top of page

King of Parlay or Natural Born Losers ?The  “Experts” Who Actually Sucks

Judul Artikel.    : The Magic of the Game: Experimental Evidence on SportsBetting Behavior

Penulis   : Martin J. Chegere a, Paolo Falco b, Marco G. Nieddu c, Lorenzo Pandolfi d

Tahun Terbit.    : 14 November, 2025

Jurnal.                : Journal of Economic Behavior and Organization

Diulas oleh : Raihan Jihad Kariastanto


Ilusi mengetahui segalanya

Pada bulan Januari, terdapat suatu fans klub sepak bola Eropa yang merasakan euforia sangat tinggi dengan ambisi yang besar. Tim tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah fans Arsenal. Hal ini bermula dari banyaknya pundit dan penggemar sepak bola yang memprediksi bahwa Arsenal akan mendapat Quadruple (4 gelar juara). Namun, seiring berjalannya waktu, quadruple tersebut menjadi treble, double, single, dan saat ini sedang dalam kondisi trouble. Per tanggal 27 Maret, Arsenal sudah tersingkir dari 2 kompetisi dan terancam di posisi kedua Liga Inggris yang berpotensi menghanguskan harapan untuk juara di semua kompetisi.

Dari kasus realita miris fans Arsenal, hal ini menjadi bukti bahwa sepak bola itu sangat dinamis dan tidak dapat ditebak. Sayangnya, ketidakpastian inilah yang sulit dipercaya oleh fans suatu klu akibat rasa kepercayaan diri yang tinggi. Rasa kepercayaan diri inilah yang  menyebabkan penggemar sepak bola di sekeliling kita merasa seolah-olah dapat menganalisa segala hasil dalam pertandingan sepak bola. Kepercayaan diri dalam melakukan analisis ini juga yang  menyebabkan penggemar sepak bola terus masuk ke dalam dunia taruhan olahraga (sports bet). Namun, apakah mereka adalah seorang ahli analisis yang memenangkan segala taruhan atau justru menipu diri sendiri?

Penelitian Martin et al. di Tanzania mungkin dapat menjawab pertanyaan tersebut. Ia melakukan eksperimen terhadap perilaku para pelaku sports betting untuk menjawab apakah keahlian itu nyata atau justru ilusi belaka.

Why Do People Choose Sports Betting?

Industri sports betting merupakan industri dengan perputaran uang yang cukup besar dan pertumbuhan yang pesat. Di Amerika Serikat, lebih dari 60 juta orang dengan perputaran uang 70 juta dollar dalam satu hari. Industri ini menyebar cepat ke seluruh dunia terlebih pada penduduk miskin dengan harapan dapat mengubah nasib. Penelitian menunjukkan bahwa mayoritas penjudi adalah kalangan tidak berkecukupan, dimana 90% berharap untuk menghasilkan uang ketimbang mencari kesenangan. Kendala keuangan terbukti merupakan salah satu faktor penting dalam mendorong seseorang untuk memasuki dunia sports betting. Ketika seseorang membutuhkan likuiditas banyak dari mereka melarikan diri ke sports betting berharap mendapatkan keuntungan. Tidak hanya itu, illusion of controls dalam sports betting dikarenakan anggapan bahwa sports betting merupakan permainan skill-based. Oleh karena itu, hal ini menimbulkan kesan bahwa hasil pertandingan itu pasti, sehingga mengabaikan faktor luck yang juga penting (Lopez-Gonzalez et al. 2020).


Bagaimana Mereka Menaruh Taruhan?

