top of page

Prokrastinasi: Musuh dalam Selimut yang Kita Undang Sendiri

Judul Artikel  : Present-bias, procrastination and deadlines in a field experiment

Penulis           : Alberto Bisin, Kyle Hyndman

Tahun Terbit  : 2019

Jurnal             : Games and Economic Behavior

Diulas oleh     : Claudia Joy Sabiruddin

 

"Nanti Aja Deh" Kalimat yang Terdengar Familiar?

Pernahkah kamu berencana mengerjakan tugas dari hari Senin, tapi sampai Minggu malam tugas itu masih tergeletak belum tersentuh? Atau mungkin sudah berniat olahraga dari pagi, tapi akhirnya baru terlaksana... tidak pernah? Jika ya, selamat  kamu sedang mengalami apa yang para ahli sebut sebagai prokrastinasi.

Prokrastinasi bukan sekadar kebiasaan malas. Dalam dunia psikologi dan ekonomi perilaku, prokrastinasi didefinisikan sebagai kebiasaan menunda pekerjaan yang seharusnya segera dikerjakan, bahkan ketika penundaan itu merugikan diri sendiri (Schraw et al., 2007). Masalahnya ada di dalam diri kita sendiri, keinginan untuk menikmati kenyamanan saat ini jauh lebih besar daripada disiplin untuk bekerja demi manfaat di masa depan.

Fenomena inilah yang diteliti secara mendalam oleh Alberto Bisin dan Kyle Hyndman dalam artikel mereka yang dipublikasikan di jurnal Games and Economic Behavior pada tahun 2020. Penelitian mereka bukan sekadar membahas teori di atas kertas, melainkan langsung turun ke lapangan dan mengamati perilaku nyata mahasiswa dalam menghadapi tugas dan deadline.

 

Present-Bias: Si Penggoda "Nanti Saja"

Sebelum memahami penelitian ini lebih jauh, ada satu konsep kunci yang perlu kita pahami yakni present-bias atau bias masa kini. Dalam bahasa yang sederhana, present-bias adalah kecenderungan seseorang untuk sangat mementingkan kenikmatan saat ini dibandingkan manfaat di masa depan, bahkan ketika secara logika manfaat masa depan itu jauh lebih besar dan lebih penting.

Bayangkan begini: kamu ditawari dua pilihan. Pertama, kamu bisa menerima Rp100.000 hari ini. Kedua, kamu bisa menerima Rp150.000 seminggu lagi. Secara rasional, pilihan kedua jelas lebih menguntungkan. Tapi banyak orang memilih pilihan pertama, karena uang hari ini terasa lebih nyata dan menggoda daripada uang minggu depan. Inilah present-bias dalam kehidupan nyata.

Dalam konteks prokrastinasi, present-bias membuat seseorang selalu merasa bahwa mengerjakan tugas bisa ditunda karena "sekarang ada hal yang lebih menyenangkan untuk dilakukan." Teori ini secara formal dikenal sebagai β−δ quasi-hyperbolic discounting (Phelps dan Pollak, 1968; Laibson, 1997), di mana β (beta) mencerminkan seberapa besar seseorang mendiskon nilai masa depan akibat godaan masa kini. Semakin kecil nilai beta, semakin kuat present-bias seseorang.

 

Apa yang Ingin Diteliti?

Bisin dan Hyndman ingin menjawab beberapa pertanyaan besar yang relevan untuk siapa saja yang pernah bergelut dengan prokrastinasi:

Pertama: Apakah deadline, baik yang ditetapkan sendiri maupun dari luar benar-benar membantu seseorang menyelesaikan tugas tepat waktu? 

Kedua: Seberapa luas present-bias ada di kalangan mahasiswa? 

Ketiga: Apakah ada mekanisme internal yang bisa membantu seseorang mengendalikan prokrastinasi tanpa perlu intervensi dari luar? 

Keempat: Apa yang membuat seseorang tetap gagal menyelesaikan tugas meskipun sudah menetapkan deadline untuk diri sendiri?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, peneliti merancang sebuah eksperimen lapangan yang langsung melibatkan mahasiswa sebagai subjek, bukan sekadar survei, melainkan pengamatan perilaku nyata dalam kondisi yang mendekati kehidupan sehari-hari.


Bagaimana alur pelaksanaan penelitian ini?

