What Does Your Playlist Say About You?
- KANOPI FEB UI
- 23 hours ago
- 9 min read

Fenomena di Balik Playlist Kita
“Playlist ini cocok bgt buat kamu nih”. Kalimat seperti itu kerap kita temukan dalam kehidupan sehari-hari ketika berbicara tentang musik. Tanpa sadar, kita sering menghubungkan selera musik dengan identitas seseorang. Orang yang suka indie sering dianggap artsy dan introvert, penikmat jazz dianggap mature dan classy, sementara pecinta metal atau punk sering diasosiasikan dengan pribadi yang ekspresif dan rebellious. Bahkan di media sosial, banyak orang menggunakan musik sebagai bagian dari personal branding mereka, mulai dari lagu yang dipasang di Instagram Notes, playlist Spotify yang dibagikan, hingga konser yang mereka datangi. Hal ini menunjukkan bahwa musik bukan lagi sekadar hiburan, tetapi menjadi sarana untuk menunjukkan siapa diri kita, lingkungan pertemanan seperti apa yang kita miliki, dan vibe seperti apa yang ingin kita tampilkan ke orang lain. Tidak heran jika banyak orang merasa sangat attached dengan lagu atau genre tertentu. Terkadang, ketika fase hidup berubah, selera musik juga ikut berubah, dan menariknya, perubahan itu sering terasa seperti perubahan diri kita sendiri.
Fenomena ini ternyata bukan hanya sekadar perasaan. Sebuah penelitian dalam jurnal The Aesthetic Self (2021) mencoba menjelaskan bagaimana selera musik dan seni dapat menjadi bagian penting dari identitas manusia. Penelitian tersebut menemukan bahwa perubahan preferensi musik dapat membuat seseorang merasa menjadi “orang yang berbeda”, bahkan efeknya bisa terasa hampir sebesar perubahan agama atau pandangan politik.
Bagaimana Kita Mendefinisikan Diri?
Hubungan antara seni, estetika, dan identitas sebenarnya telah lama menjadi pembahasan dalam bidang psikologi, filsafat, maupun sosiologi. Berbagai penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa preferensi estetika memiliki keterkaitan dengan pembentukan kelompok sosial, karakteristik kepribadian, serta nilai-nilai yang dimiliki seseorang. Sebagai contoh, preferensi terhadap genre musik tertentu sering dikaitkan dengan komunitas sosial tertentu (Hebdige, 1979), sementara ketertarikan terhadap karya seni juga kerap diasosiasikan dengan tingkat pendidikan, kelas sosial, maupun karakter individu (Swami & Furnham, 2014).
Meskipun demikian, penelitian mengenai identitas personal selama ini lebih banyak berfokus pada aspek-aspek yang dianggap sebagai inti identitas, seperti ingatan, moralitas, nilai hidup, agama, maupun pandangan politik. Berbagai penelitian terdahulu menunjukkan bahwa perubahan pada aspek-aspek tersebut cenderung dipersepsikan sebagai perubahan terhadap identitas seseorang (Nichols & Bruno, 2010; Strohminger & Nichols, 2014; Prinz & Nichols, 2016). Sebaliknya, preferensi estetika, seperti musik dan seni, lebih sering dipandang sebagai bentuk selera pribadi sehingga belum banyak diteliti sebagai salah satu komponen yang membentuk identitas manusia (Fingerhut et al., 2021).
Peneliti kemudian mengemukakan bahwa terdapat alasan yang cukup kuat untuk mempertimbangkan preferensi estetika sebagai bagian dari identitas personal. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak hanya menggunakan musik dan seni sebagai media hiburan, tetapi juga sebagai sarana untuk membangun citra mereka, menunjukkan keanggotaan dalam kelompok sosial tertentu, serta mengekspresikan nilai dan pengalaman hidup yang dimilikinya.