 Penelitian ini berfokus pada penilaian bias dan ekspektasi kemenangan dengan pilihan subjek antara 2 tipe lotre: sports betting vs lotre netral. Lotre netral dalam eksperimen ini menggunakan metode guci, yaitu menaruh 100 bola dengan warna yang berbeda sesuai dengan probabilitas sports betting, dimana dalam penelitian ini digunakan sebagai variabel kontrol. Uniknya, para penggemar taruhan olahraga memiliki kecenderungan “bias pakar” yang unik disetiap jenis olahraga berbeda. Penelitian Snowberg dan Wolfres (2010) menunjukkan bahwa para penjudi pacuan kuda cenderung memilih kuda yang memiliki kemungkinan menang rendah. Di sisi lain, penggemar taruhan sepak bola cenderung menempatkan taruhannya pada tim yang mereka dukung atau tim unggulan dan terlalu optimis terhadap peluang kesuksesan mereka. Terakhir, para penjudi basket cenderung memiliki keyakinan bahwa kesuksesan di masa lalu dapat digunakan untuk memprediksi kesuksesan di masa depan. Bandar taruhan kemudian mengeksploitasi celah bias ini untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Pada penelitian ini, peneliti membahas faktor pendorong maraknya taruhan dan bagaimana petaruh menilai sebuah taruhan sehingga membentuk ekspektasi peluang kemenangan, dimana kemudian dibandingkan dengan lotre yang memiliki peluang identik.


Bagaimana Penelitian Ini Dilakukan ?

 Penelitian dilakukan di Daar es Salaam, kota terbesar di Tanzania. Kota ini dipilih dikarenakan penduduk Daar es Salaam memiliki pendapatan perkapita rendah dan terdapat 2864 pasar judi. Kondisi kota Daar es Salaam dapat membantu peneliti untuk menarget populasi yang relevan yaitu para petaruh aktif.  Sebagai permulaan, para peserta diberikan 10.000 TSh (Tanzania Shillings) setara median pendapatan para partisipan. Uang sebesar 10.000 TSh tersebut harus selalu dimainkan seluruhnya pada setiap laga yang ada. Penelitian ini membagi kategori partisipan ke dalam 6 kelompok sama rata pada Tabel 1. Format taruhan olahraga (sports betting) yang digunakan dalam penelitian ini dibuat sesederhana mungkin. Para peserta cukup memilih satu dari tiga kemungkinan hasil pertandingan, yaitu: kemenangan Tim 1, hasil seri, atau kemenangan Tim 2. Pilihan taruhan tersebut diterapkan pada sampel yang diambil dari tujuh pertandingan Liga Inggris. Untuk menyamakan kemungkinan antara kemungkinan yang terjadi pada sports betting dengan lotre netral peneliti menggunakan metode “lab in the field”. Peneliti mengambil peluang kemenangan pada situs taruhan daring bear pada hari eksperimen pertandingan yang dijadikan sampel. Oleh karena itu, peluang pada situs menyertakan margin keuntungan, peneliti menghitung probabilitas dengan mengambil kebalikan dari odds situs yang disesuaikan agar total peluang sama dengan 1. Odds adalah angka kemungkinan pengganda uang ketika petaruh memilih pilihan tersebut. Lotre netral yang menerapkan sistem guci mereplikasi probabilitas pada sports betting yang sudah dilakukan penyesuaian. Hasil dari taruhan netral akan langsung diumumkan saat pengambilan bola, sedangkan pemenang pada taruhan bola akan diumumkan saat laga berakhir.


Tabel 1


Pada Tabel 1 kita dapat melihat bahwa peneliti membagi 6 kelompok berdasarkan 3 variabel utama, yaitu jenis taruhan, kebebasan memilih, dan pemberian informasi. Pada bagian baris, terdapat pengaturan batas dimensi pilihan yaitu choice  yang memperbolehkan partisipan memilih taruhan sendiri dan no choice dimana peserta tidak diberikan pilihan. Tujuannya adalah untuk melihat apakah terdapat bias dari pilihan atau penilaian subjek terhadap taruhan yang diberikan peneliti. Sementara itu, pada bagian kolom, penulis mengelompokkan berdasarkan jenis taruhan, serta kolom tambahan pada sports betting dimana terdapat petaruh yang diberikan informasi tambahan oleh peneliti dan ada yang tidak. Kolom ini berfungsi untuk melihat apakah kemasan taruhan berbentuk olahraga meningkatkan bias keyakinan, serta apakah memberikan informasi tentang kemungkinan menang pada sports betting memberikan dampak pada penilaian mereka.