Eksperimen: Mengalfabetkan Kata sebagai "Pekerjaan Rumah"

Penelitian ini dilakukan di New York University, melibatkan ratusan mahasiswa yang diminta menyelesaikan tugas sederhana namun cukup menyita waktu yakni mengurut sejumlah kata secara alfabetis secara daring, seperti pada gambar 1 berikut.

Gambar 1. Contoh Tugas

 Tugas ini dipilih karena tidak membutuhkan keahlian khusus, sehingga perbedaan hasil antar mahasiswa bisa lebih jelas mencerminkan perilaku, bukan kemampuan. Adapun mekanismenya sebagai berikut:

  1. Para mahasiswa dibagi menjadi dua kelompok besar berdasarkan jumlah tugas: Kelompok 1T (satu tugas) dan Kelompok 3T (tiga tugas). 

  2. Masing-masing kelompok kemudian dibagi lagi berdasarkan jenis deadline yang mereka hadapi, tanpa deadline (hanya ada batas akhir eksperimen), deadline yang ditetapkan oleh peneliti (exogenous), atau deadline yang boleh ditetapkan sendiri oleh mahasiswa (endogenous).

Tabel 1. Ringkasan berbagai perawatan dan sesi

  1. Sebelum eksperimen dimulai, para mahasiswa mengisi survei yang mengukur kepribadian mereka seberapa rajin, tepat waktu, terorganisir, dan sabar mereka. 

  2. Setelah eksperimen selesai, mereka juga diminta mengisi survei lanjutan. Data dari survei ini kemudian digunakan untuk mengidentifikasi siapa saja yang memiliki present-bias.

Setiap tugas yang berhasil diselesaikan sebelum deadline diberikan hadiah uang sebesar $15 per tugas untuk kelompok 3T dan $20 untuk kelompok 1T. Mahasiswa bisa mengerjakan tugas kapan saja dalam rentang waktu satu hingga dua minggu, persis seperti kondisi real life dimana kita bebas memilih kapan mulai bekerja.

 

Temuan Utama: 

  1. Deadline Tidak Selalu Menolong!

Inilah bagian yang paling mengejutkan dari penelitian ini. Banyak dari kita percaya bahwa menetapkan deadline adalah cara terbaik untuk melawan prokrastinasi. Ternyata, kenyataannya jauh lebih kompleks dari itu. Pertama, ada permintaan yang kuat untuk menetapkan deadline sendiri. Tabel 2 di bawah ini menunjukkan data lengkap persentase mahasiswa yang memilih menetapkan deadline sendiri di berbagai kondisi eksperimen:

Tabel 2. Data Self-Imposed Deadlines

Dari tabel tersebut terlihat bahwa dalam kelompok 3T mid-semester, sebanyak 61,9% mahasiswa menetapkan deadline sendiri untuk Tugas 1. Namun angka ini menurun di kondisi end-semester yakni 33,3%, menunjukkan bahwa tekanan waktu eksternal juga mempengaruhi keputusan mahasiswa. Namun ada temuan yang mengejutkan yakni deadline tidak meningkatkan tingkat penyelesaian tugas. Bahkan bisa berdampak sebaliknya. Tabel 3 berikut memperlihatkan perbandingan tingkat penyelesaian antar kelompok:


Tabel 3. Ringkasan Statistik Penyelesaian Tugas

Dari Tabel 3, kelompok tanpa deadline (No Deadlines) justru menyelesaikan tugas paling banyak di kelompok 3T, yakni 47,0%, lebih tinggi dari kelompok Exogenous Deadlines (40,6%) maupun Endogenous Deadlines (36,8%). Ini paradoks! Mengapa bisa begitu?

Peneliti menemukan dua alasan utama. Pertama, banyak mahasiswa menetapkan deadline terlalu mepet dengan batas akhir. Ketika waktu yang tersisa sangat sedikit, kesempatan untuk menemukan dan memperbaiki kesalahan sangat terbatas. Dimana disini peneliti mengasumsikan jika ada kesalahan dalam penyelesaian tugas maka dapat dikatakan tugas tersebut tidak terhitung telah diselesaikan. Kedua, mahasiswa yang sudah gagal di satu tugas, hampir dipastikan tidak akan mencoba tugas berikutnya.