Berangkat dari kondisi tersebut, penelitian ini mengajukan konsep The Aesthetic Self, yaitu gagasan bahwa preferensi estetika, khususnya dalam bidang musik dan seni, merupakan salah satu komponen yang turut membentuk identitas manusia. Dengan kata lain, perubahan preferensi juga berpotensi memengaruhi bagaimana seseorang memahami dirinya sendiri maupun bagaimana identitasnya dipersepsikan oleh orang lain. Atas dasar tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah perubahan preferensi estetika benar-benar memiliki pengaruh terhadap persepsi identitas seseorang melalui serangkaian eksperimen psikologi.
Self and Diachronic Personal Identity
Untuk memahami mengapa preferensi estetika dapat dikaitkan dengan identitas, peneliti terlebih dahulu membahas konsep diachronic personal identity. Dalam filsafat dan psikologi, konsep ini merujuk pada identitas seseorang yang tetap bertahan meskipun individu tersebut mengalami berbagai perubahan sepanjang hidupnya. Dengan kata lain, konsep ini berusaha menjawab pertanyaan mengenai apa yang membuat seseorang tetap dianggap sebagai "orang yang sama" dari waktu ke waktu.
Selama ini, penelitian mengenai identitas personal juga banyak menyoroti peran moralitas. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa perubahan pada nilai moral, keyakinan agama, maupun pandangan politik sering dipersepsikan sebagai perubahan yang mampu mengubah identitas seseorang. Oleh karena itu, moralitas dipandang sebagai salah satu komponen utama yang membentuk identitas personal atau dikenal sebagai moral self.
Namun, peneliti berpendapat bahwa identitas manusia kemungkinan tidak hanya dibentuk oleh aspek-aspek moral atau rasional. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia juga memiliki keterikatan yang kuat terhadap berbagai bentuk preferensi estetika, seperti musik, seni, maupun produk budaya lainnya. Preferensi tersebut juga berkaitan dengan pengalaman emosional serta nilai-nilai yang dianggap penting dalam kehidupannya. Oleh karena itu, perubahan preferensi estetika mungkin juga dapat memengaruhi persepsi seseorang mengenai identitas dirinya.
Pandangan tersebut sejalan dengan pattern theory of the self, yaitu teori yang menyatakan bahwa identitas manusia tidak dibentuk oleh satu faktor tunggal, melainkan merupakan hasil dari berbagai komponen yang saling berinteraksi, seperti kondisi biologis, pengalaman psikologis, emosi, ingatan, nilai moral, hingga praktik sosial dan budaya. Atas dasar tersebut, penelitian ini berusaha memperluas pemahaman mengenai identitas manusia melalui konsep The Aesthetic Self. Peneliti ingin mengetahui apakah perubahan pada preferensi estetika, khususnya dalam bidang musik dan seni, dapat memengaruhi cara seseorang dipersepsikan sebagai individu yang sama dari waktu ke waktu.
Empat Eksperimen untuk Satu Pertanyaan
Untuk menguji apakah preferensi estetika berperan dalam persepsi identitas, peneliti melakukan serangkaian empat eksperimen yang melibatkan lebih dari seribu partisipan dari Jerman dan Amerika Serikat. Keempat eksperimen tersebut dirancang untuk mengamati bagaimana perubahan pada preferensi estetika memengaruhi penilaian seseorang terhadap identitas individu lain. Meskipun setiap eksperimen memiliki tujuan yang berbeda, seluruhnya menggunakan prinsip yang sama, yaitu meminta partisipan membayangkan suatu perubahan dalam diri seseorang, kemudian menilai apakah individu tersebut masih dipersepsikan sebagai "orang yang sama”.
Pada eksperimen pertama, partisipan diberikan berbagai skenario perubahan dalam kehidupan seseorang, seperti perubahan agama, pandangan politik, pekerjaan, tempat tinggal, aktivitas rekreasi, preferensi makanan, maupun preferensi musik. Setelah membaca skenario tersebut, partisipan diminta menilai sejauh mana perubahan tersebut memengaruhi identitas individu yang dimaksud. Melalui eksperimen ini, peneliti ingin membandingkan apakah perubahan preferensi musik memiliki pengaruh yang sama besar dengan perubahan pada aspek-aspek lain yang selama ini dianggap sebagai inti identitas, seperti moralitas dan agama.