Bagaimana Cara Mengukur Pengaruh Bias? Pada penelitian ini terdapat 2 poin utama yang dicari yaitu mengungkap kesetaraan kepastian serta probabilitas subjektif. Untuk mengukur kesetaraan kepastian, peneliti ingin mengetahui valuasi subjektif atau jumlah uang tunai yang dianggap petaruh setara dengan tiket taruhan tersebut. Partisipan diberikan opsi untuk menjual atau tetap memegang tiket taruhan yang dipunya. Peneliti memberikan pilihan harga kepada partisipan dari 2000-20000 Tsh dengan kenaikan 2000 Tsh setiap opsi. Sebagai informasi tambahan 20.000 Tsh merupakan 2 kali dari modal awal partisipan. Sebelum bertaruh, peneliti memberikan daftar harga.Petaruh harus memilih apakah mereka ingin menjual atau mempertahankan tiket tersebut. Setelah itu, peneliti akan menggunakan sistem pemilihan acak komputer dari harga yang ditawarkan. Jika partisipan memilih memegang pada harga tersebut maka mereka dihadapkan dengan kehilangan seluruh modal atau menang setara dengan pengali tersebut. Di sisi lain, jika peserta memutuskan untuk menjual tiket, lotre partisipan akan dibeli dengan harga acak dari komputer. Harga yang muncul akan dibeli apabila sama dengan atau melebihi pilihan harga yang telah ditetapkan oleh partisipan. Kemudian, untuk mengukur probabilitas subjektif, partisipan akan diberi skala slider dari 0-100 mengenai seberapa yakin partisipan kepada seluruh opsi pilihan yang tersedia pada taruhan. Hal ini bertujuan untuk melihat bias antara kelompok sports betting dan lotre dengan nilai peluang yang sama.


Perbedaan Valuasi Dikarenakan Sports Betting

Berdasarkan temuan penelitian, sports betting memiliki nilai tukar pasti yang lebih tinggi dibanding dengan lotre netral, baik pada pilihan bebas maupun pilihan yang ditentukan, meskipun keduanya memiliki peluang objektif yang identik. Dalam menentukan harga jual para partisipan memiliki rentang premium (keuntungan harga)  sebesar 17-54% pada sport bets, sementara lotre netral  hanya 13-48% dari modal awal para petaruh.

Pada penelitian ini, penulis melakukan tes regresi linear untuk mengetahui signifikansi korelasi antara sports betting dengan nilai premium. Berdasarkan Tabel 2, terdapat pengaruh label sports betting  terhadap peningkatan  valuasi harga tiket sebesar 1709 pada partisipan yang memiliki pilihan, sementara yang tidak memiliki pilihan melonjak sebesar 1896 TSH dibanding dengan mereka yang memainkan lotre netral. Tak hanya itu, jika dibandingkan dengan lotre netral pada kolom 5, dapat dilihat perbedaan kontras valuasi dengan nilai objektivitas yang sama sebesar 2629 TSH dibanding dengan lotre netral.

Akan tetapi, lotre netral tidak dapat mengukur keinginan harga jual petaruh diatas 20000, sehingga diperlukannya metode tobit karena mampu menghitung bahwa batas bawah dan akhir bukan merupakan ambang batas. Dengan menggunakan metode tobit, dapat disimpulkan bahwabias ini semakin terlihat, dimana pada kelompok yang dapat memilih meningkat sekitar 2000 TSH dan pada yang tidak memiliki pilihan meningkat hingga 4000 TSH. Hal ini mengkonfirmasi adanya overconfidence dimana petaruh merasa memiliki keyakinan karena merasa memiliki keahlian dibanding lotre netral.

Tabel 2

Signifikansi: p < 0.10; *p < 0.05; ***p < 0.01 


Apakah Benar Terdapat Bias ?

