ke benar dan yang condong ke salah.
Maka dari itu, kesadaran kita untuk mengerti bahwa suatu “kebenaran mutlak” dalam wawasan itu tidak ada dan kita harus membuka pikiran kita untuk melihat segala sisi dari suatu gagasan. Melihat dari satu sisi tidaklah cukup, memiliki satu peta tidak akan cukup, yang perlu kita lakukan selanjutnya adalah menggabungkan peta-peta pengetahuan dari segala area agar terciptalah peta baru yang menggambarkan teritori lebih luas dan lebih detail. Jika ada perbedaan dalam isi peta, perbedaan itu ada untuk ditelusuri kembali tempatnya agar peta itu bisa diperbarui konten atau isi nya.
Sebagai manusia, kita sadar bahwa kita hanyalah makhluk kecil lemah yang mengambang di tengah alam semesta. Berabad-abad kita mencoba memahami alam yang mengelilingi kita membuat invensi, membuat riset, dan lain hal sebagainya untuk bisa menggenggam keabstrakan dari alam semesta ini. Sayangnya, alam semesta tidak pernah statis dan saat pengetahuan sudah bertambah, alam semesta tidak akan serta merta mengikuti pemahaman kita.
Manusia beradaptasi, pikiran-pikiran baru muncul untuk merespon berbagai dinamika kehidupan. Ide banyak bermunculan dan diperbarui saat terjadi gejolak atau ketidakcocokan, bukan karena kita tahu mana ilmu yang sudah benar dan yang masih salah, tetapi karena akan selalu ada kesalahan dalam semua yang benar. Kesalahan itu bisa kita sadari jika seandainya kita ingin memperluas perspektif kita untuk melihat. Manusia memang memiliki mata yang mengarah ke depan. Namun, jika kita mencoba untuk menggerakkan badan dan memutar pandangan, kita bisa menyaksikan apa yang ada di depan kita, dan segala yang terjadi di sekeliling kita.
Kini, dongeng yang bernama ilmu pengetahuan itu memang sudah sangat berkembang, maka janganlah kita hentikan perkembangannya dengan mempercayai suatu konsep hingga ke titik mutlak. Memang, kita bisa mengambil suatu pelajaran dari dongeng-dongeng yang sudah tertulis, tetapi dongeng itu bukanlah ilustrasi kehidupan secara holistik. Sama seperti binatang yang tidak bisa berbicara, pengetahuan punya ketidaksamaan dengan yang terjadi di dunia nyata. Dongeng yang bernama ilmu pengetahuan ini sama sekali bukan pedoman kita untuk menghadapi realita, dongeng ini hanya datang untuk memberi sedikit percikan air dari lautan besar nan luas yang bernama alam semesta.
Referensi:
Dikötter, F. (2010). Mao's Great Famine: The History of China's Most Devastating Catastrophe,
1958-1962. Walker & Company.
Hayek, F. A. (1945). The Use of Knowledge in Society. The American Economic Review, 35(4),
519-530.
Hidalgo, C. (2015). Why Information Grows: The Evolution of Order, from Atoms to Economies.
Basic Books.
Korzybski, A. (1933). Science and Sanity: An Introduction to Non-Aristotelian Systems and
General Semantics. Institute of General Semantics.
Lewis, W. A. (1954). Economic Development with Unlimited Supplies of Labour. The Manchester
School, 22(2), 139-191.
Li, W., & Yang, D. T. (2005). The Great Leap Forward: Anatomy of a Central Planning Disaster.
Journal of Political Economy, 113(4), 840-877.
Rubinstein, A. (2006). Dilemmas of an Economic Theorist. Econometrica, 74(4), 865-883.
Sen, A. (2002). Rationality and Freedom. Harvard University Press.
Simon, H. A. (1957). Models of Man: Social and Rational. Wiley.



https://keonhacai5.net/ dạo này mình thấy nhiều người nhắc nên cũng bấm vào coi thử cho biết. Mình không đọc sâu đâu, chủ yếu lướt nhanh xem trang nhìn có dễ chịu không. Cảm giác đầu tiên là giao diện khá thoáng, nhìn không bị rối mắt như mấy site hay nhồi chữ. Mấy phần thông tin họ để theo dạng khối rõ ràng nên mình kéo xuống vẫn theo kịp, không phải căng mắt tìm. Mình cũng để ý cái menu đặt khá dễ thấy, chuyển qua lại vài mục nhanh gọn, không phải bấm lòng vòng. Nói chung kiểu trình bày này hợp với người chỉ muốn xem nhanh, vì các bảng/cột dữ liệu nhìn một phát là hiểu…
sun win mình vừa lướt thử vì thấy bạn bè nhắc hoài, kiểu vào xem giao diện có dễ dùng không thôi. Vừa mở lên thấy tiêu đề “cổng game chính thức 2026” đặt khá rõ nên cũng yên tâm là đang ở đúng trang, không phải mò mẫm. Trang này chia nội dung theo từng khối nhìn gọn, kéo xuống là thấy các phần chính hiện ra liền, không bị chữ dồn dập khó đọc. Mình dùng điện thoại nên để ý mấy nút menu, bấm qua lại khá mượt, không phải chờ load lâu hay bị nhảy lung tung. Cảm giác họ làm giao diện theo kiểu hiện đại, nhìn sáng sủa, dễ theo dõi. Nói chung điểm…
1hitclub.io mình ghé thử cho biết vì thấy bạn bè nhắc vài lần, kiểu vào xem giao diện có dễ dùng không thôi. Ấn tượng đầu là bố cục chia thành từng khối khá rõ, nhìn một cái là hiểu chỗ nào là nội dung chính, chỗ nào để bấm chuyển mục. Mình cũng thích cái menu để ngay chỗ dễ thấy nên chuyển qua lại nhanh, không phải kéo lên kéo xuống hay đoán mò. Mấy phần thông tin trình bày gọn, chữ không bị dồn dập nên lướt qua vẫn nắm được ý. Nói chung cảm giác “nhẹ” và đỡ rối hơn nhiều trang mình từng thử, nhất là cách họ sắp xếp các khối nội dung và…
hitclub6.it.com bữa mình thấy bạn bè nhắc nên cũng bấm vào coi thử cho biết thôi. Không phải kiểu vào để chơi hay ngồi đọc hết nội dung đâu, mình chủ yếu xem trang làm có dễ nhìn, dễ tìm thông tin không. Cảm giác đầu tiên là giao diện khá sáng sủa, bố cục gọn nên lướt một vòng không bị ngợp. Mình cũng để ý tốc độ chuyển trang ổn, bấm qua lại mấy mục mà không bị đứng hay chờ lâu. Nội dung thì thấy họ nói nhiều về Hitclub với kiểu giới thiệu tổng quan, nhìn như được sắp theo từng khối nên ai mới vào cũng nắm được ý chính nhanh. Nói chung mình thấy…
rophim hôm trước thấy mấy đứa bạn share nên mình ghé thử cho biết thôi. Vào cái là trang hiện phim khá nhanh, không bị mấy hiệu ứng rườm rà che hết màn hình nên cảm giác đỡ bực. Mình chủ yếu lướt xem có dễ tìm không, thấy họ chia mục nhìn khá rõ, kéo xuống là thấy các khối phim hiện ra gọn gàng chứ không nhồi chữ. Thử mở trên điện thoại cũng ổn, bấm qua lại mượt, không bị giật lag kiểu trang nặng. Có cái mình thích là mấy phim có ghi HD Vietsub nhìn phát biết ngay, khỏi phải bấm từng cái để đoán. Nói chung bố cục kiểu “phim hay cả rổ” đặt…