 

  1. Present-Bias Ada di Mana-Mana, Tapi Bisa Dikelola!

Dengan menggunakan data survei kepribadian, peneliti mengidentifikasi sekitar 42% mahasiswa sebagai present-bias yakni mereka yang cenderung menunda dan kurang konsisten dalam mengerjakan sesuatu. Mahasiswa yang present-biased biasanya melaporkan diri mereka sebagai kurang teliti (conscientious) dan lebih impulsif.

Temuan yang paling menarik justru ada di kelompok 3T: mahasiswa yang present-biased berhasil mengendalikan prokrastinasi mereka! Dalam kelompok tugas tunggal (1T), mahasiswa present-biased menunjukkan penundaan yang jelas dibanding mahasiswa non-present-biased. Tapi dalam kelompok 3T, perbedaan itu hampir tidak terlihat. Keduanya berperilaku hampir sama.

Mengapa bisa begitu? Peneliti berpendapat bahwa menghadapi tugas yang berulang memicu mekanisme kontrol diri internal, semacam "mode serius" dalam diri seseorang yang aktif ketika kita sadar bahwa ada serangkaian tanggung jawab yang harus diselesaikan secara berurutan. Ini bukan soal deadline dari luar, melainkan soal kesadaran diri yang muncul dari dalam.

 

  1. Partial Naivete: Salah Paham tentang Diri Sendiri

Lalu mengapa mahasiswa tetap menetapkan deadline untuk diri sendiri, padahal dalam kelompok 3T mereka ternyata bisa mengontrol diri tanpa deadline? Peneliti menemukan jawaban menarik yakni  sebagian besar mahasiswa tidak menyadari kemampuan mereka sendiri untuk mengendalikan diri.

Fenomena ini disebut partial naivete yakni kondisi di mana seseorang tahu bahwa dirinya cenderung menunda (sehingga ingin memasang deadline), tapi tidak menyadari bahwa sebenarnya mereka mampu disiplin sendiri ketika menghadapi tugas berulang. Akibatnya, mereka memasang deadline yang sebenarnya tidak perlu dan bahkan deadline itu malah jadi bumerang karena mempersempit waktu untuk bekerja dengan nyaman.

Selain itu, peneliti juga menemukan bahwa mahasiswa terlalu optimis tentang kemampuan mereka. Rata-rata mahasiswa memperkirakan peluang mereka menyelesaikan semua tugas sebesar 83-90%, padahal kenyataannya jauh lebih rendah. Ketika mereka melakukan kesalahan dalam tugas dan gagal, banyak yang menyerah begitu saja alih-alih mencoba lagi.

 

  1. Rasa Menyerah yang Menular

Salah satu temuan paling penting dalam penelitian ini adalah apa yang bisa kita sebut sebagai efek domino menyerah. Tabel 5 dan Tabel 6 berikut memperlihatkan data lengkap tentang upaya mahasiswa dalam menyelesaikan tugas:

Tabel 5. Klasifikasi Upaya Mahasiswa per Tugas

Tabel 6. Transisi Upaya dari Tugas ke Tugas

Dari Tabel 6, terlihat betapa menularnya rasa menyerah dari mahasiswa yang menyerah di Tugas 1, 91,94% tidak mencoba Tugas 2 sama sekali. Dari mereka yang menyerah di Tugas 2, 85,71% tidak mencoba Tugas 3. Sebaliknya, mahasiswa yang berhasil menyelesaikan Tugas 1 memiliki kemungkinan 79,59% untuk menyelesaikan Tugas 2 juga. Ini menggambarkan bahwa keteguhan hati (perseverance) adalah kunci sukses yang sering diremehkan.

 

E. Apa yang Membedakan yang Berhasil dan yang Menyerah?

Peneliti membandingkan karakteristik mahasiswa yang berhasil menyelesaikan semua tugas dengan yang menyerah di tengah jalan. Tabel 7 di bawah ini merangkum perbedaan psikologis antara kedua kelompok tersebut:

 

Tabel 7. Karakteristik Mahasiswa yang Berhasil vs Menyerah

Hasilnya sangat menarik yakni perbedaannya bukan soal seberapa banyak mata kuliah yang diambil atau seberapa besar tekanan akademis yang dihadapi. Perbedaannya justru ada di faktor psikologis. Dari 11 faktor psikologis yang diukur, 7 diantaranya berbeda secara signifikan antara kedua kelompok. Mahasiswa yang berhasil menyelesaikan semua tugas cenderung lebih tepat waktu dalam janji (p=0.003), lebih terorganisir (p=0.000), lebih teliti, dan lebih mampu mengikuti jadwal yang sudah dibuat. Menariknya, faktor-faktor ini berbeda dari faktor yang memprediksi siapa yang akan menetapkan deadline. Artinya, kebutuhan untuk deadline dan kemampuan untuk bertahan sampai akhir adalah dua hal yang berbeda dan berasal dari sumber psikologis yang berbeda pula.