Temuan kedua dari penelitian ini adalah petaruh memiliki tingkat kepercayaan untuk menang yang sangat tinggi dalam sports betting. Dapat dilihat dari Tabel 3 kolom 3 dimana para petaruh memiliki keyakinan untuk menang lebih tinggi sebesar 10,97 poin pada sports betting dibanding lotre netral. Efek bias ini terlihat sangat signifikan dimana p-value ada di tingakat 1% baik di kelompok pilihan dan tanpa pilihan. Efek bias ini juga terlihat pada kolom 1 dan 2  dimana sports betting menaikkan keyakinan mereka secara signifikan. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa terdapat bias sekitar 15 poin lebih besar dari lotre netral sehingga dapat disimpulkan bahwa memang benar terdapat bias keyakinan pada penggemar sepak bola. Meskipun terdapat tanda-tanda keterlibatan kognitif, partisipan yang diberikan informasi tambahan menghabiskan waktu sekitar 90 detik lebih lama untuk mengisi kuesioner, pemberian informasi probabilitas tersebut terbukti tidak mampu mengubah persepsi atau perilaku petaruh secara signifikan. 

Tabel 3

Signifikansi: p < 0.10; *p < 0.05; ***p < 0.01 


Fakta Menarik Penelitian Pada penelitian ini, peneliti berasumsi bahwa para petaruh salah menginterpretasikan kemungkinan menang dalam sports betting sebagai kemungkinan kemenangan tim bertanding. Minimnya literasi juga terbukti dari partisipan yang diberikan panduan tambahan tentang probabilitas. Akan tetapi, justru para partisipan yang diberi informasi tidak menunjukkan perbedaan yang berarti sehingga dapat disimpulkan bahwa pemberian interpretasi kemungkinan objektif berdasarkan odds tidak dapat mengurangi kepercayaan diri berlebihan dari para sports better.


Kesimpulan Esai

Berdasarkan penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa seringkali keyakinan dengan embel-embel analisis hanyalah ilusi belaka yang didorong oleh ikatan emosional atau bias dalam menilai suatu pertandingan. Tidak hanya itu, terkadang faktor seperti minimnya literasi dalam mengambil keputusan juga memperparah bias yang terjadi. Penelitian ini menunjukkan bahwa dalam sports betting, para petaruh sering melakukan valuasi premium yang terlampau  tinggi. Hal ini merupakan sebuah bukti nyata dari optimisme yang mengalahkan logika. Pada akhirnya celah inilah yang dimanfaatkan oleh para bandar dalam meraup keuntungan sebesar-besarnya, terutama dari kalangan menengah bawah yang mencari keuntungan. Membaca statistik, menonton analisa pertandingan sepak bola tidak serta merta menjadikan mereka King of Parlay. Sebaliknya, ketidakmampuan memisahkan objektivitas realistis statistik dengan bias justru menjadikan mereka Natural Born Losers.

Pandangan Penulis

Euforia menonton pertandingan sepak bola saat menonton tim favorit merupakan suatu hal yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Ikatan yang dibentuk dengan suatu klub sepak bola tertentu dalam jangka waktu yang lama akan menimbulkan ikatan yang kuat. Namun, ketika ikatan tersebut digunakan sebagai justifikasi karena merasa “paling mengetahui” tanpa landasan yang kuat disitulah masalah akan timbul. Ibarat seorang penumpang pesawat yang telah terbang ribuan jam bersama maskapai kesayangannya. Ia hafal betul jadwal penerbangan, kenyamanan kursi, hingga rasa makanan yang disajikan. Namun, seberapa sering pun ia terbang, hal itu tidak lantas membuatnya memiliki kapasitas untuk mengambil alih kemudi dari sang pilot atau mendikte cara menghadapi turbulensi. Menikmati perjalanan dengan sepenuh hati adalah satu hal, tetapi menerbangkan pesawat di tengah badai membutuhkan keahlian dan perhitungan yang tidak bisa didapat hanya dari kursi penumpang. Ketika bias yang tidak disadari ini mengambil alih dalam tindakan seputar memenuhi kebutuhan kehidupan sehari-hari dengan menggunakan sports, betting implikasinya dapat berkorelasi negatif seperti pada hasil penelitian yang telah diulas.

Referesni Jurnal:

Chegere, M. J., Falco, P., Nieddu, M. G., Pandolfi, L., & Stein, M. (2025). The Magic of the Game: Experimental Evidence on Sports Betting Behavior. Journal of Economic Behavior & Organization, 240, 107301. https://doi.org/10.1016/j.jebo.2025.107301 


 
 
 

Comments

Rated 0 out of 5 stars.
No ratings yet

Add a rating
bottom of page