Eksperimen berikutnya dikembangkan untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai hubungan antara preferensi estetika dan identitas. Peneliti menguji apakah tingkat perbedaan antargenre musik memengaruhi besarnya perubahan identitas yang dirasakan. Selain itu, penelitian juga diperluas ke bidang seni visual untuk mengetahui apakah fenomena serupa juga muncul pada bentuk preferensi estetika selain musik. Pada eksperimen terakhir, peneliti bahkan menguji apakah perubahan dari seseorang yang sebelumnya tidak memiliki ketertarikan terhadap seni menjadi sangat peduli terhadap musik, seni, maupun keindahan juga dapat memengaruhi persepsi identitas.
Hasil Penelitian Study 1: Apakah Musik Memengaruhi Cara Seseorang Dipersepsikan?
Setelah mengemukakan konsep The Aesthetic Self, peneliti kemudian mulai menguji apakah preferensi estetika benar-benar memengaruhi cara seseorang dipersepsikan sebagai individu yang sama. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, peneliti melakukan eksperimen berbasis skenario (vignette experiment), yakni dengan meminta partisipan membayangkan seseorang yang mengalami perubahan pada aspek tertentu dalam kehidupannya, kemudian menilai apakah individu tersebut masih merupakan "orang yang sama".
Dalam eksperimen ini, peneliti tidak hanya menguji perubahan pada preferensi musik, tetapi juga membandingkannya dengan berbagai bentuk perubahan lain yang mungkin dialami seseorang. Perubahan tersebut meliputi agama, pandangan politik, pekerjaan, lingkungan tempat tinggal, aktivitas rekreasi, hingga preferensi terhadap makanan. Pendekatan ini dilakukan untuk mengetahui apakah perubahan preferensi musik benar-benar memiliki pengaruh terhadap identitas, atau hanya dipersepsikan sebagai perubahan selera biasa.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan preferensi musik menghasilkan pengaruh yang jauh lebih besar daripada yang diperkirakan sebelumnya. Perubahan musik tidak merupakan perubahan yang berkaitan dengan identitas seseorang. Bahkan, besarnya pengaruh perubahan preferensi musik berada pada tingkat yang hampir setara dengan perubahan agama maupun pandangan politik, dua aspek yang selama ini dianggap sebagai inti identitas manusia. Sebaliknya, perubahan preferensi makanan menghasilkan pengaruh yang jauh lebih kecil terhadap persepsi identitas.Temuan tersebut menjadi bukti awal bahwa tidak semua bentuk preferensi dipersepsikan dengan cara yang sama. Bagi banyak orang, musik juga menjadi bagian dari cara mereka mengekspresikan diri serta membangun citra diri di hadapan orang lain. Oleh karena itu, perubahan preferensi musik cenderung dipersepsikan sebagai perubahan yang lebih mendasar dibandingkan perubahan pada preferensi lain yang tidak memiliki makna sosial maupun emosional yang sama.
Meskipun demikian, hasil dari Study 1 juga memunculkan pertanyaan baru. Jika perubahan preferensi musik memang memengaruhi persepsi identitas, apakah semua perubahan musik menghasilkan dampak yang sama? Apakah perubahan kecil dalam preferensi musik dipersepsikan sama besarnya dengan perubahan yang sangat kontras? Pertanyaan inilah yang kemudian menjadi fokus penelitian pada Study 2.
Study 2: Apakah Semua Perubahan Musik Memiliki Dampak yang Sama?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, peneliti merancang eksperimen kedua dengan pendekatan yang berbeda. Alih-alih hanya membandingkan perubahan musik dengan perubahan pada aspek lain, seperti agama atau politik, peneliti secara khusus mengamati hubungan antara tingkat perbedaan antargenre musik dengan perubahan identitas yang dipersepsikan oleh partisipan. Sebelum melakukan eksperimen utama, peneliti terlebih dahulu memetakan persepsi partisipan mengenai tingkat kemiripan berbagai genre musik menggunakan teknik Multidimensional Scaling (MDS). Teknik ini digunakan untuk mengetahui genre musik mana yang dianggap memiliki karakteristik yang berdekatan dan mana yang dipersepsikan sangat berbeda.