Kesimpulan Penelitian

  1. Present-bias tersebar luas di kalangan mahasiswa (sekitar 42%) dan menjadi salah satu pendorong utama prokrastinasi, terutama dalam tugas tunggal (1T).

  2. Menetapkan deadline baik dari diri sendiri maupun dari luar, tidak otomatis meningkatkan penyelesaian tugas. Dalam kelompok 3T, kelompok tanpa deadline justru menyelesaikan tugas paling banyak (47,0%).

  3. Ketika menghadapi tugas berulang, mahasiswa yang present-biased mampu mengendalikan prokrastinasi mereka melalui mekanisme kontrol diri internal.

  4. Banyak mahasiswa mengalami partial naivete yakni ketika mereka tidak menyadari kemampuan kontrol diri mereka sendiri, sehingga mereka memasang deadline yang tidak perlu dan justru merugikan.

  5. Keteguhan untuk tidak menyerah setelah gagal adalah prediktor kunci keberhasilan menyelesaikan tugas, dan ini adalah sifat psikologis yang berbeda dari present-bias.

 

Sudut Pandang Penulis

Membaca penelitian ini, saya merasa seperti sedang bercermin. Betapa banyak dari kita  termasuk saya sendiri yang dengan penuh keyakinan berkata "Tenang, nanti saya kerjakan," lalu terkejut ketika deadline sudah di depan mata dan pekerjaan belum dimulai. Penelitian Bisin dan Hyndman bukan hanya bicara soal mahasiswa di New York, mereka bicara soal sifat manusia yang universal. Yang paling menyentuh bagi saya adalah temuan tentang partial naivete. Kita sering terlalu keras menghakimi diri sendiri merasa kita adalah prokrastinator parah yang tidak bisa mengerjakan apapun tanpa tekanan dari luar. Padahal, data menunjukkan bahwa ketika kita dihadapkan pada tanggung jawab yang berulang dan berkelanjutan, banyak dari kita ternyata mampu memunculkan disiplin dari dalam diri sendiri. Ini membawa implikasi praktis yang menarik. Di lingkungan akademik Indonesia, misalnya, banyak dosen yang memberikan satu tugas besar dengan satu deadline di akhir semester. Berdasarkan penelitian ini, pendekatan tersebut justru rawan prokrastinasi. Jika tugas dipecah menjadi beberapa bagian kecil dengan proses yang berulang, mahasiswa mungkin akan lebih mampu mengelola diri dan menyelesaikan dengan lebih baik. 

Di sisi lain, temuan bahwa deadline tidak selalu membantu juga perlu dicermati dengan bijak. Ini bukan berarti kita tidak perlu deadline sama sekali, deadline tetap penting sebagai penanda batas waktu. Yang menjadi masalah adalah ketika kita memasang deadline terlalu dekat dengan tenggat akhir, atau ketika kita memasang deadline semata-mata karena panik tanpa mempertimbangkan seberapa realistis waktu yang tersisa. Penelitian ini juga mengingatkan kita bahwa gagal sekali bukanlah akhir dari segalanya. Efek domino menyerah yang ditemukan dalam data seharusnya menjadi peringatan “jangan biarkan satu kegagalan menghabisi semangat untuk tugas-tugas berikutnya”. Kemampuan untuk bangkit setelah gagal yang peneliti sebut sebagai perseverance adalah modal psikologis yang tidak kalah pentingnya dari kepandaian atau kerja keras. Pada akhirnya, prokrastinasi bukan musuh dari luar yang datang menyerang. Ia adalah "musuh dalam selimut" bagian dari diri kita sendiri yang perlu dipahami, bukan diperangi. Dan memahami cara kerja present-bias, partial naivete, dan perseverance adalah langkah pertama untuk menjadi versi diri yang lebih baik yang tidak hanya berencana, tapi juga melaksanakan.



 
 
 

Comments

Rated 0 out of 5 stars.
No ratings yet

Add a rating
bottom of page