Berdasarkan pemetaan tersebut, peneliti kemudian menyusun berbagai skenario perubahan preferensi musik dengan tingkat perbedaan yang beragam. Sebagian skenario menggambarkan perubahan menuju genre yang masih dianggap mirip, sedangkan skenario lainnya menggambarkan perubahan menuju genre yang memiliki karakteristik estetika yang sangat berbeda. Setelah membaca skenario tersebut, partisipan kembali diminta menilai apakah individu dalam cerita tersebut masih dipersepsikan sebagai "orang yang sama."
Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang konsisten antara jarak estetika (aesthetic distance) dengan persepsi identitas. Semakin besar perbedaan antara preferensi musik awal dan preferensi musik baru seseorang, semakin besar pula kemungkinan individu tersebut dipersepsikan telah mengalami perubahan identitas. Temuan ini memperkuat hasil pada Study 1 sekaligus memberikan penjelasan yang lebih rinci mengenai hubungan antara musik dan identitas. Manusia juga mempertimbangkan tingkat kedekatan maupun perbedaan antarpreferensi estetika ketika menilai apakah seseorang masih merupakan individu yang sama. Semakin besar perubahan yang terjadi, semakin besar pula perubahan identitas yang dirasakan.

Meskipun demikian, seluruh temuan pada dua eksperimen pertama masih berfokus pada musik sebagai bentuk preferensi estetika. Oleh karena itu, peneliti kemudian mengajukan pertanyaan berikutnya. Apakah hubungan antara preferensi estetika dan identitas hanya berlaku pada musik, atau juga dapat ditemukan pada bentuk seni lainnya? Pertanyaan tersebut kemudian menjadi dasar pelaksanaan Study 3.
Hasil Penelitian Study 3 dan 4: Apakah Fenomena Ini Hanya Terjadi pada Musik?
Pada Study 3 ini, peneliti mengganti objek penelitian dari musik menjadi seni visual. Eksperimen dilakukan dengan prosedur yang serupa, yaitu meminta partisipan membayangkan seseorang yang mengalami perubahan preferensi terhadap karya seni. Misalnya, seseorang yang sebelumnya menyukai karya seni bergaya tradisional kemudian berubah menjadi lebih menyukai seni abstrak. Setelah itu, partisipan kembali diminta menilai apakah individu tersebut masih dipersepsikan sebagai "orang yang sama."
Hasil yang diperoleh menunjukkan pola yang konsisten dengan dua eksperimen sebelumnya. Perubahan preferensi terhadap seni visual juga memengaruhi persepsi identitas seseorang. Meskipun besarnya pengaruh tidak selalu sama dengan musik, temuan ini menunjukkan bahwa hubungan antara preferensi estetika dan identitas tidak terbatas pada satu jenis seni saja. Dengan demikian, penelitian ini memberikan dukungan yang lebih kuat terhadap gagasan bahwa preferensi estetika secara umum merupakan salah satu komponen yang berkontribusi terhadap pembentukan identitas personal.
Setelah membuktikan bahwa fenomena tersebut juga berlaku pada seni visual, peneliti kemudian mengembangkan satu pertanyaan baru melalui Study 4. Selama tiga eksperimen sebelumnya, seluruh perubahan yang diamati terjadi pada jenis preferensi estetika yang dimiliki seseorang. Namun, bagaimana jika perubahan yang terjadi bukan sekadar berganti selera, melainkan berubah dari seseorang yang tidak memiliki ketertarikan terhadap estetika menjadi seseorang yang sangat peduli terhadap musik, seni, maupun keindahan?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, peneliti memperkenalkan konsep Anaesthetic Self Effect. Berbeda dengan eksperimen sebelumnya, penelitian ini berfokus pada perubahan tingkat kepedulian seseorang terhadap estetika itu sendiri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan tersebut menghasilkan pengaruh terhadap persepsi identitas yang bahkan lebih besar dibandingkan perubahan preferensi estetika yang diuji pada eksperimen sebelumnya. Artinya, seseorang yang sebelumnya tidak memiliki ketertarikan terhadap musik atau seni, kemudian menjadi sangat peduli terhadap aspek-aspek tersebut, dipersepsikan mengalami perubahan identitas yang sangat kuat.

Rangkaian empat eksperimen tersebut memberikan bukti yang saling melengkapi. Study 1 menunjukkan bahwa perubahan preferensi musik memengaruhi persepsi identitas, Study 2 menunjukkan bahwa besarnya perubahan identitas dipengaruhi oleh jarak estetika antarpreferensi, Study 3 memperluas temuan tersebut ke bidang seni visual, sedangkan Study 4 menunjukkan bahwa ketertarikan terhadap estetika itu sendiri juga merupakan bagian penting dari identitas seseorang. Hasil penelitian ini memberikan dukungan empiris yang kuat terhadap konsep The Aesthetic Self, yaitu bahwa preferensi estetika merupakan salah satu komponen yang turut membentuk cara manusia memahami dirinya sendiri maupun orang lain.
Mengapa Preferensi Estetika Dapat Memengaruhi Identitas?
Temuan dari keempat eksperimen menunjukkan bahwa perubahan preferensi estetika dapat memengaruhi cara seseorang dipersepsikan sebagai individu yang sama. Namun, peneliti menegaskan bahwa hasil ini tidak berarti musik atau seni secara langsung menentukan identitas seseorang. Sebaliknya, preferensi estetika dipandang sebagai salah satu komponen yang membantu individu memahami dirinya sendiri maupun mengenali identitas orang lain. Hal ini diduga terjadi karena preferensi estetika memiliki keterkaitan yang erat dengan pengalaman emosional, seperti kenangan dan peristiwa penting dalam kehidupan, serta berfungsi sebagai social signal yang merepresentasikan keanggotaan seseorang dalam kelompok sosial tertentu. Oleh karena itu, perubahan preferensi estetika dapat dipersepsikan sebagai perubahan yang lebih mendalam daripada sekadar perubahan selera. Temuan ini juga memperluas penelitian sebelumnya mengenai moral self dengan menunjukkan bahwa identitas personal tidak hanya dibentuk oleh nilai-nilai moral, tetapi juga oleh pengalaman estetika yang berhubungan dengan aspek psikologis, sosial, dan budaya. Oleh karena itu, konsep The Aesthetic Self penting untuk menegaskan bahwa preferensi estetika merupakan salah satu dimensi penting yang selama ini kurang mendapat perhatian dalam memahami identitas manusia.
Pandangan Penulis
Menurut penulis, penelitian ini memberikan perspektif yang menarik karena menunjukkan bahwa preferensi estetika memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar selera pribadi. Dari sudut pandang ekonomi, temuan ini membantu menjelaskan mengapa aktivitas yang berkaitan dengan musik, seni, maupun budaya populer mampu menciptakan nilai ekonomi yang begitu besar. Banyak orang rela mengeluarkan waktu, tenaga, bahkan biaya yang tidak sedikit untuk menghadiri konser, mengoleksi karya seni, atau membeli berbagai produk yang berkaitan dengan identitas yang mereka bangun. Keputusan tersebut terutama bukan didorong oleh manfaat fungsional suatu barang atau jasa, tetapi oleh makna yang melekat pada pengalaman dan identitas yang ingin diekspresikan. Oleh karena itu, penelitian ini mengingatkan bahwa perilaku manusia, termasuk dalam aktivitas ekonomi, didorong juga oleh aspek psikologis, sosial, dan budaya yang membentuk identitas individu.



Comments